banner 728x90

Derita Nelayan Saat Musim Barat

ISTIRAHAT MELAUT: Tokoh nelayan Desa Tanjung Tanjung Binga Petasabhi, saat merajut jaring yang rusak, Minggu (2//12) kemarin.

*Memilih Pulang Kampung, Sebagian Kerja Serabutan

SIJUK – Para nelayan yang ada di Desa Tanjung Binga, Kecamatan Sijuk, memilih tak melaut hingga Bulan Februari 2019 mendatang.

Sebab saat ini perairan di Belitung, mengalami cuaca buruk musim angin barat. Ombak di tengah laut mencapai ketinggian lima meter.

Tentunya, hal tersebut membahayakan keselamatan warga nelayan untuk mencari ikan.

Tidak hanya itu, tempat pengasinan ikan juga terlihat sepi. Tidak seperti biasanya, yang dipadati ibu-ibu untuk menjemur ikan.

Salah satu tokoh nelayan Tanjung Binga, Petasabhi mengatakan, dirinya dan masyarakat memutuskan tidak melaut sejak beberapa hari lalu. Selain itu, para pekerjanya juga memilih untuk pulang kampung, sampai kondisi cuaca membaik.

“Mereka sudah kembali ke kampung halamannya masing-masing. Seperti di Pulau Jawa, Palembang dan Makassar,” ujar Petasabhi kepada Belitong Ekspres, Minggu (2/12) kemarin.

Untuk menyambung hidup, para nelayan ada yang bekerja serabutan di Tanjungpandan. Seperti membuat kapal hingga kerja bangunan. Ada juga sebagian memilih untuk beristirahat. Sebab, sejak jauh hari mereka sudah mempersiapkan.

Meski angin barat, namun sebagian nelayan masih tetap ada yang melaut. Namun, jaraknya hanya seputaran Tanjung Binga. “kalau saya, sementara waktu masih memperbaiki jaring yang rusak,” ungkap sesepuh Suku Bugis ini.

Dengan kondisi seperti ini, dia berharap pemeruntah memberikan solusi. Seperti memberikan bantuan garam terhadap para nelayan. Atau mempermudah warga untuk mendapatkan garam dengan harga yang murah.

“Meski tidak melaut, sebagian nelayan mengambil ikan dari Belitung Timur. Tentunya, ikan-ikan itu butuh garam untuk diasinkan,” ucapnya sambil merajut jaring-jaring yang rusak.

Selain garam, harapan mereka bantuan seperti kayu untuk tempat pengeringan ikan. Saat ini, lokasi penjemuran ikan di Tanjung Binga sudah tidak layak. Kondisinya sangat memprihatinkan. Kayu-kayu yang ada, terlihat rapuh.

Oleh sebab itu, dapat membahayakan nelayan khususnya ibu-ibu saat menjemur ikan. Penderitaan sejumlah pencari ikan ini, tidak sampai disitu. Bahkan, hampir tiap malam tempat tersebut tenggelam lantaran air laut pasang.

“kalau air pasang, ketinggian disini bisa lima meter. Tentunya akan cepat merusak kayu kayu ini. Apalagi saat ini memang memasuki angin barat,” pungkasnya.

Sementara itu, Kasatpolair Polres Belitung AKP Syarifuddin Ginting mengingatkan kepada para nelayan untuk saat ini tidak melaut. Sebab, ketinggian ombak di tengah laut sudah mencapai tiga meter.

Dalam hal ini, dirinya terus berkomunikasi dengan BMKG Bangka Belitung (Babel). Setelah itu menginformasikan kepada masyarakat. Khususnya para nelayan yang ada di Kabupaten Belitung. “kami juga tetap akan menggelar patroli rutin. Khususnya di tempat pariwisata,” katanya. (kin)

Related Search

Rate this article!
author

Author: