banner 728x90

Dinas Pendidikan Bateng Akui Banyaknya Keluhan Ortu

Koba – Penerapan zonasi dalam Pendaftaran Penerimaan Siswa Baru (PPDB) di Bangka Tengah (bateng) banyak diprotes oleh orang tua siswa. protes tersebut sebabkan oleh masih besarnya harapan orang tua siswa untuk menyekolahkan anaknya di Sekolah Negeri.

“Kalau protes pasti ada, protes itu karena banyak orang tua yang menginginkan menyekolahkan anak-anaknya di sekolah-sekolah negeri karena menurut mereka biaya di sekolah swasta lebih mahal, padahal di negeri juga kena biaya untuk beli seragam, buku dan sebagainya,”ujar Kabid Pendidikan Menengah Pertama Dinas Pendidikan Bangka Tengah, Yahyan Kepada Babel Pos, Selasa (10/7) di ruang kerjanya.

Menurutnya protes tersebut didasari oleh enggannya orang tua menyekolahkan anaknya di sekolah swasta meskipun sekolah tersebut menurut zonasi lebih dekat dengan tempat tinggal.

“Makanya ada orang tua yang sampai melapor hal itu ke dewan sampai ke pak Bupati, namun kita tetap tidak bisa karena itu merupakan aturan dari Kemendikbud,”sebutnya

Dikatakan juga penerimaan siswa baru tidak bisa hasus disekolah negeri semua karena daya tampung sekolah tersebut terbatas daa keterbatasan fasilitas maupun SDM tambahan diSekolah Negeri

“Daya tampung tiap sekolah ini terbatas, kalau dipaksakan tetap tidak bisa, harus ada ruangan baru dan penambahan guru lagi. Kalau guru honorer justru akan menambah biaya lagi sedangkan anggarannya tidak ada untuk itu,” terangnya.

Yahyan mengatakan untuk Kecamatan Koba sendiri, jumlah Sekolah Menengah Pertama hanya ada Lima SMP dan mampu menampung sebanyal 623 siswa yang lulus SD. Ditambahnya juga untuk di Kecamatan Koba sendiri dalam penerimaan siswa baru dibagi menjadi dua zona, dimana zona satu dapat menampung 516 siswa, sedangkan zona dua bisa menampung 108 siswa.

“Untuk zona satu ini meliputi SMP 1 Koba, SMP Stania, SMP Muhammadiyah, dan MTs Al Muhajirin. Sedangkan untuk zona dua hanya SMP 2 koba saja,” ungkapnya.

Berdasarkan data yang didapati oleh dinas pendidikan sendiri, jumlah kelulusan siswa SD pada zona satu lebih banyak daripada daya tampungnya yakni selisih delapan siswa. Sementara pada zona dua justru kekurangan sembilan siswa.

“Di zona satu jumlah kelulusan siswa SD sebanyak 524 siswa dan untuk daya tampungnya 516 sedangkan zona dua kelulusannya 99 siswa, daya tampungnya 108 siswa berarti untuk zona satu ada kelebihan siswa sebanyak 8 siswa, sedangkan zona Dua kekurangan siswa sebanyak 8 siswa, jadi yang zona satu kelebihan tadi yang mana domisili siswa zona satu yang dekat ke zona dua kita alihkan ke Zona dua agar bisa cukup karena menurut data yang kami miliki tidak ada anak yang tidak tertampung,” terangnya

Yahyan juga berharap agar para orang tua ataupun wali murid agar dapat mengikuti aturan tersebut dan menyekolahkan anaknya kejenjang selanjutnya.

“Meskipun ada protes dari orang tua siswa tapi kita harap mereka tetap memperhatikan pendidikan anaknya dan terus melanjutkan pendidikannya jangan gara zonasi ini masa depan anak dikorbankan,” pungkasnya.(ynd)

Related Search

Tags:
author

Author: