banner 728x90

Harga Sembako Jelang Ramadan

TIDAK bisa dipungkiri. Harga bahan pokok di tanah air selalu bergerak naik jelang memasuki hari-hari besar keagamaan. Seperti puasa di bulan Ramadan, Idul Fitri dan lainnya. Harga bahan pokok selalu melambung. Menambah kesusahan masyarakat. Padahal kita sedang mengalami periode ekonomi yang tidak terlalu menggembirakan. Roda ekonomi yang sedikit melambat.

Kenaikan harga bahan pokok diprediksi juga terjadi jelang dan saat Ramadan tahun ini. Saat melaksanakan ibadah puasa, umat muslim tahah air selalu dipusingkan dengan kenaikan harga bahan pokok. Tingginya permintaan menjadi salah satu penyebab. Hukum ekonomi mengatakan, apabila stok barang terbatas tapi permintaan tinggi, maka terjadilah lonjakan harga. Sudah pasti.

Faktor ini mestinya tidak perlu terjadi. Pengambil kebijakan mestinya sudah menyiapkan langkah antisipasi. Terutama bagi yang mengurus bidang pangan. Sebab hari-hari besar keagamaan yang biasanya diiringi dengan kenaikan harga bahan pokok sudah terjadwal.

Stok terbatas yang selama ini menjadi dasar alasan menaikan bahan pokok seharusnya bisa dikendalikan. Pemerintah bisa masuk ke petani untuk mengatur pola tanam. Jangan sampai pada hari-hari besar tersebut stok justru terputus. Atau menyiapkan impor yang sewaktu-waktu bisa didistribusikan ke pasar jika terjadi kelangkaan akibat kehabisan suplai dari petani.

Kenaikan harga bahan pokok ternyata tidak dinikmati oleh petani. Juga tidak dihendaki pedagang pengecer. Petani menjual produk tetap harga biasa. Sementara pedang malah mengeluh, karena dagangannya tidak laku. Masyarakat menahan diri, karena harga tidak terjangkau, sehingga memperlambat perputaran modal pedagang.

Lalu siapa yang mendapat keungungan besar? Justru yang panen besar adalah pemodal yang memang sengaja mengeruk keuntungan dalam situasi sulit masyarakat. Kelangkaan sengaja diciptakan oknum yang sengaja menimbun sehingga terjadi kelangkaan di pasar. Saat itulah terjadi gejolak di pasar yang berujung pada melonjaknya harga. Para spekulan tahu betul kapan waktunya masyarakat sangat memerlukan bahan pokok. Saat itulah kesempatan mendapatkan keuntungan besar. Alasan suplai terputus, pedagang harus ikut bermain seusai dengan permainan yang dilakonkan spekulan.

Jelang memasuki Ramadan tahun ini, kita berharap tidak terjadi lonjakan harga keperluan bahan pokok. Sikap tanggap aparat, terutama kepolisian sedikit menghebuskan ‘’angin sehat’’. Akan memenjarakan pelaku curang yang menimbulkan gejolak harga bahan pokok di pasar. Itu menggambarkan sudah ada antisipasi dari pihak berwenang untuk mencegah lonjakan harga. Tinggal tindakan nyata dari pihak berwenang lainnya.

Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polisi Republik Indonesia mulai mengawasi pergerakan bahan pokok. Bareskrim mulai melakukan pengawasan terhadap kemungkinan adanya spekulan yang berupaya mengambil untung besar dan cenderung tidak wajar jelang bulan Ramadan. Kepolisian sudah mencium kemungkinan itu. Terutama terhadap harga daging kerbau impor. Sebab itu, Bareskrim mengancam kepada siapa saja yang berusaha bertindak curang dengan tindakan hukum.

Kenaikan harga sudah diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag)  63/M-DAG/PER/9/2016 tentang penetapan harga acuan pembelian di petani dan harga penjualan di konsumen. Aturan tersebut menetapkan panduan penentuan harga kepatutan yang wajar. Melanggar aturan ini bisa dikategorikan sebagai pelanggaran pidana.

Semoga kepolisian memegang komitmennya, menjerat siapa saja yang melakukan tindakan curang yang menyebabkan gejolak harga di pasar. Sehingga masyarakat yang seharusnya mamasuki bulan Ramadan dengan tenang tidak dipusingkan lagi dengan harga bahan pokok yang melambung. Diperlukan partisipasi banyak pihak untuk mencegah tindakan nakal spekulan. Jangan beri ruang gerak kepada orang-orang yang hanya mengejar keuntungan, tapi justru merugikan orang lain.***

Related Search

Rate this article!
Tags:
author

Author: