banner 728x90

Aan Dorong Terciptanya Sikap Saling Menghargai

Masyarakat Tionghoa yang sedang memanjatkan doa dalam rangkaian ritual sembahyang rebut.

//Ritual Sembahyang Rebut Dipadukan Perayaan HUT RI ke 73

KELAPA KAMPIT – Wakil Bupati Beltim Burhanudin mendorong terciptanya sikap saling menghargai antar agama dan budaya berbeda yang berkembang di Kabupaten Beltim.

Hal tersebut dikatakan Wabup saat menghadiri rangkaian acara ritual sembahyang rebut (Ciet Nyiet Pan) yang diselenggarakan Yayasan Kelenteng Kelapa Kampit, Sabtu (25/8) malam.

“Kegiatan ini kan memang kegiatan budaya, kegiatan masyarakat Tionghoa yang dari tahun ke tahun mereka rayakan, mereka peringati dan bagian dari kepercayaan mereka. Dan kita selaku Pemerintah daerah mendorong, secara nasional memang tidak ada masalah dan saling menghargai,” ungkap Wabup yang akrab disapa Aan.

Menariknya, ujar Aan, ritual sembahyang rebut di yayasan Kelenteng Kelapa Kampit tahun ini dipadukan dengan perayaan HUT RI ke-73, mengangkat tema Kerja Kita Prestasi Bangsa. Aan melihat, masyarakat Tionghoa juga bersyukur atas kemerdekaan dan tetap menjaga persatuan dan kesatuan.

“Dan dalam nuansa hari kemerdekaan, kita menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dalam rangka mengembangkan kebudayaan. Termasuk yang ada di daerah kita, kita harus support. Mereka (masyarakat Tionghoa) berkumpul bersatu merayakan ritual dan silaturahmi diantara mereka,” kata Wabup.

Sementara itu, Ketua Yayasan Kelenteng Kelapa Kampit Kamarudin Muten yang akrab disapa Afa membenarkan bila tahun ini ritual sembahyang rebut dipadukan dengan perayaan HUT Kemerdekaan RI. Menurutnya, penting menghilangkan gambaran adanya nuansa politik pada ritual keagamaan yang boleh didatangi siapa saja dan berbagai kalangan.

Menurutnya, sembahyang rebut merupakan kegiatan ritual yang diselenggarakan secara turun temurun oleh etnis Tionghoa, dan identik dengan ditampilkannya replika patung dewa.

“Kegiatan ini juga merupakan bagian dari perayaan HUT RI ke-73 yang sekaligus kita gelar pada perayaan Chit Nyet Pan. Pada perayaan ini, kita setiap tahunnya akan menghadirkan sebuah replika patung dewa yang dibuat cukup besar, dan dibuat dari bahan baku kayu, bambu dan juga kain, serta kertas warna warni,” paparnya.

Afa menyambung pernyataannya bahwa kegiatan ritual tahunan sembahyang rebut selain untuk menambah amal juga untuk memupuk tali persaudaraan antar etnis Tionghoa. Afa sangat berharap, kedepan Pemda Beltim bisa sinergi, untuk menjadikan Chit Nyet Pan (Sembahyang rebut), sebagai tujuan wisata religi dan budaya.

“Yang pasti, supaya orang kampung (Kelapa Kampit) ini tahu. Ini kan judulnya judul nasional, jangan sampai berpikirnya berfikir politik. Tapi ini sama-sama masyarakat semua bisa semua kompak. Saya juga mau acara ini, ada dua yang ditonjolkan yaitu satu untuk sembahyang rebut satu untuk HUT RI. Ini juga nanti malam tahun baru akan ada acara disini,” harap Afa.

Disebutkan Afa, rangkaian kemeriahan yang diselenggarakan Yayasan Kelenteng Kelapa Kampit berlangsung selama 3 hari. “Satu malam di (kelenteng) Pering, dan dua malam disini. Supaya masyarakat disini hidupnya tenang. Dengan hantu besar kita sembahyang ke dia, supaya tidak ribut dak banyak buat olah. Pernah satu kali, saya lupa, ada kejadian yang membakar separuh toko di pasar kelapa kampit. Maka bakarnya harus hati-hati,” ujar Afa. (msi)

Related Search

Tags:
author

Author: