banner 728x90

Guru dan ‘Potret’ Masa Depan Bangsa

Oleh: SADELY ILYAS*

Potret bangsa yang akan datang, tercermin dari tugas guru di masa sekarang. Dan gerak maju dinamika kehidupan sangat tergantung dari ‘citra’ guru di tengah-tengah masyarakat. Guru  mempunyai posisi strategis bagi pemberdayaan manusia  yang tidak mungkin digantikan oleh unsur manapun dalam kehidupan sebuah bangsa sejak dulu. Semakin signifikannya keberadaan guru melaksanakan peran dan tugasnya semakin terjamin terciptanya kehandalan dan terbinanya generasi bangsa di masa depan.

Oleh karena itu, dewasa ini profesionalitas guru menjadi tantangan. Persyaratan untuk menjadi guru saja, selain berpendidikan minimal S1 atau D4, juga memiliki sertifikat pendidik. Sertifikat pendidik akan diberikan kepada (calon) guru bila lulus ujian sertifikasi pendidik setelah mengikuti pendidikan profesi pendidik. Persyaratan tersebut sepintas memberatkan calon guru. Akan tetapi, tujuan persyaratan tersebut adalah untuk meningkatkan kualitas guru, sehingga mutu pendidikan juga meningkat.

Dalam globalisasi sekarang, guru dituntut mengajar lebih kritis dan aktif, serta dapat mengubah paradigma lama dalam mengajar. Sehubungan dengan itu, Anies Baswedan,  ketika menjadi Mendikbud  berujar, “budaya peserta didik kita saat ini sudah masuk abad 21. Sementara gurunya berasal dari abad 20, dan sekolahnya abad 19”.

Globalisasi memberikan implikasi mendasar bagi guru, dan pendidikan pada umumnya. Kecenderungan yang digambarkan membawa guru untuk“ mampu datang lebih awal” ke dalam dunia kehidupan peserta didik masa depan. Artinya, guru harus memiliki wawasan dan kesadaran global sebagai kecakapan dan orinetasi nilai di dalam memfasilitasi perkembangan peserta didik mengembangkan dirinya yang tetap mengakar kepada budaya dan jati diri bangsanya. “Ada kecakapan penting yang harus dikuasai guru, yaitu menciptakan proses perkembangan sinergis peserta didik antara orientasi kehidupan global dengan nilai kehidupan kultural bangsanya”. Ungkapan ini disampaikan  oleh Prof. Dr. Sunaryo, Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, saat pidato Wisuda Gelombang I Tahun 2015 yang lalu.

Menurut Sunaryo, kedua orientasi nilai yang mungkin saling bertentangan, harus disinergikan secara harmonis. Guru harus membangun pola pikir (mindset) kesatuan di dalam keragaman. “Bukankah itu juga semboyan negara kita yang berbunyi Bhinneka Tunggal Ika? Sungguh bukan hal baru, tetapi terasa baru dan bahkan asing karena selama ini kita tak pernah memaknai itu sebagai realitas proses pendidikan,” ujarnya.

Dalam pendidikan, bahwa guru “harus mampu datang lebih awal” kedalam dunia kehidupan peserta didik masa depan. Mendidik guru masa depan adalah mendidik guru yang memiliki keseimbangan wawasan dan kesadaran nasional-global serta mampu  mengembangkan kecakapan negosiasi (negotiating skills) peserta didik untuk mensinergikan kedua orientasi nilai kehidupan dimaksud. Wawasan, kesadaran, dan kecakapan yang disebutkan mesti menjadi bagian dari proses pendidikan guru dan kecakapan guru masa depan. Upaya ini adalah tanggung jawab bersama, yang harus diwujudkan dalam pendidikan professional guru.

Guru tidak lagi bisa menyamakan alam pikirannya dengan alam pikiran siswanya. Jika guru berasumsi demikian, ia akan mengajar dengan atau memaksakan kehendak sehingga berdampak pada “mematikan kreativitas” anak didik. Guru perlu memasuki ‘dunia anak didik’nya, sehingga kebutuhan belajar anak secara kognitif, afektif, dan psikomotorik akan terpenuhi. Guru merupakan ‘role model’ peserta didik sehingga tampilan awal guru sangat berpengaruh terhadap kelanjutan pembelajaran para peserta didik, melalui penyajikan pembelajaran yang menarik, dan menginspirasi.

Sumber daya guru harus sesuai dengan tuntutan spesifikasi, sertifikasi, dan kompetensi yang diinginkan anak didik. Dan, aspek tersebut, harus terakomodir dalam pemenuhan Standar Pelayanan Minimal bidang pendidikan. Hal ini mengingat, bahwa tanpa guru kompeten maka sarana dan prasarana yang ada tidak dapat dioptimalkan pemanfaatannya.

Upaya yang dapat dilakukan guru dalam memenuhi harapan pengembangan profesi dapat dilakukan dengan:
1) Memahami tujuan pendidikan dan pengajaran secara jelas dan konkret. Berusaha memahami dan memilih bahan pengajaran sesuai dengan tujuan dan berusaha memahami problem, minat dan kebutuhan dalam proses belajar subjek didik.

2) Mengorganisasikan bahan dan pengalaman belajar dan mendayagunakan sumber belajar yang ada, serta berusaha memahami, menyeleksi dan menerapkan metode pembelajaran.

3) Berusaha memahami kesanggupan membuat dan mendayagunakan berbagai alat pelajaran serta berusaha membimbing dan mendorong kemajuan pertumbuhan dan perkembangan belajar subjek didik.

4) Mampu menilai program dan hasil belajar yang telah dicapai dan mengadakan penilaian diri sendiri untuk melihat kekurangan dan keberhasilan pelaksanaan tugasnya.

5) Profesional reading (berusaha membaca bahan-bahan yang relevan dengan tugas profesinya) dan profesional writing (berusaha mengembangkan diri dengan menulis karya ilmiah dari berbagai media) serta indivisual conference (pertemuan pribadi antara sejawat dengan ahli lain dalam mengembangkan wawasan keilmuan dan wawasan proses dan strategi pembelajaran).

6) Exprimentation, yaitu berusaha melakukan percobaan-percobaan dan inovasi yang ditemukan, atau strategi pembelajaran baru (Soetopo, 2005).

Jika seluruh komponen pendidikan dan pengajaran tersebut dipersiapkan dengan sebaik-baiknya, maka mutu pendidikan dengan sendirinya akan meningkat. Keberhasilan dalam mendidik, maka guru harus mampu melaksanakan ‘inspiring teaching’, yaitu guru yang melalui kegiatan mengajarnya mampu mengilhami anak didiknya.

Melalui kegiatan mengajar yang memberikan ilham ini guru yang baik adalah guru yang mampu mengidupkan gagasan-gagasan yang besar, keinginan yang besar pada anak didiknya, sehingga mereka mampu menembus batas cita-cita anak bangsa yang sukses di masa depan.

Sebagaimana diungkapkan oleh Abdullah Munir (2010:119) dalam “Spiritual Teaching”, jika pendidikan dari guru membawa hasil bagi seorang anak, orang yang akan menikmati hasilnya, tentu bukan gurunya. “Ibarat bambu, nasib murid setinggi betung, tapi nasib guru setinggi ruas-ruasnya”, begitu kata pepatah. Boleh jadi murid-muridnya besok menjadi orang-orang sukses, terkenal di seantero negeri. Ada yang jadi gubernur, jadi presiden, jadi pengusaha, jadi artis, jadi ilmuwan dsb. Namun seorang guru tetap saja guru, dengan penghasilan dan popularitas yang tak sebanding dengan apa yang telah diraih murid-muridnya itu. Tapi… yah, itulah guru! Wallahu A’lam (*)
*) Pensiunan pns guru SMAN 2 Tanjungpandan, Belitung.