banner 728x90

Bijak Menyikapi Pencabutan Subsidi Listrik

banner 468x60

Masyarakat tampaknya siap-siap mengeluarkan dana lebih banyak. Pemerintah melalui Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang berancang-ancang akan mencabut subsidi bagi pelanggan listrik 450 Volt Ampere (VA). Padahal listrik dengan kapasitas itu paling banyak digunakan masyarakat ekonomi bawah. Sebelumnya pemerintah juga telah mencabut subsidi 900 VA. Saat ini masyarakat yang mendapatkan subsidi 900 VA tinggal 4,1 juta dari sebelumnya 18,7 juta pelanggan.

banner 300x250

Pelanggan 450 VA sangat banyak. Jumlahnya mencapai 27 juta. Kementerian ESDM menargetkan jumlahnya nanti tinggal sekitar 14 juta pelanggan. Berarti ada 13 juta pelanggan yang selama ini menerima subsidi 450 VA akan merasakan kenaikkan tarif cukup signifikan. Sebab pemerintah akan mencabut subsidi secara bertahap, sehingga harga listrik mengikuti harga ekonomi.

Pencabutan subsidi akan sangat terasa oleh masyarakat. Kenaikan biaya yang harus dibayar jauh lebih besar dari biasanya. Seperti yang dirasakan oleh pelanggan 900 VA. Kenaikan 30 persen setiap bulan sangat besar bagi masyarakat. Apalagi dengan roda ekonomi sekarang yang sedang berputar lambat.

Pelanggan yang biasanya membayar tagihan Rp130.000 per bulan, sekarang sudah harus menyiapkan dana Rp245.000 pada tanggal 20 setiap bulan. Terasa memberatkan. Tapi itu harus dihadapi. Pemerintah sudah mengambil kebijakan tersebut. Diatur dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 28 Tahun 2016, tentang Tarif Tenaga Listrik PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Peraturan ini mencakup penerapan tarif non-subsidi bagi pelanggan rumah tangga daya 900 VA yang secara ekonomi ternyata masuk kategori keluarga mampu. Lebih lanjut diatur dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 29 Tahun 2016 yang memuat mekanisme Pemberian Subsidi Tarif Listrik Rumah Tangga.

Pencabutan subsidi listrik harus disikapi secara bijak. Alasan banyak warga mampu yang menikmati subsidi ada benarnya. Tapi harus diteliti betul-betul, apakah yang bersangkutan memang keluarga mampu. Jangan sampai salah mencabut subsidi, sehingga menimbulkan sengsara bagi warga. Pemerintah tidak boleh lagi sekadar menerima laporan di atas kertas. Tanpa memvalidasi data, langsung mengambil kebijakan cabut subsidi. Berjalan dari pintu ke pintu mengecek kebenaran data pelanggan. Tidak boleh lagi mempercayakan kepada pihak lain, yang terkadang hanya mengejar setoran data.

Tak kalah penting, adalah meningkatkan pelayanan listrik. Utama tentu prekuensi pemadaman yang harus dikurangi. Saat ini pemadaman begitu akrab dengan masyarakat. Setiap pekan ada saja warga yang mengeluh mendapatkan giliran pemadaman. Durasinya juga cukup panjang, sekitar 1 sampai 3 jam.

Tidak lama lagi, kita akan memasuki bulan suci Ramadan. Saat umat muslim menjalankan ibadah puasa, biasanya sering terganggu dengan pemadaman listrik. Terutama pada malam hari. Ketika umat muslim akan melaksanakan buka puasa, Salat Tarawih dan ibadah lainnya. Tahun lalu, ibadah puasa masih dibumbui dengan hal-hal seperti itu. Mudah-mudahan pengurangan subsidi benar-benar dimanfaatkan untuk peningkatan pelayanan kepada pelanggan. Sama-sama kitas berharap tidak ada lagi pemadaman listrik saat memasuki bulan Ramadan tahun ini. Semoga.***

Related Search

banner 468x60
Tags:
author

Author: