banner 728x90

Dugaan Kasus Penganiayaan, Hellyana Klaim Sudah Berdamai

banner 468x60

*Kapolsek Tanjungpandan: Proses Hukum Tetap Berlanjut
*Hellyana : “Kita sudah ada surat pernyataan damai”
*Kapolsek : “Kami belum tahu soal perdamaian itu”

banner 300x250

belitongekspres.co.id, TANJUNGPANDAN – Kasus dugaan penganiayaan yang dilakukan Haryanto bin Mukhdi Syafei terhadap pegawai Bank BRI Zaldy Ferdiansyah Putra dikabarkan telah diselesaikan secara kekeluargaan. Kedua belah pihak sepakat berdamai dan tidak akan memperpanjang kesalahpahaman yang berujung pada tindak pemukulan tersebut.

Kabar perdamaian kasus pemukulan yang terjadi di salah satu warung kopi di Jalan RE. Martadina Kelurahan Kota Tanjungpandan itu, disampaikan Anggota DPRD Babel Hellyana, yang merupakan adik Kandung pelaku. Penyelesaian kasus itu dituangkan dalam surat perjanjian/pernyataan damai pada tanggal 28 September 2017.

Surat perjanjian damai ditandatangani oleh kedua belah pihak, yang diketahui Lurah Kota Argianty Malviani, dengan saksi-saksi Azhari dan Suhaeli. Bahkan, menurut politisi PPP ini laporan di Polsek Tanjungpandan, juga sudah dicabut pelapor, (korban,red).

“Kita sudah ada surat pernyataan damai secara kekeluargaan. Pihak korban juga sudah minta maaf kepada saya atas tuduhan perkataan mereka. Dan hari ini sudah mencabut laporannya dan tidak mau persoalan ini berlanjut,” kata Hellyana saat dihubungi Belitong Ekspres, Jumat (29/9) kemarin.

Kata Hellyana kasus itu perlu dijadikan pelajaran, agar tidak terjadi kembali di kemudian hari. Sebab itu terjadi, berawal dari selisih paham antara kedua belah pihak. Di mana salah satu dari mereka membicarakan isu politik jelang Pilkada Belitung 2018.

Zaldy yang kebetulan berada di salah satu warung kopi di Tanjungpandan korban disinyalir menyinggung dan menjelek-jelekkan dirinya sebagai bakal calon di Pilkada Belitung 2018. Akibat dari obrolan politik ini, abang kandungnya tersinggung memukul Zaldy dengan menggunakan piring.

“Kabar terakhir yang saya dapatkan seperti itu, kedua belah pihak sepakat damai dan laporan sudah dicabut. Untuk selanjutnya kami menyerahkan kasus tersebut ke pihak kepolisian, kami menunggu bagaimana nanti,” ujar Hellyana kembali.

Dari kopian surat perjanjian/pernyataan damai yang diterima harian ini, ada empat poin yang disepakati oleh kedua belah pihak antara Haryanto (pihak kesatu) dan Zaldy (pihak kedua). Poin pertama bahwa pihak kesatu beserta keluarga tidak akan menuntut pihak kedua dan tidak mengganggu pihak kedua dengan sentuhan fisik maupun urusan pribadi.

Poin kedua, pihak kedua akan mengganti rugi semua biaya berobat dan biaya lainnya akibat selisih paham yang terjadi kepada pihak kedua. Poin ketiga, bahwa dengan adanya surat perjanjian ini pihak pertama dan pihak kedua sepakat tidak akan saling mengganggu antar keluarga masing-masing baik dalam keadaan sadar maupun tidak sadar.

Poin keempat, bahwa dengan adanya surat perjanjian damai ini pihak-pihak lain tidak ada lagi dan tidak ada lagi mencampuri atau mengganggu gugat dan apabila ada pihak lain yang mempermasalahkan masalah tersebut, itu bukan dari kedua belah pihak dan tidak dapat dipertangggungjawabkan karena masalah tersebut dianggap selesai oleh kedua belah pihak.

Sementara itu, Kapolsek Tanjungpandan AKP Gineung Pratidina saat dikonfirmasi Belitong mengatakan, proses hukum dugaan kasus penganiayaan itu masih terus berlanjut.

Bahkan, Haryanto (42) yang menjadi tersangka sudah ditahan di sel Polres Belitung, Jumat (29/9) kemarin. Penahanan dititipkan di Mapolres Belitung, lantaran kapasitas Polsek sudah overload (penuh).

“Kami belum tahu soal perdamaian itu. Yang pasti, pelaku sudah ditetapkan sebagai tersangka. Dan saat ini, proses hukum tetap berlanjut,” ujar AKP Gineung, kepada Belitong Ekspres.

AKP Gineung menambahkan, dalam kasus ini tersangka dijerat Undang-undang Pasal 351 Ayat 1 KUHP Pidana, Tentang Penganiayaan, dengan ancaman hukuman kurang lebih 5 tahun penjara.(wan/kin)

Related Search

banner 468x60
Tags:
author

Author: