banner 728x90

Guru dan Tantangan Profesionalisme

Oleh: SADELY ILYAS*
(Pemerhati pendidikan, pensiunan PNS Guru tinggal di Tanjungpandan, Belitung)

Sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan yang menaruh harapan besar bagi bangsa ini agar dapat bangkit dari keterpurukan dalam berbagai aspek kehidupan. Dari pendidikan formal inilah diharapkan lahirnya anak didik yang berkarakter, ‘melek’ ilmu pengetahuan dan teknologi serta berkepribadian akhlakul karima. Namun, kehadiran mereka tidak hanya ditunggu dan dikhayalkan. Anak didik masa depan itu harus diupayakan serta dimunculkan dengan  sistematis, dan terstruktur melalui lembaga pendidikan. Di lingkungan sekolah, guru merupakan ‘aktor’ utama untuk mewujudkan kualitas pendidikan yang dicanangkan. Tanpa keterlibatan aktif guru, pendidikan akan kosong dari materi, esensi, dan substansif.

Parameter profesionalisme guru adalah mampu mengantarkan anak didik dalam meraih prestasi untuk menatap masa depannya. Sehebat apa pun seorang guru jika tidak mampu mengantarkan anak didik menjadi orang sukses, maka dia masih dikatakan gagal. Mengantarkan anak didik menjadi orang berprestasi, tidak hanya bermodalkan ilmu dan wawasan yang luas, tetapi juga mampu mengenali bakat anak didik, menampakkan bakat tersebut kepermukaan, dan mengembangkannya secara maksimal sehingga anak didik mempunyai identitas yang jelas dalam hidupnya sesuai dengan bakat yang dimiliki; apa sebagai ilmuwan, birokrat, politikus, pengusaha, atlet, pebisnis, atau artis?

Jamal Ma’mur Asmani (2016), dalam “Great Teacher” menegaskan, secanggih apapun sebuah kurikulum, visi-misi, dan kekuatan finansial, sepanjang gurunya pasif dan stagnan, maka kualitas lembaga pendidikan akan merosot tajam. Sebaliknya, selemah dan sejelek apapun sebuah kurikulum, visi-misi, dan kekuatan finansial, jika gurunya inovatif, progresif, dan produktif, maka kualitas lembaga pendidikan akan maju pesat. Lebih-lebih jika sistem yang baik ditunjang dengan kualitas gurunya, maka kualitas pendidikan akan semakin baik. Seorang guru yang profesional adalah seorang guru yang memiliki pengetahuan yang luas, dan tidak sekadar ‘text book’ terhadap bidang studi yang menjadi bahan ajarnya. Dengan memiliki kemampuan terhadap lapangan pengetahuannya, seorang guru tentu bisa memilih model, strategi, dan metode pengajaran yang tepat untuk murid-muridnya

Di sinilah letak strategis guru dalam dunia pendidikan. Karena tidak ada pilihan lain, seorang guru harus memposisikan diri sebagai “guru yang ‘tahan banting” dengan segala kreasinya sebagai guru inspiratif, inovatif dan motivatif. Sebagai guru yang mampu mengadaptasikan dirinya dengan tuntutan zaman yang kian maju dan kompetitif seperti sekarang ini.

Dari berbagai informasi, jika kita belajar tentang ‘potret’ guru di Negara maju, sangat efektif untuk membandingkan kondisi guru di negeri kita. Dalam konteks ini, kita tidak melihat dari sisi kesejehteraannya yang jelas di atas kesejehteraan guru-guru kita. Kita hanya melihat esensi peran guru di Negara maju, maka banyak pelajar-pelajar Indonesia dari keluarga kaya lebih memilih pendidikan di luar negeri dari pada di dalam negeri sendiri.

Guru-guru di negara-negara maju menganggap pendidikan sebagai bagian hidup, tidak hanya untuk mencari kesejehteraan ekonomi. Bagi mereka, pendidikan adalah bagian tak terpisahkan dalam hidup dan kehidupan. Pendidikan bukan semata instrument untuk mencari pekerjaan. Pandangan hidup atas pendidikan seperti inilah yang membuat konsep “pendidikan sepanjang hayat” (life long education) yang mampu dipahami dan dilaksanakan dengan baik. Lain halnya dengan pendidikan di Indonesia yang diorientasikan pada ukuran nilai kognitif, sebatas NEM. Menurut Mudjia Rahardjo, bahwa untuk bisa hidup di Negara-negara Barat, seseorang harus berpendidikan. Jadi tidak aneh, jika di Negara maju seseorang bisa mengambil jenjang pendidikan doktoral di usia 80 tahun, lalu lulus padausia 85 tahun.

Di negeri kita lain pula, seseorang menempuh pendidikan lebih didasarkan pada kepentingan untuk mendapatkan pekerjaan, dan bukan untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Pegawai negeri oriented” alias “pegawai kantoran” jika sudah bergelar sarjana, lebih dominan. Kalau tidak, mereka ikhlas menjadi pengangguran intelek?

Falsafah pendidikan semacam ini sejatinya mengarahkan masyarakat untuk mereduksi fungsi pendidikan. Esensi pendidikan hanya dihargai sebatas tataran ekonomi. Padahal jauh lebih besar dari itu, pendidikan merupakan proses ‘pembentukan kemanusiaan’. Pada tataran praktis, pendidikan adalah bekal kehidupan seseorang. Pendidikanlah yang mampu mengantarkan manusia menuju kemakmuran dan kesejahteraan. Pendidikan esensinya menjadikan manusia berdedikasi tinggi, pro aktif (tidak malas), tidak gengsi untuk berkreasi menciptakan lapangan pekerjaan apa saja yang “halal” menurut pandangan agama menuju kemakmuran dan kesejahteraan tadi.

Karena menghayati pendidikan sebagai bagian dari kehidupan, maka guru di Negara maju menjalankan fungsi kependidikan secara penuh, tidak setengah-setengah — guru yang tidak hanya “kebetulan mejadi guru” karena tidak ada pekerjaan lain — mengabdikan hidupnya demi pendidikan. Dari sinilah peningkatan kualitas terus menerus bisa dicapai dengan baik dan maksimal.

Di era globalisasi sekarang, kita memasuki tahap baru dalam Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) atau Asean Free Trade Area (AFTA), dengan pasar bebas tenaga kerja, ekonomi, dan budaya. Suka tidak suka bangsa kita akan tetap menjadi bagian tidak terpisahkan dari sebuah komitmen ekonomi baru, yang tentu membawa dampak dalam kehidupan masyarakat, baik secara positif maupun negatif. Memahami globalisasi adalah salah satu tugas utama guru untuk membentengi anak didiknya dari dampak negatif budaya global. Di era tersebut, kompetisi berjalan secara ketat. Barang siapa tidak siap, maka akan tersisih dengan sendirinya. Persaingan tersebut berkisar tiga kekuatan yang sangat tidak seimbang. Sebagaimana diistilahkan Alfin Toffler, dunia saat ini sudah berada pada gelombang ketiga (the thrid wave), yaitu terjadinya revolusi informasi secara eskalatif. Pada gelombang ini, basic power bertumpu pada mind atau rasio. Sedangkan pada gelombang kedua (revolusi industri), basic power berada pada money (uang). Adapun gelombang  pertama (revolusi pertanian), basic power bertumpu pada muscle (otot). Oleh karena itu, para pakar menyebutkan dua ciri dari globalisasi; transparasi (keterbukaan) dan liberalisasi (persaingan bebas) sebagai konsekuensi logis dari era informasi.

Memang tidak semua guru bisa melakukan hal ideal, karena banyaknya kendala yang dihadapi. Mulai dari ketiadaan biaya, usia yang sudah lanjut, kesibukan, dan alasan lain yang membuat guru tidak mampu memenhuhi cita-cita besarnya. Apa lagi harus memenuhi persyaratan yang diwajibkan negara, seperti dalam hal sertifikasi dan strata S1.

Akan tetapi bagi guru-guru muda khususnya, tidak ada alasan yang membuat mereka mundur. Sebab, masa depan, tantangan, dan peluang sudah di depan mata. Hidup bagi guru adalah kompetisi, maka secara alamiah, ia akan tersisih dan termarginalkan dalam arus perubahan dahsyat era globalisasi dengan produktivitas ilmu pengetahuan modern. Dalam konteks ini, profesionilisme adalah keniscayaan dan juga tantangan.

Cuma ada yang mesti digaris bawahi, jangan kita mendewakan formalisme dan simbolisme. S1, S2, S3, dan professor adalah ‘simbol formal’. Hal yang penting, bukan simbolnya, tetapi kedalaman ilmu, luasnya wawasan, produktivitas berkarya, serta hebatnya visi dan misi hidup yang dibangun atau dijalani, sehingga menjadi sumber inspirasi bagi orang lain, terutama bagi anak didik sebagai kader dan pelopor kebangkitan bangsa ini di masa depan.

Kelebihan dan kekurangan guru adalah dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Guru adalah manusia, makhluk sosial yang memiliki hati, akal, budaya serta cita-citanya. Karena itu, kelebihan yang ada sangat baik untuk ditingkatkan sehingga menjadi guru kreatif yang menjunjung tinggi integritas moral, spiritual, dan intelektual. Sementara kelemahan yang ada, sejatinya dikurangi sedikit demi sedikit, sehingga bisa menjadi peningkatan profesionalisme. Sebab tantangan guru ke depan semakin berat. Tentunya harus dihadapi dengan hati yang ikhlas, sebagai ibadah! Wallahu A’lam (*)

Related Search

Rate this article!
Tags:
author

Author: