banner 728x90

Angkut Penumpang Pakai Kapal Nelayan, Langgar Aturan

banner 468x60

MANGGAR – Pemakaian kapal nelayan sebagai kapal angkut penumpang dinilai tidak tepat dan melanggar aturan. Sebab, fungsi dan kegunaan kapal harus sesuai dengan izin yang dikeluarkan pihak berwenang.

Pembina Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Beltim, Mentak mengatakan kapal nelayan yang dialih fungsikan sebagai kapal angkut penumpang, jelas melanggar aturan. Selain tidak layak, jenis kapal menentukan standar keselamatan penumpang.

“Saya prihatin, beberapa waktu lalu saat ada camping island, dinas (Budaya dan Pariwisata Beltim, red) menggunakan kapal nelayan sebagai kapal angkut peserta kegiatan camping island. Padahal secara standar maupun kegunaan kapal jelas berbeda. Untuk alasan apapun tidak boleh, kalau kecelakaan di laut siapa yang mau bertanggungjawab,” sesal Mentak saat berbincang dengan harian ini, Sabtu (22/3) kemarin.

banner 300x250

Seharusnya kata Mentak, izin berlayar yang salah prosedur tersebut tidak dilanjutkan pihak terkait. Apalagi, kapal nelayan mengangkut penumpang justru merugikan penumpang itu sendiri.

“Jangan hanya asal angkut dong, gunakanlah kapal yang memang kapal penumpang. Jangan kapal nelayan jadi kapal angkut penumpang,” tegasnya.

Menurut sepengetahuan Mentak, Pemerintah Daerah sudah memiliki kapal wisata yang bisa dijadikan alat transportasi angkut penumpang. Sayangnya, kapal dimaksud justru dibiarkan sandar di pelabuhan ASDP Manggar.

“Tahun 2012 lalu, Pemda Beltim ada pengadaan kapal Azimut yang bernama Cahaya Pelangi. Kalau tidak salah, kapal itu dari awal akan digunakan untuk berbagai keperluan. Salah satunya, sebagai kapal pariwisata, nah kenapa tidak pakai kapal itu, kok malah pakai kapal nelayan,” kata Mentak.

Mentak mengatakan jika kapal Azimut dipergunakan untuk angkut penumpang, pasti akan mendatangkan pendapatan bagi daerah. Apalagi biaya operasional perawatan kapal cukup besar meskipun tidak dipergunakan.

“Kalau pakai kapal pariwisata tentu akan mengurangi biaya operasional kapal itu kan. Dari pada sandar tidak jelas, kan lebih baik digunakan, jadi ada pemasukan. Ini kok malah pakai kapal nelayan,” ulang Mentak dengan nada kesal.

Ia berharap, Pemerintah Daerah tidak berspekulasi mengangkut penumpang menggunakan kapal nelayan. Selain membahayakan penumpang, kapal nelayan jelas bukan untuk penumpang.

“Kalau terjadi lagi, pihak terkait harus dipertanyakan kelayakan maupun izinnya. Sebelum ada korban, kalau sudah terjadi baru semua kalang kabut dan saling mencari kambing hitam, tapi sih jangan sampai terjadi lah, hal hal yang tidak kita inginkan, dan selalu berharap akan kebaikan,” tandasnya. (feb)

Related Search

banner 468x60
Tags:
author

Author: