banner 728x90

Hasil Sawit Meningkat Petani Wacanakan Dirikan Pabrik

sawit_petani

ilustrasi sawit petani

MANGGAR –  Tandan Buah Segar (TBS) yang dihasilkan dari perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Belitung Timur (Beltim) meningkat signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini terungkap dalam rapat dengar pendapat yang difasilitasi DPRD Beltim bersama petani dan suplayer yang menuntut keterbukaan PT Parit Sembada, Rabu (12/7) kemarin.

Meski keluar dari pembahasan tuntutan, perihal peningkatan panen kelapa sawit dijadikan alasan pihak manajemen perusahaan untuk mengajukan penambahan kapasitas pabrik.

Humas PT Parit Sembada, Bambang mengungkapkan pabrik mereka terkendala minimnya kapasitas produksi. Hal ini berdampak pada pembatasan jumlah pasokan TBS dari petani dan suplayer.

“Kendalanya, sebenarnya pabrik pun kapasitasnya terbatas. Apalagi buah petani (panen, red) naik sekarang, itulah yang sulit ya. Buah petani naik, kita juga kesulitan juga dan mungkin pada waktu itu mau hari raya mungkin panennya juga meningkat,” ujar Bambang.

Di lain pihak, sikap perusahaan dinilai terlalu arogan terhadap petani kelapa sawit. Karenanya, petani dan suplayer telah membentuk organisasi guna menyikapi arogansi manajemen pabrik yang semena-mena.

Juru bicara petani dan suplayer kelapa sawit, Jung Min membenarkan jika beberapa petani dan suplayer menganggap perlu membentuk organisasi sebagai wadah bernaungnya petani dan suplayer.

“Kedepan kita sudah ada bikin persatuan petani sawit dan pemasok TBS pulau Belitong yang tujuannya kita harus menggalang petani se Pulau Belitung,” ujar Jung Min.

Petani sawit, kata Jung Min, merasa sikap beberapa perusahaan perkebunan yang menerima pasokan TBS tidak berniat membantu petani dalam hubungan sebagai mitra strategis.

“Kita menilai pabrik yang ada sekarang, PKS yang ada sekarang adalah pemodal asing yang penuh aturan. Yang kalau kita lawan kita kalah,” sebutnya.

Menurut dia, tidak upaya lain selain membangun kekompakan petani yang membuat perusahaan harus menjalankan investasi secara benar. “Harus kita lawan dengan kekompakan atau dengan persatuan kita ini akan menjadi lebih fair,” tegasnya.

Meski demikian, ketergantungan petani dan suplayer kelapa sawit berangsur-angsur harus dikurangi. Salah satunya dengan membangun pabrik pengolahan kelapa sawit secara swadaya.

“Jangka panjangnya kita juga pikirkan dengan persatuan ini, kita ada wacana untuk membuka pabrik swadaya masyarakat, kami juga harus meminta dukungan pemerintah. Pemilik modalnya adalah masyarakat petani khususnya. Jadi kita tidak diremehkan. Kalau itu terjadi, ini ancaman bagi perusahaan asing,” ulasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, pembahasan tujuh tuntutan petani dan suplayer masih belum selesai. Pihak DPRD Beltim bersama para pihak hanya menyepakati pembentukan tim perumus yang akan mengkaji dan mencari jalan keluar atas tuntutan. Sejauh ini, tim perumus beranggotakan petani dan suplayer, manajemen PT Parit Sembada, staf Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan dan anggota DPRD Beltim. (mg1)

Related Search

Tags:
author

Author: