banner 728x90

Babel Tangani 30 Kasus Kekerasan Anak

banner 468x60

PANGKALPINANG – Badan Pemberdayaan Perempuan, Keluarga Berencana dan Perlindungan Anak (BPPKBPA) Bangka Belitung (Babel) selama semester pertama 2016 menangani 30 kasus kekerasan terhadap anak. “Kami berharap orang tua untuk mengawasi dan mengontrol pergaulan anak, agar mereka terhindar dari kekerasan dan kejahatan yang dapat merusak masa depan anak,” kata Sekretaris BPPKBPA Babel, Nurhayati, Kamis (21/7).

Ia menjelaskan, kasus kekerasan terhadap anak cenderung mengalami peningkatan. Pada tahun lalu BPPKBPA berhasil menangani 50 kasus. “Diperkirakan kasus kekerasan terhadap ini akan meningkat, karena pada semester I tahun ini sudah mencapai 30 kasus,” terangnya.

banner 300x250

Untuk itu, kata dia, diharapkan pemerintah daerah untuk lebih mengoptimalkan kegiatan sosialisasi pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap anak ini. “Diperlukan upaya bersama untuk menekan kasus kekerasan terhadap anak ini, jika tidak maka kekerasan terhadap anak akan terus terjadi yang akan merusak masa depan generasi penerus bangsa ini,” jelasnya.

Ia mengatakan, dari tujuh kabupaten kota di Babel, kasus yang cenderung terjadi yaitu Bangka Barat. “Di Bangka Barat kerap terjadi kasus kekerasan. Tidak lama ini ada kasus yang memakan korban anak usia 7 tahun diperkosa bapak tirinya, sangat kita sesalkan sekali,” ungkapnya.

Menurut dia, untuk mengantisipasi tingginya kasus kekerasan ini, pemerintah daerah sering melakukan sosialisasi dan turun ke daerah untuk mengimbau masyarakat agar dapat memberi pendidikan yang baik, menerapkan ilmu agama dan cara berpakaian yang pantas sejak dini menurut ajaran Islam. “Pada umumnya pelaku adalah korban terdekat, kita himbau orang tua agar mengawasi anaknya dengan ketat dan tidak percaya pada orang terdekat sekalipun suami,” tandasnya.

Sementara, Asisten Sekda Bidang Administrasi Umum, Sahirman, dalam sambutannya pada kegiatan Advokasi dan Sosialisasi Program Perlindungan Perempuan dan Anak Bagi Lembaga Profesi dan Dunia Usaha yang diselenggarakan BPPKBPA Babel di Hotel Puncak, (21/7), menyebutkan kekerasan terhadap anak merupakan pelanggaran HAM.

“Perempuan dan anak kerap menjadi korban kekerasan dewasa ini oleh sebab itu menjadi perhatian kita semua dalam upaya memberikan perlindungan terhadap mereka dan ini menjadi tanggungjawab kita bersama, baik, pemerintah, aparat penegak hukum, masyarakat dan dunia usaha,“ ujar Sahirman.

Terkait kepedulian pemerintah, aparat penegak hukum, masyarakat dan dunia usaha dalam upaya perlindungan perempuan dan anak ini dikatakan Sahirman bahwa banyak pihak yang telah merespon dengan membentuk gugus tugas pelayanan, seperti Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Pusat Krisis Terpadu (One Stop Crisis Center), Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) yang sudah terbentuk di beberapa rumah sakit, Ruang Pelayanan Khusus (RPK) yang ada di Polda dan Polres.

Kegiatan advokasi dan sosialisasi ini diikuti oleh peserta dari berbagai bidang profesi dan dunia usaha di Babel dengan narasumber berasal dari BPPKBPA Babel dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia.(ant/rb/rel)

Related Search

banner 468x60
Rate this article!
Tags:
author

Author: