banner 728x90

CINTA PALING MULIA

banner 468x60

Oleh: Sadely Ilyas*

BAGAIMANA jika seseorang sedang jatuh cinta? tentu sebagian besar pikiran, ingatan, dan perhatiannya tertuju kepada yang dicintainya. Perasaan rindu, kagum, hormat, respek dan lain-lain terhadap yang dikasihi menjadi tumbuh. Malah, adakalanya seseorang menempatkan diri seperti ’hamba’ yang patuh kepada tuannya. Itulah fenomena ketika seseorang jatuh cinta. Pengertian cinta agaknya sukar dirumuskan dalam kalimat yang pendek. Lebih-lebih karena jangkauannya meliputi berbagai keadaan dan bidang.

banner 300x250

Secara umum cinta merupakan gejala emosi yang tumbuh dan bergelora dalam jiwa dan hati manusia. Diliputi rasa keinginan dan hasrat yang keras dan meluap terhadap suatu hal. Dalam Bahasa Arab, cinta disebut ’hubb’, dan yang dicintai disebut ’mahabbah’. Daya tarik cinta sangat kuat, dan dapat mempengaruhi seluruh kehidupan manusia. Pribahasa mengatakan ”cinta itu buta”, berlaku dalam segala macam cinta. Maksudnya, apabila seseorang sudah jatuh cinta kepada sesuatu hal, maka dalam praktiknya ia tidak mau tahu. Dan tidak dapat ”melihat” lagi soal-soal yang lain kecuali yang dicintainya.

Cinta memiliki derajat dan tingkat; terdapat cinta yang derajatnya rendah, cinta yang derajatnya hina; begitu pula cinta yang derajatnya tinggi dan mulia. Tingkatnya, ada yang sedang, lemah, dan kuat. Cinta yang paling rendah derajatnya ialah cinta yang berdasarkan hawa nafsu. Sementara itu, cinta paling mulia dan tinggi derajatnya adalah cinta kepada Allah dan Rasulullah. Kecintaan (mahabbah) kepada Sang Pencipta manusia itu sendiri. Istilah tauhidnya dinamakan ’hubbullah’.

Bentuk dan rupanya, cinta dapat dibedakan 4 macam, yaitu 1) cinta tabiat, misalnya cinta seorang yang lapar kepada makanan, atau cinta orang yang haus kepada minuman. 2) cinta fitrah (instinct), misalnya cinta ibu bapak kepada anak-anaknya, atau sebaliknya. 3) cinta rahmah dan mawaddah, misalnya cinta yang berdasarkan kasih sayang, misalnya cinta antara suami-istri. 4) cinta persahabatan, misalnya, cinta kepada kawan sepekerjaan, teman senasib, teman seperkumpulan. termasuk dalam kategori ini cinta kepada saudara, dan keluarga.

Dapat dipahami, bahwa manusia dalam kehidupan ini menaruh cinta kepada berbagai hal. Sesungguhnya yang demikian itu tentu diperbolehkan. Kecuali, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya harus diletakkan di atas segala kecintaan yang ada di dunia ini.

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu dan keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasulnya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang pasik”(QS. At Taubah [9]: 24).

Terkait dengan surat At-Taubah di atas, Sayyid Rasyid Ridha dalam Tafsir Al Manar Jus ke-X menjelaskan di antara cinta yang diperkenankan adalah:

1) Cinta kepada ibu-bapak; Cinta anak kepada orang tua tumbuh dari naluri (gharizah) yang dianugrahkan Allah SWT kepada setiap manusia. Yang sudah terjadi sebagai tabiat, perasaan, kasih sayang yang menjadi tanda peradaban suatu generasi. Perasaan yang pertama sekali tumbuh pada diri seorang anak ialah perasaan kebaikan yang ditumpahkan ibu-bapa kepadanya. Anak akan merasa-kan, bahwa orang tuanya mencintai, mengasihi, dan memeliharanya. Kenyataan ini dengan sendirinya menumbuhkan perasaan kepada setiap anak, bahwa orang yang paling berhak dihormati dan dimulia-kannya adalah orang tuanya sendiri.

2) Cinta kepada anak; Cinta orang tua kepada anaknya, juga telah menjadi naluri dan tabiat makhluk. Bukan saja manusia, tetapi makhluk hewanpun menaruh cinta kepada anak-anaknya. Dalam Al-Qur’an anak-anak itu diumpamakan sebagai qurrata a’yunin, ”cahaya mata” bagi kedua orang tua. Pada ayat yang lain disebut ”perhiasan hidup di dunia”. Cinta orang tua kepada anaknya tidak dapat dipengaruhi dan dikalahkan faktor lain. Bahkan cinta orang tua kepada anak baru akan berakhir di liang lahat.

3) Cinta saudara; Tiap-tiap anak manusia manaruh cinta kepada saudaranya, baik saudara kandung maupun saudara tiri. Faktor pertalian darah mempunyai pengaruh kasih sayang terhadap saudara. Walaupun cinta terhadap saudara tidaklah sekuat cinta orang tua kepada anaknya, atau cinta anak kepada orang tua.

4) Cinta suami-istri; Cinta suami kepada istri atau sebaliknya, tidak berdasarkan tabiat, naluri dan pertalian darah. Tapi didasarkan kepada kasih sayang dan kenikmatan. Dalam Al-Qur’an menyebutnya dengan istilah ”mawaddah wa rahmah”. Faktor persamaan keinginan, seperti ingin memiliki keturunan (zurryah), menjadi pendukung dalam cinta jenis ini. Juga dipertautkan oleh persamaan kepentingan untuk saling bantu membantu dalam kehidupan yang dipupuk oleh hasrat bersatu, mencapai ketenteraman hidup (sakinah).

5) Cinta keluarga; Cinta keluarga (’syirah) didasarkan oleh keturunan. Dengan tujuan untuk saling tolong menolong dalam kehidupan. Apalagi cinta terhadap keluarga dilandasi oleh unsur persamaan keyakinan (seiman), sehingga ’ukhuwah islamiyah” makin terjalin dengan kuat.

6) Cinta harta; Pada umumnya, manusia cinta kepada harta. Lebih-lebih harta yang diusahakannya dengan keringat sendiri. Kecintaan manusia terhadap harta adalah suatu hal yang lumrah, selama hal tersebut diletakkan pada proporsi yang sewajarnya. Malah menurut ajaran Islam, mempertahankan harta dari rampasan orang lain dipandang sebagai suatu perbuatan jihad.

7) Cinta perniagaan; Kecintaan manusia kepada perniagaan (ekonomi) juga merupakan suatu yang lazim. Ada banyak orang yang berani menempuh jalan yang beresiko untuk mempertahankan supaya ekonominya tidak pailit. Segala sesuatunya tentu harus menuruti tatacara dan aturan, dan norma-norma Islami. Tidak sampai menyeret orang lain kepada kebinasaan. Perbuatan seperti ini pernah dilakukan Abu Sufyan di zaman Rasulullah SAW yang menyulut timbulnya peperangan Badr, yang berlatarbelakang kepentingan ekonomi (perniagaan).

8) Cinta tempat-kediaman; Sudah menjadi sifat manusia cinta kepada tempat tinggal. Lebih-lebih tempat tinggal yang disenangi. Cinta terhadap tempat tinggal itu: rumah, kampung-halaman, negeri dan sebagainya, sejatinya dalam batas-batas tertentu. Jangan sampai mengalahkan kepen-tingan agama, seperti perilaku orang-orang di zaman Nabi Muhammad Saw yang enggan pergi berjihad atau hijrah lantaran merasa berat meninggalkan negeri, karena terlalu cinta tempat – kediaman.

Cinta paling mulia dan tinggi derajatnya adalah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Cinta hamba terhadap Sang Khalik memberi bekas kebaikan kepada manusia. Baik dalam kehidupan dunia maupun dalam kehidupan akhirat kelak. Di dunia, manusia yang cinta kepada Allah itu senantiasa mendapat hidayah dan taufik dari Ilahi. Hidup dalam ketenangan dan kenikmatan menurut arti yang hakiki; sedang akhirat mendapat tempat yang bahagia yaitu surganya Allah SWT.

Hamba yang cinta kepada Allah, niscaya Allah cinta pula kepadanya. Malah diberikan-Nya karunia maghrifah, (ampunan) terhadap kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuat. ”Katakanlah: Jika kamu betul-betul mencintai Allah, turutlah aku (Muhammad), niscaya kamu akan dicintai Allah dan diampuni-Nya dosamu. Allah itu Maha Pengampun dan Penyayang” (QS Ali ’Imran [3]: 31).

Dari Anas ra. menceritakan bahwa, Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa yang terdapat padanya tiga perkara, maka dia akan merasai kemanisan iman. Yang tiga perkara itu ialah: (1) Mencintai Allah dan Rasulnya melebihi cinta kepada yang lain; (2) Mencintai manusia karena cinta kepada Allah semata-mata; (3) Membenci kekembalian kepada kufur (ingkar) laksana seorang yang benci untuk dilemparkan ke dalam api” (HR Bukhari dan Muslim).

Menurut Sayyid Rasyid Ridha, jalan menumbuhkan kecintaan kepada Allah dan Rasul adalah dengan memperbanyak zikir, menjadi pembaca dan memahami isi Al-Qur’an. Selanjutnya melatih diri melaksanakan ketentuan syariah, serta merenungkan rahasia-rahasia dan hikmah ciptaan Allah. Ingatan itu diiringi dengan sikap jiwa bersyukur dan memuji Allah. Laksana bersyukurnya Nabi Daud As. yang menyebabkan gunung-gunung dan burung-burung pun turut bersyukur. ”Sesungguhnya telah Kami jadikan gunung-gunung itu bertasbih (memuja Allah SWT) bersama-sama dengan dia (Daud), di waktu senja dan di waktu pagi. Dan burung-burung pun berkumpul, semuanya kembali (patuh) kepada Allah” (QS. Shaad [38]: 18-19). Sikap jiwa yang senantiasa membiasakan zikir kepada Allah, dan memikirkan segala suatu keindahan dan keajaiban ciptaan-Nya, akan membentuk pribadi muslim yang ’kaffah’, dan paripurna. Wallahu A’lam!

Related Search

banner 468x60
Rate this article!
CINTA PALING MULIA,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: