banner 728x90

Gara-Gara Jadi Caleg

ilustrasi caleg. Foto: disway.id

Oleh: AHMADI SOPYAN
Penulis Buku / Pemerhati Sosial

belitongekspres.co.id, MUSIM Pemilu seperti ini, ternyata ada kebebasan yang terenggut, dari mulai tak tersalurkannya hobi mancing di sungai, sampai diawasi dan bahkan dilarang dan dibatalkan jadi pembicara memenuhi undangan masyarakat atau mahasiswa di kampus.

SAAT menulis ini, saya sedang berada di Palembang guna memenuhi undangan ISBA dan masyarakat Bangka di Palembang dan bertempat di Kampus PGRI untuk menjadi pembicara mengenai “Problematika Pembangunan Jembatan Bangka-Palembang Terhadap Laju Pertumbuhan Ekonomi Daerah dan Tingkat Kriminalitas di Bangka Belitung”. Ya namanya undangan dan kebetulan sempat, ya saya hadir saja.

Malam hari mendarat di Palembang bersama “sang Boss Besar saya, Munir yang juga diundang sebagai pengisi acara hiburan.

Baru saja menginjakkan kaki di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, panitia penjemput langsung melaporkan hal yang mengagetkan, yakni kegiatan hampir dibatalkan akibat kemaren dia ditelpon seseorang dari Bangka yang memarahi Panitia pengundang dan bahkan menelpon Wakil Rektor III PGRI guna meminta membatalkan kegiatan tersebut karena mengundang Ahmadi Sopyan.

“Sabar Bang. Kami tetap bersikukuh mengundang Abang sebagai pembicara dan tidak ada kaitannya dengan Abang sebagai Caleg.

Tapi seseorang itu merasa kami memberi panggung sama Abang dan dia tidak terima karena merasa dulunya beberapa kegiatan kami sudah banyak membantu secara finansial dan sekarang dia rival abang sebagai Caleg juga. Kok segininya demokrasi kita ini ya?!”.

“Iya demokrasi kita masih dalam tingkatan demokrasi Taman Kanak-Kanak. Tapi sudahlah, ko lah tau dan termasuk yang menelpon ka tu juga ko sangat kenal banget dan die juga sahabat ko.

Santai bae lah, along kite cari tempat makan dibawah jembatan Ampera, soalnya Munir pengen lihat jembatan sekalian mandi malam di sungai Musi” ujar saya sambil meminta segera melajukan kendaraan di keramaian Kota Palembang.

Kejadian “mengenakan” seperti ini sebetulnya bukan sekali dua kali selama musim Pemilu ini. Ada juga kejadian suatu ketika saya diundang jadi pembicara, tapi beberapa jam sebelum acara, pihak Panitia tiba-tiba menyampaikan, boleh hadir tapi hanya sebagai pendengar dan tak boleh pegang mikropon karena ada desakan dari pihak lain. Lagi-lagi alasannya karena “Ahmadi Sopyan adalah Caleg”.

Awalnya ada rasa kaget dan kesel, tapi selanjutnya saya nikmati dan kadang tertawa bersama teman-teman dan dilain sisi saya tulis pengalaman sebagai peserta Pemilu ini untuk menjadi catatan, siapa tahu suatu saat bisa dibukukan dan menjadi bahan diskusi setelah Pemilu.

Demokrasi Cengeng
PEMILU 2019 tinggal dalam hitungan beberapa hari lagi. Semarak warna-warni baliho, spanduk dan stiker menguasai ruas jalan raya.

Dalam menghadapi pesta demokrasi pasca reformasi ini, nampaknya salah satu efek negatifnya adalah melahirkan para pemimpin, wakil rakyat dan partai politik bermental cengeng.

Lebih parahnya rakyat juga ternyata tak kalah cengeng hampir setiap menghadapi Pilkada, Pemilu bahkan setelahnya.

Berbagai permintaan untuk “disuap” dengan oleh-oleh, janji beri suara, bahkan menanyakan berapa perkepala adalah bentuk “cengengisasi demokrasi”.

Kenapa saya katakan cengeng? Bukan rahasia umum lagi, bahwa seseorang yang menjadi pemimpin atau wakil rakyat harus memberikan ini dan itu kepada pemilihnya.

Mengiming-imingi sesuatu berbentuk materi agar rakyat mau mendukung dan memilih dirinya. Bahkan yang lebih parah adalah menjegal lawan politik dengan berbagai isu dan fitnah yang dibuat agar orang lain tidak memilih sang lawan.

Apa ini bukan mental cengeng? Jadi, selama mental-mental cengeng masih bercokol di negeri ini, bahkan oleh pemimpin negeri, maka jangan heran kita menjadi bangsa besar bermental kurcaci, badan gajah mental kelinci!

Tak hanya para calon pemimpin atau calon Wakil Rakyat, tapi yang juga tak kalah parah adalah kita sebagai rakyat. Karena buah demokrasi seperti ini tidak hanya melahirkan pemimpin dan wakil rakyat yang tidak berkualitas, tapi juga menumbuhsuburkan perilaku cengeng dalam kehidupan sosial kita (rakyat).

Bagaimana tidak, kita memilih pemimpin atau seseorang karena pemberiannya bukan karena kemampuan atau keyakinan bahwa ia mampu ketika duduk di posisi yang dia inginkan itu.

Karena perilaku cengeng suka meminta inilah akhirnya menyebabkan nilai diri kita seringkali hanya dihargai baju kaos, mukena, jilbab, sarung, baju koko, bahkan hal-hal yang berbentuk materi. Perilaku ini terjadi apa bukan karena kita memiliki mental cengeng?

Generasi muda kita sebagai penerus keberlangsungan negeri ini di masa yang akan datang pun sudah terkontaminasi dan dididik dengan perilaku-perilaku cengeng, baik oleh para seniornya maupun karena memang dasarnya sudah berperilaku cengeng.

Tidak sedikit para generasi muda kita yang menghambakan diri kepada orang-orang berduit walau itu bertentangan dengan agama yang dianut.

LSM atau organisasi kemasyarakatan bahkan keagamaan kita pun kerapkali berperilaku cengeng dengan hanya mampu melakukan sesuatu dengan menjadi pengemis (menebar proposal) demi mengharapkan uang receh dari pengusaha dan penguasa.

Parahnya lagi, mental dan perilaku cengeng itu ditunjukkan dengan memilih, mendukung dan memuji-muji orang yang membantu secara materi tersebut.

Wajar saja jika kehancuran negeri salah urus atau Republik Tulah ini sudah begitu mengakar dalam setiap urat nadi kebangsaan kita.

Sistem hukum dan bernegara kita pun semakin kacau balau tanpa tahu lagi mana yang benar mana yang salah. Parahnya media massa pun kerapkali menjadi pengadilan publik, begitu gampang menghitam-putihkan seseorang sesuai dengan pesanan atau keinginan.

Oleh karenanya tidaklah heran dalam kondisi seperti ini orang yang dicela, dituduh bahkan di penjara itu belum tentu orang-orang salah, dan kita-kita yang berada diluar penjara belum juga tentu adalah lebih baik dari mereka-mereka yang ada di penjara atau pernah di penjara.

Perilaku aparat hukum kita sudah tidak dapat dipercaya, karena uang dan jabatan sudah terlalu berkuasa akibat para penegak hukum bermental cengeng.

Oleh karenanya akibat kondisi “perkeliruan” di negeri ini, orang-orang yang baik harus terpinggirkan di sudut-sudut kehidupan.

Jika ada sosok atau kelompok yang bagus dan berkompeten ingin berbuat, maka siap-siap untuk menghadapi buasnya kekuasaan uang dan jabatan.

Karena sudah terjadi di negeri kita ini apa yang pernah dikhawatirkan oleh Rasulullah SAW: “Apabila suatu pekerjaan (jabatan) diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah masa kehancurannya”. So, welcome to Negeri Salah Urus dalam Republik Tulah.

***
OYA, minggu depan saya diundang seminar di salah satu Pesantren di Bangka, akhir bulan saya ngisi ceramah Isra’ Mi’raj untuk anak-anak SMP di sebuah sekolah di Bangka Selatan dan bulan April juga saya dijadwalkan mengisi materi di Universitas Ibnu Chaldun Jakarta bersama Rocky Gerung, akankah juga dibatalkan?
Mane kenek ikak lah…!!!
Salam Demokrasi! (*)

Related Search

Rate this article!
Gara-Gara Jadi Caleg,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: