banner 728x90

Bhinneka Mana Lagi yang Dicari?

Negara Republik Indonesia ini dibangun dengan susah payah oleh para pendahulu bangsa dengan satu rasa senasib sepenanggungan untuk terbebas dari penjajahan Belanda. Para pahlawan dari berbagai daerah di berbagai kerajaan nusantara angkat senjata bertaruh nyawa mengusir penjajah yang berasal dari Eropa, terkhusus Belanda yang selama 350 tahun mencaplok bumi pertiwi ini. Mulai dari para raja, pangeran, para pendekar hingga ulama, dengan gigihnya hingga titik darah penghabisan melawan tindak semena-mena penjajah. Hampir semua perlawanan tersebut berhasil ditundukkan. Bahkan dua perang yang terkenal, Perang Paderi dengan tokoh ulama Islam Tuanku Imam Bonjol dan Perang Jawa dengan Pangeran Diponegoro, hampir membuat kerajaan Belanda bangkrut dan semaput.

Usai perang kedaerahan tersebut, rakyat nusantara sadar bahwa perang harus dilakukan secara bersama-sama dengan cara bersatu. Maka muncullah Ikrar Sumpah Pemuda yang menandakan lahir pergerakan perlawanan  baru, perang kemerdekaan Indonesia. Para pemuda seluruh Indonesia berikrar dan bersatu dalam kebhinnekaan dalam berjuang. Pemuda yang mendapatkan pendidikan modern akibat politik etis, membentuk organisasi, partai dan perkumpulan, dan memberikan perlawanan dengan cara tak biasa. Bukan dengan senjata, namun dengan otak. Tepat di jantung negeri Belanda Perhimpunan Indonesia dengan Ketuanya Muhammad Hatta menggebrak dunia. Indonesia Vrij, atau Indonesia Merdeka adalah pledio Bung Hatta yang mahsyur dan menggetarkan dunia, saat persidangan dirinya di Belanda.

Sementara di Indonesia, perjuangan tak kalah serunya juga disuarakan. Salah satu tokoh yang terkenal bernama Soekarno dengan Partai Nasionalis Indonesia. Indonesia Menggugat, adalah nama pledoi Soekarno yang terkenal saat di persidangan dirinya. Hampir seluruh masyarakat bersatu dan saling membahu serta mendukung kemerdekaan Indonesia. Tidak ada yang mengatasnamakan suku-suku tersendiri dari semua suku yang ada di Indonesia dalam berjuang merebut kemerdekaan tersebut.

Saat-saat genting di awal kemerdekaan, Piagam Jakarta yang mencantum syariat Islam dalam Pancasila, diganti dengan kerelaan hati para ulama dan tokoh Islam. Sehingga menjadi sila Ketuhanan yang Maha Esa. Semua saling bergandengan dengan tujuan negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Indonesia pun kemudian menjadi negara besar yang di dalamnya terdapat berbagai macam suku, bangsa, agama dan bahasa. Semua pihak bisa saling menjaga keberagaman tersebut dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda namun tetap satu. Bahkan etnis tertentu yang sebelumnya merasa dianaktirikan, apalagi pasca-pemberontakan PKI 1965, sebagai buah dari reformasi disamakan statusnya dengan semua warga negara Indonesia. Semuanya sudah sama dan bisa saling menghargai dan bergandengan tangan.

Namun beberapa waktu belakangan ini, isu kebhinekaan terus digadang-gadangkan. Seolah-olah ada yang dituding sebagai pihak yang tidak bhinneka. Tapi sebagian berpandangan isu ini sangat tidak relevan dan bahkan cenderung politis sebagai akibat adanya campur tangan politik yang sangat kental. Terutama terkait masalah pemilihan kepala daerah.

Sungguh aneh terasa jika diusung kembali kata Bhinneka, sementara di lapangan tidak terjadi kerusuhan bernuansa sara. Ataupun adanya perlakuan diskriminasi berunsur Sara di kehidupan sehari-hari. Malah yang terkesan secara kasatmata adalah, pihak yang mengusung jualan Bhinneka adalah merupakan pihak yang anti Bhinneka.

Di dalam alam demokratis ini, di mana kita hidup tenang dan damai, jangan mau diadu domba oleh pihak-pihak yang tidak ingin Indonesia tenang. Seperti senjata Belanda dahulu saat menjajah kita, devide et impera. Kita diadu domba sesama kita sehingga kita lupa dengan bahaya utama dari pihak luar yang menginginkan negara kita yang kaya raya ini.

Jangan sampai dengan dalih Bhinneka untuk suatu tujuan politis maka akan menimbulkan dampak yang semua kita tentu tidak menginginkannya. Jika selama ini kita sudah hidup dalam dunia Bhinneka lalu Bhinneka mana lagi yang akan dicari?***

Related Search

Rate this article!
Tags:
author

Author: