banner 728x90

Beltim Sambut Program Hibah Pembangunan Sanitasi

Foto bersama Bupati Beltim Yuslih Ihza usai lokakarya di Ballroom The Primiere Hotel Pekanbaru, Kota Riau, Kamis (12/7).

MANGGAR – Pemerintah Kabupaten Belitung Timur menyambut baik program kerjasama Pemerintah Australia yang mendukung Pemerintah Indonesia dalam upaya peningkatan pembangunan infrastruktur air minum dan sanitasi melalui Program Hibah untuk Pembangunan Sanitasi.
Hal itu disampaikan Bupati Beltim Yuslih Ihza dalam lokakarya peminatan program hibah Australia Indonesia untuk pembangunan sanitasi atau Water and Sanitation Hibah serta Australia Indonesia Infrastructure Grant for Sanitation (sAIIG) tahap II wilayah barat yang berlangsung di Ballroom The Primiere Hotel Pekanbaru, Kota Riau, Kamis (12/7). Lokakarya ini dimaksudkan untuk menyampaikan kebijakan dan tatakelola program hibah sAIIG terkait perubahan dan penyempurnaan mekanisme pelaksanaan untuk mencapai 100 persen akses layanan sanitasi,mengidentifikasi kesiapan pemerintah daeah sebagai calon penerima program hibah.
“Pemkab Beltim antusias dan berminat program hibah Australia ini karena bisa membantu melakukan percepatan pembangunan infrastruktur sistem pengelolaan air limbah. Misalnya apabila ada masalah warga yang buang air besar (BAB) sembarang maka dapat diatasi,” kata Yuslih.
Untuk rencana tersebut maka Bupati minta agar pihak OPD terkait seperti Dinas Pekerjaan Umum dan Kepala
Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP4D) untuk mempersiapkan teknis pelaksanaan peminatan program hibah ini.
Sementara itu, Nura Ghaeni selaku pihak kedutaan besar Autralia untuk Indonesia mengungkapkan bahwa pemerintah Australia sangat antusias meneruskan program sAIIG karena program ini sangat memberikan manfaat besar bagi kesehatan dan kebersihan lingkungan masyarakat.
Program hibah ini dilaksanakan melalui penerapan output-based atau berdasarkan kinerja yang terukur, dimana untuk mendapatkan dana hibahnya, pemerintah daerah disyaratkan melakukan investasi terlebih dahulu, melalui penggunaan alokasi APBD.
“Program ini merupakan kerjasama Indonesia dengan Australia dan dilaksanakan berdasarkan pengalaman tahap pertama, dimana telah dilaksanakan di 28 kabupaten/kota yang menyediakan layanan perawatan air limbah domistiknya untuk 22.800 rumah tangga. Hal ini memungkinkan pemda untuk mengendalikan kebutuhan sanitasi mereka sendiri dan mendorong tata kelola pemerintah yang baik dengan memberikan layanan terbaik bagi masyarakat,” ungkap Nura Ghaeni.
Di sisi lain, M. Nasir selaku staf ahli Menteri PUPR mengatakan berdasarkan data Bappenas, rata-rata nasional pencapaian akses sanitasi layak pada akhir tahun 2017 baru mencapai 67,54 persen. Angka tersebut artinya harus ada upaya keras bersama untuk mencapai 100 persen akses sanitasi.
“Dari sekitar seluruh kabupaten kota, baru sebagian yang sudah memiliki sistem pengolahan air limbah domestik terpusat tapi belum beroperasi secara optimal yang disebabkan oleh terbatasnya akses air limbah bagi masyarakat, terbatasnya kapasitas kelembagaan pengelola, belum efektifnya regulasi dan masih terbatasnya pelibatan sektor swasta dan masyarakat dalam penyediaan dan pembangunan infrastruktur air limbah,” ungkapnya.
Dalam kesempatan itu dilakukan penyerahan secara simbolis buku pedoman pengelolaan program hibah Australia-Indonesia untuk pembangunan sanitasi tahap II dari kementerian PUPR kepada Pemkab Beltim dan kabupaten kota yang hadir. Kemudian talkshow mengenai kebijakan, strategi dan tantangan dalam pembangunan sanitasi di Indonesia, lalu diskusi panel terkait tata kelola pelaksanaan program hibah. (Rilis Kominfo Beltim)

Related Search

Tags:
author

Author: