banner 728x90

9 Juta Anak Indonesia Alami Stunting, di Beltim….

Konsolidasi dan Edukasi upaya pencegahan dan penanganan Stunting di Kabupaten Beltim.

belitongekspres.co.id, MANGGAR – Kasus Stunting atau pertumbuhan kerdil pada anak-anak di Indonesia cukup tinggi. Stunting yang dialami anak usia 1-5 tahun mencapai 37,5 persen dari total jumlah anak-anak Indonesia atau sekitar 9 juta jiwa.

iklan swissbell

Hal itu diungkapkan Direktur Sinkronisasi Perencanaan Daerah Kemendagri, Eduard Sigalingging disela-sela konsolidasi dan edukasi upaya pencegahan dan penanganan stunting di aula Badan Perencanaan, Pembangunan, Pengembangan dan Penelitian Daerah (BP4D) Kabupaten Beltim, Selasa (9/7) kemarin.

“Stunting itu adalah suatu kondisi fisik anak yang lahir kerdil. Begitu ia terlahir kerdil maka berpengaruh pada organ tubuh yang lain, mungkin otak. Akibatnya nanti 30 tahun yang akan datang maka booming demografi Indonesia ternyata 9 juta anak menjadi generasi bangsa yang stunting,” ungkap Sigalingging.

Menurut Sigalingging, Pemerintahan Presiden Jokowi telah berupaya menangani masalah stunting dengan lebih komprehensif yakni melibatkan semua Kementerian. Upaya tersebut juga dilakukan dengan penanganan secara tematik, holistik, integratik dan spasial.

“Sanitasi yang tidak bagus, air minum yang tidak bagus, ini penyebab-penyebab salah satu stunting. Lingkungan yang tidak sehat, termasuk pola hidup, pola makan,” kata Sigalingging.

“Penyelesaian persoalan stunting tadi harus ada di Dinas Perikanan, ada tidak pencanangan gemar makan ikan, ada perbaikan sanitasi air minum termasuk jamban. Di Indonesia, kaget orang luar negeri ternyata kota-kota juga masih ada. Ini tentu akan berpengaruh pada lingkungan,” imbuhnya.

Sigalingging menyatakan hampir 30 persen stunting terjadi karena faktor genetik. Karenanya, masalah stunting tidak bisa dianggap sepele mengingat waktu penanganan stunting butuh sampai 2 atau 3 generasi.

“Jepang itu 80 tahun, dulu terkenal kecil-kecil dan ternyata sekarang sudah jauh diatas rata-rata mencapai 170 cm,” sebut Sigalingging.

Masih menurut Sigalingging, penanganan stunting harus diikuti oleh intervensi gizi spesifik yang melibatkan Kementerian Kesehatan. Saat ini ada lokus di 160 kota dan 1000 Desa yang masih tinggi kasus stunting.

“Intervensi penanganan stunting juga sudah dituangkan dalam Peraturan Pemerintah nomor 2 tahun 2018 tentang Standar Pelayanan Minimum. Itu ada 5 layanan d Sektor kesehatan seperti menjaga ibu hamil, bayi lahir sampai bertumbuh, ada 5 layanan yang berkaitan langsung dengan stunting. SPM wajib harus diberikan Pemda,” bebernya.

Sementara itu, Kepala BP4D Kabupaten Beltim Bayu Priambodo menyatakan stunting di Kabupaten Beltim belum terlalu mengkhawatirkan. Namun, hal tersebut tidak berarti dibiarkan atau tidak ditangani sama sekali.

“Untuk kondisi stunting, Beltim memang secara data kita belum termasuk zona merah. Namun sesuai arahan bapak Direktur Sinkronisasi Perencanaan Daerah memang diarahkan lebih ke preventif dan pencegahan,” ujar Bayu.

Menurut dia, secara nomenklatur, BP4D memiliki Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia. Stunting menjadi salah satu tematik yang perlu penyiapan data dan penanganan preventif.

“Pembangunan manusia itu kan dari manusia lahir sampai meninggal. Ini sudah kita terapkan melalui tematik, holistik, integratik dan spasial. Kita akan sinergikan data stunting daerah mana saja, dan dilakukan evaluasi sehingga program-program akan tepat sasaran. (msi)

Related Search

author

Author: