banner 728x90

BKKBN Sosialisasi 1000 Hari Kehidupan

banner 468x60

// Untuk Perangi Kasus Stunting
// Kampung KB dan Posyandu Jadi Solusi Nyata

PANGKALPINANG – BKKBN Babel ikut berperan dalam upaya menanggulangi kaus stunting (kondisi kekurangan gizi secara kronis) di Babel. Hal ini tercermin dari kegiatan sosialisasi 1000 hari kehidupan bagi mitra kerja dalam rangka penurunan stunting di Hotel Menumbing 19-20 Maret 2018 kemarin. Salah satu solusinya adalah keberadaan posyandu yang disampaikan oleh Ketua Tim Penggerak PKK Babel, Melati Erzaldi.

banner 300x250

“Dengan penguatan fungsi posyandu adalah bagaimana mendeteksi kehamilan dari si ibu. Karena stunting ini adalah menekan dari usia 0 tahun artinya dalam kandungan sampai usaia 2 tahun.

Posyandu memiliki peran yang cukup penting di masyarakat untuk mendeteksi kalau memang ada kelainan pada kehamilan atau memantau kesehatan dari si ibu hamil,” ujar Melati kemarin (20/3).

Keberadaan kader-kader PKK di posyandu tersebut penting. Dengan upaya menggerakkan masyarakat agar aktif ke posyandu, mampu meminimilasiri kaus stunting tersebut. Karena, pada posyandu juga, masyarakat akan dikenalkan dan diajak agar makan makanan bergizi yang tentu berdampak pada perbaikan gizi di masyarakat.

“Artinya yang kami lakukan adalah menggerakkan masyarkat, yang punya domain mendata ada lagi bidangnya. Yang penting kita terus lakukan gerakan, memantau posyandu, penyerapannya seperti apa. PKK juga da rapat konsilidasi yang dilakukan enam bulan sekali. Dan kasus stunting ini menjadi salah satu fokus pembahasan dengan penguatan fungsi posyandu untuk menanggulanginya,” kata Melati.

Sementara itu, salah satu upaya BKKBN Babel dalam memerangi kasus Stunting dengan mengdepankan program kampung KB. Lewat Kampung KB akan dibuat media Komunikasi, Informasi, Edukasi (KIE) dalam bentuk selebaran, poster dan mural. Khusus mural, program ini akan dibicarakan dengan pemda setempat soal perizinannya.

“Berkaca pada kasus di Bangka Barat ada 10 desa yang akan dijadikan Kampung KB. Ada sosialisasi 1000 hari pertama kehidupan, artinya selama 2 tahun diintervensi untuk menekan stunting. Lewat Kampung KB, BKKBN gelar tikar kemudian yang lain isinya mau PU berkenaan sanitasi lingkungan, dinkes untuk imunisasi, PKK untuk posyandu. Contoh ibu gubernur, kepedulian PKK sangat penting, karena kadernya militan bisa langsung ke paling bawah,” ujar Etna.

Selain itu, upaya pencegahan dini adalah program kemah konselor yang direncanakan pada tanggal 8-11 Mei 2018 di Hutan Pelawan, Bangka Tengah. Para peserta yang masih kategori remaja ini akan mendapatkan pendampingan dan edukasi seperti menurunkan angka menikah usia remaja. Dengan penurunan angka menikah sejak dini, akan berpotensi menurunkan kasus stunting.

“Pada kegiatan itu, mulai dari remaja ada Pusat Informasi Konseling (PIK), kita kumpulkan lalu konseling. Yang melahirkan ini 50,89 persen perempuan dibawah umur 20 tahun yang berpotensi pada kasus stunting. Ini artinya, dengan menunda usia kawin pertama, sudah menurunkan 20% stunting. Jadi, 500 peserta nantinya dilatih Duta Genre nasional dan akan dilihat indikator keberhasilannya,” kata Etna. (aka)

Related Search

banner 468x60
Rate this article!
Tags:
author

Author: