banner 728x90

65% Turis Tetap Ingin Nikmati Tradisi Seni Budaya

*Daerah Harus Mampu Kemas Produk TSB agar Berdaya Saing

pariwisata-edisi-20-januari-2017-tetty

Tetty Desiarti Foto : Yudiansyah | BE

TANJUNGPANDAN– Kabupaten Belitung merupakan Kabupaten yang sangat beruntung karena kawasan Tanjung Kelayang sudah ditetapkan sebagai salah satu 10 destinasi prioritas pariwisata nasional. Pemerintah pusat pun melalui Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI terus berupa agar akselerasi pembangunan destinasi pariwisata tersebut dapat dimaksimalkan.

Satu di antaranya upaya Kemenpar RI dengan mendorong pengembangan Destinasi Tradisi dan Seni Budaya (TSB), melalui Asdep Pengembangan Destinasi Wisata Budaya. Pemerintah Daerah Belitung bersama unsur pentahelix pariwisata (akademisi, pelaku bisnis, komunitas, pemerintah, dan media), harus mampu mengemas TSB dengan baik. Sebab, TSB merupakan kegiatan penyumbang terbesar dalam percepatan pembangunan sektor pariwisata di daerah.

Ketua Tim Percepatan Wisata Sejarah dan Religi 2017 Kemenpar RI Tetty Desiarti S,M.Par mengatakan, hampir 65 persen wisatawan mancanegara (wisman) datang ke daerah karena ingin melihat destinasi wisata TSB. Dan, sisanya karena ingin melihat keindahan alamnya.

Oleh karena itu, dibutuhkan koordinasi dan sinkronisasi serta persamaan persepsi agar stake holder (pemangku kepentingan) pariwisata mampu mengemas TSB jadi produk-produk paket wisata yang mempunyai daya saing. Apalagi, Belitung jika sudah menargetkan 500 ribu wisman (wisatawan mancanegara) dan 1,5 juta wisnus (wisatawan nusantara) pada tahun 2019 mendatang.

“Saya yakin itu bisa dilaksanakan kalau unsur pentahelix punya semangat juang yang sama untuk membangun pariwisata,”ungkap Tetty yang menjadi narasumber FGD kegiatan Koordinasi dan Sinkronisasi¬†Pengembangan Wisata Tradisi dan Seni Budaya ini, di Hotel Bahamas, Kamis (19/2) kemarin.

Dalam FGD ini Tetty dan Prof. Dr. Yuwana Marjuka, mengajak semua peserta untuk menginventarisir tiga destinasi wisata TSB di Belitung yang paling banyak dikunjungi dan tidak pernah dikunjungi  wisatawan. Lantas, para peserta dimintai penjelasan terkait alasannya masing-masing, baik keunggulan dan kekurangannya.

Selain itu, para peserta FGD diajak berdiskusi  membahas prioritas masalah pengembangan Destinasi Wisata TSB. Mulai dari pemaketan produk, koordinasi pelaku /stakeholder, pemasaran, dan interpretasi TSB di Belitung.

Dua narasumber tersebut juga mengajak peserta membahas apa yang bisa menjadi daya saing produk destinasi wisata TSB di Belitung. Dari soal harga, jumlah varian/keanekaragaman, SDM (servis) profesional atau amatir, fasilitas hotel dan homestay dan soal kemasan dan pemasaran. (yud)

Related Search

Tags:
author

Author: