banner 728x90

Harga Beras Naik 6%

banner 468x60

PANGKALPINANG – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bangka Belitung (Babel) menyatakan harga beras di sejumlah pasar tradisional mengalami kenaikan hingga enam persen dibanding awal Februari. Hal ini disebabkan karena pasokan dari sentra produksi beras berkurang. “Kenaikan harga beras selama Februari 2015 ini sudah tinggi dan diperkirakan akan terus mengalami kenaikan hingga akhir bulan ini,” kata Kepala BPS Babel, Herum Fadjarwati, Senin (23/2).
Berdasarkan pantauan petugas di lapangan, kata dia, harga beras kualitas premium mencapai Rp10.500 per kilogram, karena pasokan dan harga beras di daerah asal yaitu Pulau Jawa dan Sumatera mengalami kenaikan, sehingga berdampak langsung kepada harga di Pulau Bangka dan Pulau Belitung. “Pemerintah daerah harus mengambil kebijakan untuk menekan kenaikan harga beras ini,” ujarnya. Menurut dia, kenaikan harga beras itu akan memberatkan beban masyarakat kurang mampu dan memicu kenaikan inflasi. “Selama ini, harga kebutuhan pokok khususnya beras merupakan komoditas pemicu kenaikan inflasi,” ujarnya.
Untuk itu, kata dia, diharapkan pemerintah daerah segera mengambil tindakan, seperti menggelar operasi pasar, pasar murah, mendistribusikan beras untuk rakyat miskin (raskin) dan lainnya. Selain itu, pemerintah daerah juga bisa meminta para pengusaha, distributor kebutuhan pokok untuk lebih meningkatkan distribusi barang kepada masyarakat, sehingga dapat menekan kenaikan harga kebutuhan pokok.
“Saat ini, pemerintah pusat juga sedang membahas kenaikan harga beras ini dan mudah-mudahan akan menghasilkan kebijakan yang baik untuk menekan harga beras di daerah khususnya daerah kepulauan ini yang hampir 90 persen kebutuhan pokok masyarakat dipasok dari luar daerah,” ujarnya.
Menyikapi itu, Gubernur Babel Rustam Effendi berupaya agar kenaikan harga beras di tingkat nasional tidak memberatkan masyarakat. “Kita akan segera rapat bersama pihak terkait dan melibatkan semua unsur, apakah harus menggelar Operasi Pasar (OP) atau bagaimana menyikapi persoalan ini,” ujar Rustam. Ia menilai kenaikan harga beras di tingkat nasional ini, lantaran terjadi gagal panen yang dialami sejumlah petani beras dan bencana banjir. Akibatnya berimbas terhadap kenaikan harga beras.
“Kita akan upayakan bagaimana agar kenaikan ini tidak memberatkan massyarakat. Sebab jangankan di pusat naik, tidak naik pun harga beras di Babel cukup tinggi. Karena kebutuhan kita tergantung dari luar Babel,” ungkapnya.
Disisi lain, Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel mengatakan, stok beras di bulog masih cukup untuk mengendalikan harga. ”Apalagi sebentar lagi, sekitar Maret, sudah memasuki masa panen raya sehingga pasokan ke pasar akan kembali normal,” ujar Rachmat. Menurut Rachmat, jika pemerintah membuka keran impor beras pada Februari, beras tersebut diperkirakan masuk Indonesia pada Maret. Itu bersamaan dengan panen raya. ”Itu kebijakan ngawur sekali (kalau impor). Kasihan nanti petani-petani kita. Jadi, sebaiknya jangan,” tuturnya. Mendag mengakui, harga beras sekarang naik cukup tinggi, terutama di Jakarta. Itu disebabkan kurangnya pasokan dari beberapa daerah sentra produksi padi gara-gara musim hujan yang berkepanjangan. ”Jangan sampai karena harga yang naik ini, kita ditekan untuk impor. Lebih baik kita pakai stok bulog untuk operasi pasar,” tegasnya.
Selain soal pasokan, Rachmat menduga ada beberapa oknum pedagang yang sengaja mempermainkan harga. Akibatnya, beras OP dari bulog yang disalurkan melalui pedagang tidak dijual dengan harga yang ditetapkan pemerintah, yaitu Rp 7.400 per liter ”Harga dari gudang itu Rp 6.800 per liter. Seharusnya, sudah untung Rp 600 per liter, tapi malah dioplos,” ungkapnya. Karena itu, pemerintah memutuskan untuk mengurangi pasokan beras OP ke pedagang. Bulog akan lebih banyak melakukan OP langsung kepada masyarakat. Dalam OP beras langsung kepada masyarakat itu, Bulog menjual dengan harga Rp 7.400 per liter. Harapannya, harga beras di pasaran dapat berangsur turun. ”Kita akan evaluasi beberapa minggu lagi,” kata Rachmat.
Sekretaris Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Jimmy Bella menjelaskan, salah satu penyebab harga beras tidak stabil adalah kurangnya pasokan dari produsen ke Pasar Induk Beras Cipinang. ”Ini masih terkait produksi. Keterlambatan pasokan mengakibatkan harga naik, seperti banjir, hujan, dan jalan rusak,” terangnya. Menurut Jimmy, OP bulog difokuskan di wilayah Jabodetabek karena 90 persen pasokan beras di wilayah tersebut masih bergantung pada daerah lain. ”Daerah lain (luar Jabodetabek, Red) itu produsen. Jadi, distribusinya tidak bermasalah dan harganya juga masih relatif stabil,” jelas Jimmy.
Menurut sebaran, kebutuhan beras di wilayah Jakarta berasal dari Jawa Barat 60 persen, Jawa Tengah 20 persen, Jawa Timur 3 persen, dan sisanya (17 persen) berasal dari daerah antarpulau seperti Lampung serta sebagian kecil dari Sulawesi. Akibat anomali cuaca, produksi beras di daerah terhambat. ”Kita berharap Maret sudah kembali normal,” tuturnya.(cr62/ant/rb)

banner 300x250

Related Search

banner 468x60
Rate this article!
Harga Beras Naik 6%,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: