banner 728x90

Belajar Memaknai Kemerdekaan

banner 468x60

Oleh : Heriyanto,S.H.I.
Guru PAI SMP Negeri 4 Gantung

Mengawali tulisan ini dengan sebuah ungkapan sarat makna dari sang pendiri bangsa Soekarno “Janganlah melihat ke masa depan dengan mata buta! Masa yang lampau adalah berguna sekali untuk menjadi kaca bengala dari pada masa yang akan datang.” (Soekarno, Pidato HUT Proklamasi 1966).

banner 300x250

Heriyanto

HARI kemerdekaan merupakan momen bersejarah dan momen terpenting bagi suatu bangsa dan negara, termasuk juga bagi Indonesia. Kemerdekaan Indonesia diperoleh melalui perjalanan panjang dan perjuangan yang bermandikan keringat, air mata dan darah. Wajar saja jika seluruh masyarakat Indonesia tidak pernah lupa akan hari kemerdekaan bangsa Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus setiap tahunnya. Tafsir kemerdekaan kadang diartikan berbeda oleh setiap pribadi dan dinilai sesuai dengan ukuran masing-masing orang yang menafsirkan. Bahkan tidak jarang pula diartikan dengan standar material yang semu. Tentu masing-masing kita bisa saja mengungkapkannya sesuai dengan apa yang kita pahami dan kita rasakan sendiri. Bisa jadi merdeka itu ada yang mengartikan seperti yang dirasakan anak-anak kecil di kampung yang mengibar-ngibarkan bendera kesana-kemari menyambut peringatan 17 Agustus-an.

Sebuah renungan yang sangat kontradiksi ketika kisah heroik para pahlawan pada zaman penjajahan kembali teringat. Mereka benar-benar rela mati hanya ingin bangsa ini terbebas dari belenggu kekuasaan para penjajah untuk merebut kata merdeka dan mempersembahkannya untuk kita semua. Tidak peduli seberapa banyak peluru menembus di dada mereka, yang ingin pejuang inginkan adalah kebebasan untuk seluruh rakyat Indonesia. Serapuh dan segoyah apapun Indonesia sekarang, tetap kita harus bangga karena kita sudah terlahir di bangsa yang besar ini. Janganlah jadi generasi yang berkepribadian egois ataupun mementingkan diri sendiri. Sesuai perkataan pemimpin pertama bangsa Indonesia, Ir Soekarno, dalam amanatnya berkata “Apakah kelemahan kita: Kelemahan kita ialah kita kurang percaya diri kita sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain. Padahal kita ini asalnya adalah rakyat gotong royong” (Pidato HUT Proklamasi, 1966).

Kemerdekaan itu universal. Milik semua dan bukan cuma hak eksklusif manusia saja. Kemerdekaan adalah insting alamiah setiap makhluk, paham atau tidak, mereka menginginkannya seperti bayi menuju puting induknya secara naluriah. Sangat ironi, kalau kemerdekaan setiap manusia kadang dirampok manusia lain yang punya hak kemerdekaan yang sama. Namun sayang di Negara yang bernama Indonesia ini, kadang masih kita temukan. 17-an telah menjadi tradisi bagi masyarakat karena selalu diadakan setiap tahunnya. Namun, lomba tujuh belasan merupakan acara yang kurang tepat dan perlu ditinjau ulang. Kegiatan atau perlombaan 17-an sekarang lebih bersifat kompetitif dengan lomba-lomba yang lebih mengedepankan perjuangan diri sendiri. Akan tetapi, lomba seperti itu sudah tidak cocok untuk sekarang ini karena kurang memberi inspirasi. Justru bagi remaja yang kurang mengerti, mereka memaknai kemerdekaan sebagai “kekerasan” sebagaimana para pahlawan yang berjuang dengan fisik melalui peperangan. Di usia kemerdekaan yang berumur 72 tahun ini, sudah bukan waktunya bagi Indonesia untuk berperang atau dengan kekerasan. Lomba-lomba yang dilakukan seharusnya lebih bersifat kolaboratif dimana lebih mengedepankan kepentingan perjuangan bersama atau gotong royong. Seperti misalnya lomba memperindah lingkungan tempat tinggal, mendesign logo HUT RI, lomba debat mengenai permasalahan Indonesia dan lainnya. perlombaan tersebut tersebut dilakukan secara berkelompok dan sangat cocok bagi generasi muda karena dapat menginspirasi mereka.

Selain itu juga dapat melatih diri mereka untuk dapat bekerja sama dengan siapa pun serta membentuk karakter yang lebih baik sehingga tidak ada lagi kasus kekerasan yang terjadi. Sudah waktunya Indonesia untuk berubah dari negara independen menjadi negara yang interdependen. Indonesia harus mampu berperan dalam beragam penyelesaian dunia, sehingga tumbuh menjadi anggota masyarakat dunia yang disegani. Makna proklamasi dan mengisi kemerdekaan sekarang ini bukanlah mengenai perjuangan fisik, kekerasan, dan peperangan lagi. Akan tetapi dengan menjaga perdamaian dan menjadi generasi yang lebih baik dan berkarakter. Tentunya banyak pesan dan makna yang bisa diambil dari momen 17 Agustus ini, mengingat banyaknya hal yang memilukan hati yang sedang melanda Ibu Pertiwi, mulai dari masalah Ketuhanan yang terus diperdebatkan keesaan-Nya, kemanusiaan yang tidak kunjung adil maupun beradab, bangsa Indonesia yang saling mengoyak dan bertengkar, hikmat kebijaksanaan yang tidak lagi dijunjung dalam kerakyatan-permusyarawatan, dan langkanya kesejahteraan sosial yang adil bagi seluruh rakyat Indonesia. Meskipun demikian, beberapa pesan yang bisa dipetik bersama dari acara perayaan ini di antaranya adalah mengenai kekeluargaan, kebersamaan, rasa toleransi dan saling tenggang rasa.

Tidak terasa 72 tahun lamanya, Indonesia terbebas dari belenggu penjajahan. Indonesia menjadi negara yang merdeka sepenuhnya. Namun, tidak semua orang dapat memaknai apa arti proklamasi. Kini setalah 72 tahun Indonesia merdeka, apa yang kita lakukan saat ini, tentu tidak harus mengokang senjata, menghunus bambu rucing, menyusun strategi gerilya. Berbagai hal yang dapat kita lakukan dalam mengisi kemerdekaan. Misalnya bagi pelajar dengan belajar dengan tekun, adalah hal yang paling utama. Tidak semata pendidikan formal tapi banyak sekali media-media pembelajaran yang bisa gunakan untuk mendapatkan ilmu dan mendapatkan pengalaman sebagai kunci kehidupan. Selain itu mengabdikan diri untuk kepentingan sosial adalah pilihan bijak untuk mengisi kemerdekaan. Banyak sekali dunia sosial yang bisa dipilih untuk saling berbagi antar sesama umat manusia terlebih kita ini saudara sebangsa. Melakukan aktivitas bukan semata untuk mengejar materi, tapi untuk kepentingan sesama. Dalam bidang olahraga, mengukir prestasi dengan mengumandangkan Indonesia raya dan mengibarkan bendera merah putih dalam kancah internasional. Dalam dunia wirausaha, semakin sulitnya lapangan pekerjaan dan semakin tinggi kompetisi diperlukan people dengan kapasitas yang mumpuni untuk bisa bersaing dalam dunia karir.

Di satu sisi saat ini semakin gencar pemerintah menggalakkan wirausaha mandiri, bukan mencari pekerjaan tapi mampu menciptakan pekerjaan. Banyak pelajaran yang bisa diambil dalam berwirausaha. Berwirausaha akan mengajarkan bagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik, mengatur segala sesuatunya dengan terstruktur, berani ambil resiko, belajar mandiri, dan lain-lain.***

Related Search

banner 468x60
Rate this article!
Tags:
author

Author: