banner 728x90

Buku dan Budaya Membaca

Oleh: SADELY ILYAS*

Dalam “Ensiklopedi Indonesia”, buku merupakan alat komunikasi berjangka waktu panjang dan mungkin sarana komunikasi yang paling berpengaruh pada perkembangan kebudayaan, dan peradaban umat manusia. Dalam buku dipusatkan dan dikumpulkan hasil pemikiran dan pengalaman manusia daripada sarana komunikasi lainnya. Sebagai alat pendidikan, buku berpengaruh pada anak didik daripada sarana-sarana lainnya.

Keberadaan perpustakaan di lingkungan sekolah, menjadi sangat strategis untuk menggiring anak cinta buku dan meraih berbagai prestasi akademik. Karena, salah satu ruang berekspresi bagi mereka untuk melatih intelektualitasnya adalah kegiatan membaca buku. Namun, sebagian besar ‘petinggi’ suatu sekolah, masih ada yang kurang memiliki perhatian serius terhadap ‘gudang ilmu’; bukan gudang buku yang satu ini.

Perpustakaan yang seharusnya benar-benar dirasakan kehadirannya, malah seringkali hanya sebagai ‘tempat persembunyian’ siswa yang tidak mengikuti pelajaran. Di sana mereka nongkrong dalam rangka menghindari guru, semantara pihak sekolah masih saja berpikiran bahwa kehadiran perpustakaan sebagai penyedot dana besar, yang fungsinya kurang bermanfaat.

Di negara-negara maju, sekolah-sekolah melakukan upaya yang cukup efektif untuk menumbuhkan minat baca anak didiknya, karena pepustakaan diletakkan sebagai sentral dari kebutuhan sekolah. Di negeri kita, bahwa perpustakaan sekedar ada, tanpa perencanaan sistematis untuk mengelolanya menjadi salah satu pusat tumbuhnya nilai-nilai intelektualitas peserta didik. Imbasnya jelas, buku-buku yang tersedia di perpustakaan sekolah hanya seadanya. Inilah salah satu yang membuat anak didik merasa malas membaca. Mereka mendapati buku-buku yang mereka anggap kadaluarsa, lapuk serta kurang relevan dalam mencermati perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang.

Direktur pembinaan sekolah dasar Kemendikbud, Dr. Wowon Wirdayat (Kompas, 25/1/2016) menegaskan, bahwa pemerintah telah membangun 10.000 perpustakaan di seluruh pelosok tanah air. Akan tetapi tanpa adanya motivasi kepada anak didik, meskipun peraturan Mendikbud menyatakan 15 menit sebelum pelajaran dimulai anak wajib membaca buku selain pelajaran sekolah, minat membaca anak didik tetap tidak akan membaik. Hal ini menurut Wirdayat, terbukti dari data Oraganisasi Pendidikan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB – UNESCO (The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) (2012), menunjukan baru 1 dari 1000 orang di Indonesia yang berminat membaca.

Lalu apa yang mesti dilakukan pihak sekolah agar anak didiknya senang masuk perpustakaan sekolah?
(1) Membangun budaya baru yang bisa memicu gairah anak didik untuk membaca. Kegiatan atau aktivitas seperti bedah atau resensi buku dan diskusi antara guru dan anak didik, diharapkan bisa menyulut rasa haus ilmu pengetahuan. Melalui forum diskusi kelas tentang ‘isi sebuah buku pelajaran’, misalnya, diharapkan mampu memunculkan kesadaran pada siswa bahwa membaca bukanlah suatu paksaan, melainkan sebuah kebutuhan.
(2) Pekerjaan meringkas bacaan perlu diberikan di sekolah secara berkala oleh guru bidang studi tertentu, mengingat kegiatan tersebut akan “memaksakan” anak untuk membaca teks buku secara lengkap. Dengan kondisi ini anak didik akan semakin terbiasa membaca atau mengunjungi perpustakaan sekolah.
(3) Memupuk semangat literasi, seperti membaca, menulis, meneliti, dan berdikusi, perlu di asah dan dikembangkan. Sebagai motivator, seorang guru harus mampu menginspirasi anak didiknya senang membaca dengan kegiatan yang sama.
(4) Sekolah harus peka dan tanggap terhadap eksistensi dan esensi perpustakaan. Jadikan keberadaan perpustakaan sekolah sebagai pusat dinamisasi sekolah dengan berbagai ragam buku, majalah, koran, dan tabloit yang relevan dengan perkembangan iptek mutakhir.
Disamping itu, aktivitas yang menginspiratif para pendidik dalam menumbuhkan minat baca anak didik sangat dimungkinkan, ketika budaya intelektual telah tertanam dalam lembaga pendidikan yang disebut sekolah. Tidak bisa dipungkiri, ketika minat baca anak didik (siswa) sangat dipengaruhi oleh iklim hadirnya perpustakaan sekolah yang “bernuansa rekreatif”, namun “beriklim akademis”.
Dalam konteks ini, pemberdayaan perpustakaan sekolah dalam menumbuhkan kebiasaan  membaca di kalangan para pelajar tidak lepas dari kerja sama dengan guru bidang studi Bahasa Indonesia dan Inggris, misalnya menciptakan program berbagai kegiatan yang berhubungan dengan cinta buku (baca: gemar membaca buku). Kegiatan yang dimaksud dapat berupa pelatihan jurnalistik, komunitas sastra, opini, bedah/resensi buku, majalah dinding, dsb.

Sementara itu, diilihat dari segi manfaat, perpustakaan (sekolah) dapat dijadikan sebagai sarana yang memiliki: (1) Fungsi edukatif, yaitu mendidik para siswa membiasakan diri belajar mandiri secara individu dan kelompok; (2) Fungsi informatif, yaitu dengan membaca peserta didik dapat menimba berbagai ilmu pengetahuan. Buku itu ibarat dunia, ketika seseorang sedang membaca buku, seakan-akan orang tersebut sedang menjelajah dunia, dan disitulah ia menemukan banyak hal yang tidak didapatkan sebelumnya; (3) Fungsi riset atau penelitian. Ketika warga sekolah memanfaatkan perpustakaan untuk menemukan data, maka data melalui bahan tertulis akan mudah didapatkan untuk menopang penelitiannya; (5) Fungsi rekreatif, artinya ketika seseorang memasuki perpustakaan dan membaca berbagai buku, seakan ia melakukan sebuah rekreasi. Contoh, ketika Anda membaca buku tentang Pulau Belitung sebagai destinasi (tujuan) wisata. Maka Anda akan terbawa seperti berlibur di “Negeri Laskar Pelangi” tersebut secara keseluruhan. Dengan pantai yang indah, laut membiru, biota laut yang beragam. Semua wisata akan terekam, termasuk budaya dan kuliner.

Pada akhirnya, kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan budaya membaca di dalam maupun di luar lingkungan sekolah hendaknya kita dukung. Karena, alih ilmu pengetahuan dan teknologi tidak mungkin didapat tanpa melalui membaca, sementara tranfer ilmu juga banyak didapat melalui buku. Bahkan, dengan teknologi yang serba canggih sekarang, ilmu pengetahuan yang kita akses bukan hanya dari bahan tercetak saja, tetapi juga melalui media elektronik, terutama media sosial yang sedang ngetren sekarang ini. Wallahu A’lam(*)
*) Pemerhati dan praktisi pendidikan, tinggal di Tanjungpandan, Belitung.

Related Search

Rate this article!
Buku dan Budaya Membaca,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: