banner 728x90

AKHIRNYA SAHARUDIN DITAHAN

banner 468x60

belitongekspres.co.id, PANGKALPINANG – Setelah sempat absen dalam pemeriksaan awal, akhirnya tersangka mantan kepala finance, Saharudin Efendi, memenuhi panggilan penyidik Kejaksaan Negeri kota Pangkalpinang kemarin dalam perkara korupsi keuangan Depo Pertamina Pangkalbalam, Pangkalpinang. Pemeriksaan pada Senin keramat tersebut nampaknya tak panjang, tepat pada waktu zohor sekitar pukul 12 WIB Saharudin ditahan. Sebelum digiring ke mobil tahanan, oleh petugas mantan bos Kurniadi, dikenakan dengan rompi tahanan orange nomor 3.

banner 300x250

Tak ada kata-kata pembelaan apapun yang terlontar dari mulut kepala finance Depo Pertamina, Panjang, Lampung. Walau wartawan ramai mencecar soal pencucian uang senilai Rp 7 milyar serta hubungan mesranya dengan Kurniadi. Dengan wajah nampak pucat, dari lantai 2 dia hanya ikuti langkah petugas yang menggiringya menuju mobil tahanan ke penjara Tuatunu Pangkalpinang. “(Soal aliran uang.red) silahkan tanya ke pengacara saya,” tukasnya seraya masuk ke dalam mobil tahanan.

Segendang sepenarian dengan tim pengacara pribadinya yakni Taufik dan Elfisnardi. Mereka yang hanya mengaku dari Taufik dan rekan-rekan yang beralamat di Jambi hanya mengaku belum mau bicara apapun. “Belum bisa komentar apapun. Tapi nanti ke sini lagi (ke Kejaksaan Negeri.red),” tukas Taufik seraya meninggalkan harian ini.

Sementara itu kepala seksi pidana khusus, Samhori, mengatakan penahanan dilakukan untuk ke 2 kalinya dalam kasus ini. Yang pertama Kurniadi seorang pegawai outsourcing selaku bawahan. Hari ini (kemarin.red) penahanan dilakukan kepada Saharudin pegawai Pertamina yang tak lain adalah bos Kurniadi. Peran dari Saharudin sendiri sampai terjadinya korupsi berupa penyerahan password atau user id kepada Kurniadi dalam mengakses sistem keuangan Depo Pertamina Pangkalbalam.

“Berdasarkan pengakuan tersangka dirinya tidak mengetahui terjadinya korupsi, hanya saja dia (Saharudin) memberikan kewenangan sepenuhnya Kurniadi mengakses user Id untuk mengakses segala kebutuhan. Padahal menurut aturan dari Pertamina ini tidak diperbolehkan, ” kata Samhori usai penahanan.

Dalam penanganan penyidikan khusus Saharudin dikatakan Samhori sementara ini berbeda dengan penanganan penyidikan pada bawahanya yakni Kurniadi. Dimana pihaknya belum mengenakan pasal pencucian uang melainkan baru sebatas tipikor semata kepada Saharudin. “(Sementara) pembebanan kerugian negara kepada siapa yang menikmati (Kurniadi.red). Untuk Saharudin belum (diperiksa pencucian uang), kita masih melihat penelusuran dari PPATK,” ucap Samhori.

Sementara itu penyidikan yang dilakukan kepada Kurniadi dimana sudah terlebih dahulu ditahan, menurut Samhori terdapat sebuah rekening bank Australia. Namun sayang nominalnya tidak disebutkan karena menurutnya sedang dalam penelusuran pusat pelaporan dan analisa transaksi keuangan (PPATK). “Penyidik terbatas dalam menelusurinya soal rekening bank, apalagi ada bank Australia. Nanti kemana saja aliran duitnya PPATK yang menelusuri,” tambahnya.

MENELUSUR JEJAK DUGAAN PENCUCIAN UANG KORUPSI DEPO PERTAMINA

RUMAH SAHARUDIN YANG MEGAH

PANGKALPINANG – Kini Kurniadi tak seorang diri lagi mendekam di sel tahanan Tuatunu Pangkalpinang. Dibalik jerugi, bujangan mendadak tajir itu kini sudah ditemani mantan atasanya yang merupakan pegawai Pertamina, Saharudin Efendi. Saharudin baru kemarin ditahan. Lantas siapa sosok Saharudin yang terbilang pegawai sakti pada Depo Pertamina Pangkalbalam kurun 2011 hingga 2016. Walau dia sebagai pimpinan yang paling bertanggung jawab sampai terjadinya kebocoran keuangan fantastis mencapai Rp 7 milyar itu tetapi dia tetap mendapat jabatan strategis di tempat barunya. Berupa jabatan yang sama seperti awal di Depo Pertamina Pangkalbalam yakni sebagai kepala finance Depo Pertamina, Panjang, Lampung.

Baru-baru ini Babel Pos menelusur dugaan jejak-jejak pencucian fulus pria asli Palembang. Setali tiga uang dengan Kurniadi, bos “pengkarunia password” diduga kuat memiliki aset melimpah kurun waktu 5 tahun terakhir khususnya di wilayah Pangkalpinang.

Siang itu, berpagar besi warna hitam nampak seorang ibu separuh baya membuka pintu pagar yang terkunci. Harian ini berkesempatan masuk ke halaman dengan hamparan rumput taman yang tertata rapi nan indah. Terparkir di garasi sebuah mobil Honda Freed, dan nampaknya grasi itu merangkap juga sebagai pangkalan gas elpiji milik Murliana. Murliana tak lain adalah istri dari Saharudin.

Di awal penerimaan Ana –demikian sapaan- saat ditanya-tanya tentang pekerjaan suaminya yang merupakan asli Palembang nampak semangat. Menurutnya suami saat ini masih menjabat sebagai kepala divisi finance di Depo Pertamina Panjang, Lampung. Saharudin menurutnya semenjak pindah tugas ke Lampung pada 2016 sudah jarang balik ke Pangkalpinang karena kesibukan kerja. Terakhir balik kata Ana saat lebaran Idul Fitri. Dan rencana balik kembali untuk berkumpul keluarga pada lebaran kurban.

Disinggung soal pusaran korupsi yang sedang melanda suami, Ana nampak kurang senang. Dia berkelit tidak tahu menahu karena baginya suami adalah orang baik. Selain baik juga sangat mudah bergaul di kota Pangkalpinang sehingga menurutnya banyak pejabat dan orang penting yang kenal akrab.

Dia juga mengaku tak adapat informasi kalau suaminya akan diperiksa sekaligus ditahan sama seperti Kurniadi. Ibu dengan 3 anak yang seluruhnya putri juga mengaku tak tahu kalau suaminya sudah pernah diperiksa oleh jaksa penyidik. “Gak tahu saya soal korupsi itu. Bapak baik-baik saja. Saat ini bapak sedang kerja di Lampung dan jarang pulang,” ujarnya.

Terkait dengan Kurniadi selaku bawahan suami, dia berkilah tak mengenal akrab. Walau diakuinya Kur beberapa kali ke rumahnya yang megah itu. “Tetapi itu hanya sebatas kerja. Saat dia datang juga tak turun dari mobil,” elaknya.

Soal tanah dan rumah sempat diceritakanya, hanya 1 yakni yang ditempati sekarang. Dia juga membantah soal banyaknya tanah dan aset yang dimiliki selama ini. “Gak ada tanah kavling yang kami beli. Cuma ini saja,” ucapnya seraya menunjuk miliknya.

Memandang dari luar halaman rumah sekilas memang keberadaan antar 1 bangunan dengan bangunan lainya terpisah. Tetapi bila jeli akan nampak kawasan tersebut merupakan 1 hamparan tanah seluas sekitar 1 Ha. Terdiri 3 bangunan dengan arsitektur serta penataan seluruh taman dan pagar yang serupa dan mirip. Seperti pagar pembatas sekaligus yang mengelilingi setiap bangunan, bercorak sama separuh tembok dan besi terali. Maka patut diduga seluruh kawasan dan bangunan tersebut dimiliki 1 orang saja.

Dalam satu kawasan tersebut terdapat 3 bangunan dengan kemiripan sama. Yakni bangunan utama dengan rumah megah serta halaman luas tak lain adalah milik Saharudin. Di samping kiri terdapat bangunan agen elpiji 3 kilogram PT CIMM. Samping kiri bangunan utama terdapat bangunan minimalis sepertinya rumah pribadi.

Ana sendiri di penghujung obrolan mengaku sudah cukup lama tinggal di kota Pangkalpinang yakni sekitar 6 tahun. Yang sebelumnya suami bertugas di Pertamina Palembang. 3 anaknya saat ini 1 orang sudah berkeluarga, 1 kuliah dan bungsu sekolah. Dia juga membuka Pangkalan Elpiji 3 kilogram. Sedikit disinggung soal keberadaan PT CIMM, agen besar Elpiji tepat di samping rumahnya dia belum mau bicara.

“Ya ada agen besar elpiji di samping. Kami juga ngambilnya (untuk stok pangkalan.red) di situ. Silahkan lihat di sana,” tukasnya. (eza)

Related Search

banner 468x60
Rate this article!
Tags:
author

Author: