banner 728x90

2 Siswi Bangka Bersiap ke USA

banner 468x60

*Sekar : Ibarat Baru Ketapel, Ditarik Mundur untuk Maju Melesat
*Fhatoyya : Tinggalkan Sekolah, Ambil Kesempatan Emas

FA-Dua-Siswi

Sekar Octa Frianti (kiri) siswi SMAN 1 Pemali dan Fathoyya Vya Azzahra (kanan) siswi SMAN 1 Sungailiat bersiap mengikui program pertukaran pelajar antar negara di USA selama 1 tahun. Keduanya akan berada di Amerika selama Agustus 2017 hingga Juli 2018.

belitongekspres.co.id, SUNGAILIAT – Sekar Octa Fianti (16) siswi SMAN 1 Pemali dan Fathoyya Vya Azzahra (16) siswi SMAN 1 Sungailiat terpilih untuk mengikuti program Bina Antar Buaya (KY) KENNEDY LUGAR – YES (Youth Exchange and Study) yang akan berlangsung di negeri Paman Sam, United State of America (USA) pada Agustus 2017 hingga Juli 2018. Keduanya akan meninggalkan tanah air dan tinggal dengan orang tua asuh masing-masing di USA selama 1 tahun kedepan.

banner 300x250

Sekar sapan Sekar Octa Fianti yang merupakan anak pertama dari dua bersaudara pasangan orang tua Suhendro dan Sri Arnizila mengatakan, awalnya ia mendapat info pertukaran pelajar antara negara itu dari alumninya yang telah mengikuti program serupa. Tertarik ikut, ia kemudian coba-coba dan rezeki yang akhirnya bisa membuatnya lolos untuk program KL YES ini.

Saat seleksi KL YES yang juga mengusung misi perdamaian dunia ini, pendaftaran dilakukan lewat chapter (kepengurusan) Palembang karena Babel belum memiliki chapter untuk program tersebut. Ia kemudian membeli pin pendaftaran seharga Rp 50 ribu lalu. Ia mengaku untuk kesulitan sebenarnya tidak terlalu karena prinsipnya akan mudah apabila dimulai dengan niat dan usaha.

“Tahap 1 sampai 3 di Bangka belum terlalu sulit, tetapi pas seleksi nasional baru terasa sulitnya saat lihat temen-temen kita lebih dibandingin kita. Jadi kayak tekanan batin kita melihatnya, padahal tesnya sama. Karena mungkin melihat temen-temen kita berpotensi jadi lebih kayak udah hopeless gitu,” kisah siswi kelas XI MIPA 1 kelahiran Sungailiat, 27 Oktober 2000 ini di Kantor Bappeda Kabupaten Bangka, Selasa (25/7).

Ia berbagi tips, bila mau ikut seleksi seperti KL YES yang terpenting adalah persiapan mental disertai usaha. Kepintaran seperti menguasai Bahasa Inggris hanya pendukung. Ia juga sempat mendapat arahan dari seniornya yang lebih dahulu mengikuti program ini, terutama dari segi resiko waktu 1 tahun cuti sekolah. Penjelasan yang didapat dari seniornya bahwa, mengikuti KL YES walau mesti cuti sekolah sekitar 1 tahun ibarat menjadi ‘batu yang ditarik ketapel’.

“Ibarat ‘batu yang ditarik ketapel’ yang batunya ditarik mundur. Begitu ditarik mundur maka semakin melesat lah kalian melaju di kehidupan. Jadi kalian tidak perlu takut untuk menunda 1 tahun, walau gak ketemu temen lagi. Yang penting kita punya pengalaman lebih lah dari yang lain, kayak punya point plus dibanding yang lain,” jelasnya menirukan arahan senior yang membuatnya semakin yakin untuk ikut KL YES.

Menurutnya, butuh mental untuk memperkenalkan anak bangsa di kancah internasional yang salah satunya lewat ajang KL YES. Ia pun memiliki keinginan mengangkat anak-anak Bangka mempunyai mental kuat dalam berjuang.

Sekar yang akan tinggal di Indianapolis, Indiana, United States? sebenarnya cukup beruntung, karena kakak kelasnya di SMAN 1 Pemali telah pernah ada yang berangkat maka ia tidak terlalu sulit memperoleh dukungan sekolah. Demikian juga keluarga yang awalnya sempat kaget namun setelah diyakini akhirnya setuju serta mendukung mengikuti program tersebut.

Pada kesempatan nanti ia bersama rekannya yang ada 3 orang di Babel akan memperkenalkan budaya Babel. Seperti penggunaan baju adat, kain songket Babel pada kesempatan memperkenalkan Indonesia serta daerah asal. Sekar yang ayahnya seorang petani ikan dan ibu sebagai guru honorer PAUD ini patut diapresiasi karena berniat memperkenalkan kegiatan adat Nganggung, serta soal memberi penjelasan soal timah di Bangka.

“Kami akan mengasih gambaran kepada masyarakat Amerika biar mereka mengerti kalau di Bangka itu walau budayanya masih kental namun tahu modernisasi, sama eperti mereka (Orang Amerika), Bangka tidak terlalu primitif.Karena mereka fikir selama ini Indonesia primitif, padahal Indonesia juga maju, jadi kami membuka pikiran mengenai itu, mengenai Indonesia, masyarakat Bangka dan pariwisata di Babel ini,” terangnya.

Sekar yang akan berangkat bersama 2 siswa lainnya di Babel bersyukur adanya pihak-pihak membantu ia dan teman-temannya. Sejauh ini pemerintahan desa Pemali, PT. Timah, pihak sekolah, PT Tonggak Samudera telah mensupport persiapan menuju ke USA.

“Karena sebetulnya kami bertiga ini bukan orang-orang mampu secara finansial untuk kegiatan ini, untuk persiapan seperti koper keberangkatan dan lainnya kami masih mengirimkan beberapa proposal. Alhamdulillah PT. Timah membantu kami. Kami pesan kepada adik-adik untuk jangan takut mencoba hal baru,” ujar remaja berhijab ini.

Ia pun ingin membuat mental anak-anak Bangka sebagai mental pejuang, pemimpin yang tidak takut akan hal baru dalam mengukir prestasi. Ia pun bermimpi Babel nanti memiliki chapter tersendiri sehingga bisa melibatkan peserta seleksi lebih luas sampai dari daerah Belitung.

Gimana dengan Fathoyya Vya Azzahra?. Fhatoyya sebenarnya sedikit lebih kurang dalam mendapat informasi banyak untuk KL YES. Sebab belum ada alumni SMAN 1 Sungailiat yang ikut kegiatan itu. Ia kemudian tahu setelah browsing di sosmed dan google.

Ia pun sempet bertanya ke teman-temannya apa yang mau ikut.? Lalu ia dan teman-temannya sekitar 10 orang membeli pin pendaftaran bersama peserta dari SMAN 1 Pemali.

“Coba-coba juga awalnya sih, gak yakin karena banyak tahapannya, ‘kok susah ya, pertanyaannya ribet, pengetahuan umum harus luas’. Terus sempat hopeless lihat yang lain, ternyata udah rezekiakhirnya lolos tahap 1,2,3 lalu seleksi berkas dan seleksi nasional. Di nasional lebih parah, kayak tekanan batin lihat dari seluruh Indonesia ada di situ, mereka sangat idealis, pikirannya terbuka, kita cuma apa y, kayak ‘debu’, diem, ternyata udah rejeki,” ceritanya.

Anak kedua dari dua bersaudara pasangan Royade Yasir dan Deviana Agust Putranti ini mengungkapkan, ‘Tekanan’ peserta yang lebih berpotensi ia anggap jauh lebih sulit dibandingkan melewati mengikuti proses tahapan seleksi. Masalah psikologi sangat menjadi hal yang paling ditanya dari penguji karena untuk melihat sejauh mana peserta mampu cepat beradaptasi dengan orang asing.

“Saya bukan orang yang lebih ke teori sebenarnya, lebih praktek. Sempet ada kendala di pengetahuan umum tapi ya udah jawabnya yang tahu aja takut nanti stres tapi rupanya lolos,” ujar siswi kelas XI MIPA1 kelahiran Sungailiat 6 Oktober 2000 ini.

Ia pun mengaku tidak menyesal harus menunda sekolah selama 1 tahun, karena yakin lebih banyak keuntungannya mengikuti program ini. Ia siap untuk tidak bisa lulus bersama teman satu angkatan, namun hikmah lain ia yakini akan mendapat pengalaman baru di luar serta setelah kembali diyakini akan bisa beradaptasi dengan adik angkatan di sekolahnya.

“Kita ‘memilih’ meninggalkan sekolah dari pada meninggalkan kesempatan ’emas’,” sebutnya

Pihak sekolah pun antusias mendukungnya karena Fathoyya menjadi siswi pertama SMAN Sungailiat untuk program ini. Pihak sekolah pun sempat membantu sejak awal mengisi formulis pendaftaran. Sedangkan keluarga yang memang telah terbiasa tinggal berjauhan ia nilai lebih memahami keinginannya.

“Karena seperti ayah tinggal di Lampung, kakak di Surabaya, Fathoyya dan ibu di sini jadi sudah terbiasa. Mereka sudah mengikhlaskan untuk pergi dan didukung katanya kalau memang kamu niat, kamu mau, kamu bisa. Ya udah akhirnya ikut,” kata siswi yang akan tinggal di ?Tumwater, Thurston County, Washington, United States ini.

Ditanya apakah sudah melihat calon tempat tinggalnya di Amerika nanti, Fathoyya tidak ingin mencari tahu dahulu. Ia tidak ingin ada pikiran negatif terkait tidak sesuainya ekpetasi yang dilihat sebelumnya dengan kenyataan nanti setelah tiba di USA. Ia lebih memilih nanti setelah datang baru mencari tahu hal-hal menariknya.

“Misalnya di Amerika orang tahunya patung Liberty, saya tidak mau cari dulu di google. Saya maunya saya cari Liberty dan kalau menarik baru saya lihat. Hanya kalau daerah di Washington kita sudah cari la sedikit di sana, kita kan sudah kontak dengan orang tua asuh di sana, terlebih orang tua asuhnya udah ngasih tau kegiatannya ngapain aja di sana,” tuturnya.

Saat ini ia mempersiapkan bahasa Inggris untuk lebih matang supaya nantinya bisa lebih bagus. ?Ia pun berterimakasih kepada semua pihak yang mendukung, utamanya keluarga dan pihak SMAN 1 Sungailiat. Terkhusus kepada siswa di Babel ia harap ada peserta yang ikut program tersebut di masa mendatang. Selama ini yang ikut tes sering cuma dari Sungailiat, Pemali dan Pangkalpinang.

Walau sudah ada mulai turut serta peserta dari Muntok tahun 2017 ini. Kedepan ia berharap bisa mempromosikan program KL YES ke kalangan siswa SMP untuk bisa memberi motivasi. Diharap dengan persiapan sejak SMP perserta dari Babel nantinya jauh lebih bisa mempersiapkan mental dalam program tersebut.  “Yang terpenting kita ingin mengajak adik-adik dan temen-temen berani keluar dari zona nyaman,” pungkasnya.(trh)

Related Search

banner 468x60
Rate this article!
Tags:
author

Author: