banner 728x90

34 Puskesmas di Babel Terapkan Santun Lansia

PANGKALPINANG – Persoalan kesehatan yang dialami kaum Lanjut Usia (lansia) menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepulauan Bangka Belitung (Babel). Pemprov Babel terus mengoptimalkan layanan buat Lansia di pelayanan tingkat dasar, khususnya Puskesmas dan kelompok Lanjut Usia melalui konsep Puskesmas Santun Lanjut Usia.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Babel, Mulyono Susanto menyampaikan hingga saat ini di Babel sudah 34 puskesmas yang menerapkan program santun lansia ini.

“Hingga tahun 2017, 34 dari 62 puskesmas yang ada di Babel sudah menerapkan program santun lansia ini. Sedangkan puskesmas dengan posyandu lansia aktif sudah mencapai 100 persen, dengan total 533 posyandu di 389 desa,” ungkap Mulyono kepada wartawan di Pangkalpinang, Senin (12/3).

Ia menjelaskan bahwa puskesmas sebagai unit terdepan dalam pelayanan kesehatan diharapkan mampu melakukan upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif tingkat dasar bagi lanjut usia.

“Jumlah lansia enam puluh tahun ke atas di Babel pada tahun 2017 sebesar 118.878 dan yang mendapat pelayanan kesehatan sebanyak 44.362 (39,49 persen). Target nasional tahun 2017 sebesar 35 persen dan target 2018 meningkat menjadi 50 persen,” terangnya.

Menurut Mulyono, layanan prioritas dengan memberikan kemudahan-kemudahan untuk pasien lanjut usia (lansia). Misalnya, pelayanan kesehatan bagi lansia yang sudah memiliki loket khusus, ruang tunggu khusus, poliklinik khusus, dan apotek khusus bagi lansia, pembinaan posyandu lansia.

“Siapkan pegangan khusus untuk memudahkannya saat berjalan. Selain tersedia fasilitas kursi roda, harus ada jalan khusus untuk kursi roda tersebut,” imbuhnya.

Pada dasarnya, penyakit yang diderita lansia jarang dengan diagnosis tunggal, melainkan multidiagnosis. Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2013 sekitar 34,6 persen lansia menderita satu penyakit, 28 persen dengan dua penyakit, 14,6 persen dengan tiga penyakit, 6,2 persen dengan empat penyakit 2,3 persen dengan lima penyakit 0,8 persen dengan enam penyakit dan sisanya dengan tujuh penyakit atau lebih.

“Penanganan kasus penyakit seperti ini tidaklah mudah. Selain multidiagnosis, penyakit pada lansia umumnya merupakan penyakit degeneratif dan kronis. Penanganannya membutuhkan waktu lama dan biaya tinggi sehingga akan menjadi beban yang sangat besar bagi masyarakat dan pemerintah, termasuk bagi program Jaminan Kesehatan Nasional,” urainya.

Mulyono menambahkan, tingginya jumlah populasi lansia menjadi tantangan pembangunan, dan jika tidak ditangani akan berdampak pada masalah kesehatan lansia tersebut.

“Jika tidak ditangani dengan baik, tentunya akan menjadi masalah kesehatan. Diperlukan program pelayanan kesehatan lanjut usia yang terencana dan pembinaan kesehatan pada kelompok pralanjut usia dan lanjut usia sejak dini, salah satunya puskesmas santun lansia,” tutupnya. (fiz)

Related Search

Tags:
author

Author: