banner 728x90

Antara Pendidikan Keluarga dan Kasih Sayang

ilustrasi

Oleh: Sadely Ilyas Rahman*
Pensiunan Guru SMA Tanjungpandan

belitongekspres.co.id, PENDIDIKAN keluarga dengan kasih sayang merupakan kata kunci dalam pembentukan karakter atau kepribadian.

Demikian pentingnya kasih sayang dalam pembentukan kepribadian, hingga Nabi Salallahu ‘Alaihiwasallam pernah menyatakan, ”Didiklah anak-anakmu dengan cara bermain-main dan bergurau di tujuh tahun pertama; dengan adab (kehalusan budi pekerti, akhlak) pada tujuh tahun kedua, dengan memperlakukannya sebagai sahabat pada tujuh tahun ketiga, dan setelah itu baru lepaskan mereka mandiri.”

(Muhammad Munir Mursyi, 1986 : 45). Disini Nabi Salallahu ‘Alaihi wasallam telah menempatkan kasih sayang sebagai tahap awal dari pembentukan kepribadian anak manusia.

Sebelumnya Rasulullah Salallahu Alaihiwasallam juga pernah mengungkapkan bagaimana pentingnya kasih sayang itu dalam pendidikan yang dimulai dari lingkungan keluarga.

Bila nilai-nilai kasih sayang ini diterapkan melalui pembiasaan, maka rasa kasih sayang akan mendominasi sikap dan perilaku anak.

Sebab bagaimanapun kasih sayang Ibu sebagai pendidik kodrati adalah kasih sayang yang murni dan tulus. Berangkat dari pemahaman ini, barangkali terasa kurang arif, bila kita menyerahkan sepenuhnya pendidikan budi bekerti secara mentah-mentah diserahkan ke sekolah.

Padahal kita menyadari, jika keluarga merupakan basis utamanya. Demi masa depan generasi muda bangsa ini, maka sudah sepantasnya bila pendidikan karakter ini kita masukkan sebagai agenda penting dalam pendidikan keluarga.

Memang sulit untuk menentukan secara konkret, apakah kasih sayang terhadap anak sudah terpenuhi. Sebab pemahaman terhadap kasih sayang itu sendiri bersifat subyektif.

Terkadang orangtua merasa sudah memberi rasa kasih sayang, tetapi anak-anaknya sama sekali tidak merasa memperoleh kasih sayang itu.

Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan seorang psikolog Dr. Singgih D.Gunarsa (1980), bahwa perasaan tidak cukup disayangi ini akan menimbulkan akibat pada kepribadian anak.

Kasih sayang menyangkut aspek batin yang berhubungan dengan sikap dan perilaku. Sebagai sikap batin, karakter atau watak termasuk unsur kepribadian yang dapat berubah.

Karena sikap merupakan seperangkat rekasi-reaksi afektif terhadap objek tertentu berdasarkan hasil penalaran, pemahaman dan penghayatan individu.

Sikap terbentuk dari hasil belajar dan pengalaman seseorang, dan bukan sebagai pengaruh bawaan seseorang, serta tergantung kepada objek tertentu. Objek sikap ini oleh dr. Mar’at (1982) disebut sebagai “psychological object”.

Ada pihak-pihak yang mengkambinghitamkan sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan lainnya ketika terjadi fenomena kerusakan moral, terutama di tataran anak-anak dan remaja. Disebutlah lembaga-lembaga pendidikan ini tak mampu mencetak manusia berkarakter dan berakhlak mulia.

Padahal jika mau ditelusuri lebih jauh, sesungguhnya pendidikan seorang anak yang paling mendasar adalah apa yang dia dapatkan dari orang tua melalui pendidikan keluarga. Adapun sekolah hanyalah pelengkap, dan pengelolaannya saja.

Peran seorang ibu misalnya, ia diposisikan sedemikian mulia tentu memiliki alasan. Setidaknya, kita bisa analisa bahwa ibulah yang memiliki andil paling besar dalam ‘pendidikan seorang anak’ sejak ia belum terlahir kedunia.

Fakta ilmiah membuktikan bahwa janin yang baru berusia 28 minggu sudah bisa mendengar dan merespons suara ibunya.

Kemudian setelah lahir, Air Susu Ibu alias ASI menjadi penguat ikatan di antara keduanya. Dan, proses-proses selanjutnya semakin memperkuat ikatan tersebut.

Kasih sayang yang alami itu adalah yang bersumber dari “naluri keibuan”. Sebentuk kasih sayang yang penuh ketulusan. Kasih sayang ibu itu terus memberi tak pernah mengharap imbalan apapun.

Kasih sayang didasarkan atas rasa cinta memberi pengaruh yang sangat besar dan luas bagi perkembangan anak. Pemberian kasih sayang yang kontinyu sangat dibutuhkan dalam perawatan anak untuk kesehatan, perkembangan, dan bahkan kelangsungan hidup si anak.

Pembentukan pembiasaan dimaksud sudah berawal dari masa penyusuan. Masa ini memiliki makna ganda dalam pembentukan dasar-dasar kepribadian.

Sebab, (1) penyusuan menyangkut asupan kandungan gizi dan sekaligus status hukumnya. (2) selama masa penyusuan terjadi hubungan batin antara sang ibu dan bayinya tersalurkan.

Hubungan batin ini begitu penting bagi pembinaan kedekatan emosional yang akan memberi pengaruh pada tahap-tahap berikutnya. Bahkan adakalanya terus membekas hingga anak menginjak usia dewasa, bahkan sampai tua.

Pola penyusuan tak dapat dilepaskan dari hubungannya dengan nilai-nilai dasar kasih sayang. Kekurangan kasih sayang orangtua pada masa anak masih kecil disebut “ haus akan cinta primer”.

Kehausan akan cinta primer menyebabkan perubahan tingkah laku, kekurangan respon emosional, dan tidak bisa mengadakan kontak emosional.

Anak yang tidak pernah belajar mencintai dan tidak pernah merasa dicintai ini akan sulit mengadakan hubungan pribadi dengan orang lain.

Pendidikan pada dasarnya adalah sebuah proses pembiasaan. Melalui pembiasaan akan terbentuk sikap dan perilaku yang terpola.

Pola penyusuan merupakan langkah dan tahap awal dari aktivitas “pembiasaan” dan akan memberi dampak bagi pembentukan sikap dan perilaku berikutnya.

Pepatah Melayu mengatakan, “ala bisa karena biasa”, karena demikian kuatnya pengaruh pembiasaan, hingga terkesan sulit diubah.

Ungkapan bisa karena biasa sangat tepat berkaitan dengan penerapan metode ini. Sehingan Imam Al-Ghazali berkata, “Jika anak dibiasakan melakukan hal-hal baik sejak kecil, ia akan tumbuh dalam kebaikan itu dan dampaknya ia akan selamat di dunia dan akhirat.”

Mengenai pengaruh pembiasaan ini Bertrand Russel menyatakan, bahwa setiap kebiasaan buruk yang diperoleh adalah suatu rintangan bagi kebiasaan yang lebih baik, itulah sebabnya maka sangat penting pembentukan pertama kebiasaan di usia dini.

Apabila kebiasaan-kebiasaan pertama itu baik, kesulitan yang tak berkesudahan di kemudian hari dapat dicegah. Lagi pula, kebiasaan yang diperoleh sangat dini akan terasa di kehidupan nanti sebagai naluri; kebiasaan-kebiasaan itu mempunyai cengkeraman yang sama kuat.

Dalam konteks pembiasaan ini, Islam telah mengatur rangkaian pendidikan dalam keluarga Islam secara sistematis. Saat bayi dilahirkan, diperdengarkan ke telinganya kalimat-kalimat tauhid melalui azan dan iqamah.

Dalam prosesi aqiqah dilakukan pemberian nama yang baik, mencukur rambut. Khitan umumnya dilakukan sebelum anak-anak akil baligh.

Tahap berikutnya anak-anak dilatih secara intensif untuk belajar membaca Al-Qur’an, dan belajar mendirikan shalat, dan dilatih berpuasa ketika tiba bulan ramadhan.

Dibiasakan untuk berbuat baik, berbudi pekerti mulia dan berempati terhadap orang miskin. Dibiasakan hormat kepada orang tua atau orang yang lebih tua, dan guru (guru ngaji dan guru sekolahnya). Tahap berikutnya adalah ‘tarbiyah’ yaitu pendidikan dalam pengertian yang lebih luas. Begitu! Wallahu ‘Alam (*)

Related Search

Tags:
author

Author: