banner 728x90

Dampak Kenaikan Suku Bunga BI Dinilai Tak Efektif

banner 468x60

Pengamat Indef Bhima Yudhistira mengatakan, meskipun Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps, namun hal tersebut tidak efektif menahan laju pelemahan nilai tukar Rupiah. Sebab instrumen moneter hanya salah satu obat.

“Kondisi fundamental ekonomi kita kurang begitu bagus. Ekonomi stagnan di 5 persen, neraca perdagangan April defisit besar USD 1,63 miliar, defisit transaksi berjalan di triwulan 2 diprediksi melebar. Overall kita mengalami stagnasi,” ujarnya kepada Jawapos.com, Jumat (18/5).

banner 300x250

Hima membandingkan Indonesia dengan negara tetangga. Misalnya Vietnam, pada triwulan I 2018 pertumbuhan ekonominya 7,3 persen. Jauh lebih tinggi dari Indonesia. Jadi selain investor lari ke AS juga lari ke negara tetangga.

“Intinya selama fundamental ekonomi bermasalah maka efektivitas bunga acuan menahan pelemahan Rupiah jadi terbatas,” imbuhnya.

Selain itu, lanjutnya, dampak negatif dari naiknya bunga acuan dikhawatirkan akan menaikan bunga kredit perbankan, meskipun kecil kemungkinan dalam 1 bulan ini transmisinya. Mengingat likuiditas bank masih cukup gemuk.

“Jika bunga kredit naik 25 bps saja bisa ganggu pertumbuhan kredit yang pada ujungnya membuat laju ekonomi kurang optimal. Hampir semua sektor penyaluran kredit baik kredit konsumsi, kredit investasi dan modal kerja kena dampak,” tuturnya.

Bhima berharap semua itu tidak terjadi. Sehingga, kata dia, Solusinya BI dan Otoritas Jasa keuangan (OJK) hrus terus bekerjasama untuk memacu bank lebih efisien dalam penyaluran dana.

“Bunga kredit yang masih dobel digit bukan karena bunga acuan saja tapi lebih disebabkan biaya operasional bank masih tinggi,” tandasnya.

(mys/JPC)

Related Search

banner 468x60
Tags:
author

Author: