banner 728x90

Dukungan Regulasi Membuat Kinerja Operasional dan Finansial PT TIMAH Melesat

PT. Timah.

PT. Timah. Foto: timah.com

Jakarta, 8 Maret 2019, PT TIMAH (IDX:TINS) mengumumkan laporan keuangan konsolidasian untuk periode yang berakhir 31 Desember 2018. Pemerintah melalui Kementerian ESDM dan Kementerian Perdagangan terus berbenah melalui berbagai regulasi yang dikeluarkan. Setiap pelaku usaha pertambangan timah harus memiliki laporan cadangan mineral yang terkandung dalam Izin Usaha Pertambangan (IUP) dan dituangkan dalam Rencana Kerja Anggaran Belanja (RKAB) sesuai peraturan menteri ESDM No.11 tahun 2018. Mengacu pada regulasi, RKAB ini tentunya dilakukan verifikasi terutama terkait laporan cadangan untuk membuktikan asal usul barang.

 “Cadangan harus dibuat oleh Competent Person (CP), dan CP bertanggung jawab secara hukum bahwa laporan yang dibuatnya adalah benar. Laporan cadangan inilah yang sebetulnya membuktikan asal usul barang,” demikian Amin Haris selaku Sekretaris Perusahaan PT TIMAH menjelaskan. Jika proses laporan cadangan mineral tersebut tidak dilakukan, seharusnya pengajuan verifikasi RKAB tidak bisa disahkan. Ini akan berdampak pada aktivitas ekspor tersebut. Amin menduga, ekspor yang selama ini dilakukan beberapa perusahaan smelter hanya mengacu pada verifikasi asal usul barang berdasarkan kepemilikan IUP saja.

Sebagai salah satu pemilik lahan konsesi tambang terbesar di Bangka Belitung, seharusnya PT TIMAH memiliki prosentase kontribusi paling besar terhadap ekspor timah Indonesia. Berikut adalah komparasi ekspor PT TIMAH dengan perusahaan smelter lainnya selama tahun 2018.

komparasi ekspor PT TIMAH dengan perusahaan smelter lainnya selama tahun 2018.

Pada Oktober 2018 ICDX menghentikan ekspor timah perusahaan smelter yang diverifikasi PT Surveyor Indonesia, karena tidak memenuhi syarat ekspor. Sebagai anggota bursa ICDX, PT TIMAH tidak terpengaruh oleh penghentian sementara perdagangan karena produk yang diperdagangkan sudah memenuhi syarat yang dikeluarkan oleh surveyor PT Sucofindo.

Selanjutnya Sekretaris Perusahaan PT TIMAH berujar, “Manajemen optimis bahwa kinerja Perseroan pada tahun 2019 akan terus meningkat seiring dengan membaiknya tata kelola pertimahan di Indonesia, terutama dengan dukungan regulasi dari Pemerintah terkait penertiban penambangan illegal dan kewajiban pelaporan neraca cadangan yang diverifikasi Competent Person yang bersertifikasi dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) dan Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) ”.

Ringkasan kinerja operasi Perseroan:

  • Produksi bijih timah pada tahun 2018 sebesar 44.514 ton atau naik 42,77% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya 31.178 ton. Dari perolehan bijih timah tersebut, 49,90% diantaranya berasal dari laut (offshore) dan sisanya sebesar 50,10% berasal dari darat (onshore)
  • Perseroan memiliki brand influence yang besar di industri timah internasional, diantara produknya yang terdaftar di London Metal Exchange (LME) yaitu Banka dan Kundur. Produksi logam timah sampai dengan akhir 2018 tercatat 33.444 Mton atau naik 10,56% dibandingkan periode yang sama tahun 2017 sebesar 30.249 Mton
  • Berbanding lurus dengan kondisi di atas, sampai dengan akhir 2018 tercatat penjualan logam timah sebesar 33.818 Mton atau naik 13,05% dibandingkan tahun 2017 sebesar 29.914 Mton

Ringkasan kinerja keuangan Perseroan:

  • Pendapatan usaha Perseroan tercatat sebesar Rp11.050 miliar atau naik 19,88%, dengan kontribusi logam timah berada di urutan pertama 91,88%, disusul posisi berikutnya produk hilir (tin chemical) 3,87% dan rumah sakit 2,19%. Bisnis lainnya di luar industri timah masih menarik untuk dikembangkan, misalnya nikel yang mulai memberikan kontribusinya, sehingga sumber pendapatan akan lebih terdiversifikasi di tahun-tahun mendatang
  • Sampai dengan akhir tahun 2018 tercatat kenaikan Beban Pokok Pendapatan sebesar 21,85% menjadi Rp9.372 miliar. Namun demikian, penurunan harga bahan bakar jelang akhir tahun merupakan angin segar yang akan berdampak positif terhadap profitabilitas Perseroan
  • Dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2017, nilai aktiva Perseroan naik 27,30% menjadi Rp15,12 triliun, nilai kewajiban Perseroan naik 47,83% menjadi Rp8,60 triliun, dan nilai ekuitas Perseroan naik 7,60% menjadi Rp6,52 triliun
  • Belanja modal (capital expenditure) Perseroan sampai akhir 2018 sebesar Rp1.185 miliar yang diantaranya 23,65% untuk mesin dan instalasi, lalu 14,33% untuk peralatan eksplorasi, penambangan dan produksi, dan sisanya berupa pembelian tanah, bangunan, peralatan pengangkutan, peralatan kantor dan perumahan, dan aset dalam penyelesaian.(rel)

Related Search

Tags:
author

Author: