banner 728x90

Hentikan Aktifitas Reklamasi

banner 468x60

*Puluhan Nelayan Demo Kantor Bupati
*Aturan Penimbunan Tidak Dibenarkan
*Kades Air Sagak Akui SKT Sudah Terbit

Bupati Belitung Sahani Saleh dan Jajaran Dirjen PSDKP Kementerian Kelautan dan Perikanan saat memantau aktifitas penimpunan laut atau reklamasi di Pantai Gayam, Kawasan Air Sagak, Senin (2/10) kemarin.

belitongekspres.co.id, TANJUNGPANDAN – Puluhan nelayan menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Belitung, Senin (2/10) kemarin. Kedatangan para nelayan ini bertujuan untuk menuntut pemberhentian aktifitas reklamasi di Pantai Gayam, Desa Aik Sagak, Kecamatan Tanjungpandan.

banner 300x250

Pantauan Belitong Ekspres, setelah berorasi sejumlah perwakilan nelayan kemudian melakukan dialog langsung dengan Bupati Belitung Sahani Saleh beserta jajarannya, di ruang rapat Pemkab Belitung. Usai dialog Bupati Belitung bersama para nelayan langsung mengecek lokasi penimbunan reklamasi tersebut.

Setiba di lokasi, Bupati Belitung dan rombongan nelayan tidak ada aktifitas yang berlangsung. Malah yang hanya terlihat adalah satu unit excavator mini, tumpukan pasir dan pohon-pohon bakau yang hampir rata tertimbun pasir.

Dirjen Pengawas Sumber Daya Kelautan Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Syahril Dahlani menegaskan, penimbunan dari bibir pantai mengarah kelaut itu tidak dibenarkan.

Apalagi ini sifatnya perorangan. “Jelas ini ada pengrusakan lingkungan. Dan ini bisa kena 2 Undang-Udang (UU). Baik itu UU kelautan maupun UU perikanan. Dimana ada kerusakan sumber daya perikanan. Belum lagi kerusakan dengan pohon bakau atau mangrovenya,” katanya.

Sementara itu, Samsu Rizal, salah seorang nelayan mengatakan, ini menyangkut kepentingan orang banyak bukan hanya nelayan saja. Ia mengaku, pihaknya juga sudah beberapa kali menyampaikan kepada pemilik, namun tidak ada respon.

“Kabarnya SKT sudah terbit, lantas pembuatan SKT ini besar kemungkinan hanya sepihak. Karena para nelayan awalnya tidak dilibatkan dan tidak ada sosialisasi sebelumnya,” sebutnya.

Ia menambahkan, lokasi tersebut merupakan tambat labuh bagi kapal nelayan yang memang dari dulu sudah menambatkan kapalnya di lokasi tersebut, terutama pada saat musim barat.

“Dari segi aturan sudah jelas menyalahi aturan, dan masyarakat sementara ini meminta aktifitas dihentikan. Masyarakat tidak pernah ingin menghambat pembangunan, cuma diperhatikan juga kepentingan nelayan untuk akses jalan ke laut,” harapnya.

Terpisah, Kepala Desa Air Sagak Halim membenarkan SKT di lahan tersebut sudah terbit pada Tahun 2015 lalu. Lantas, dirinya akan segara mencabut SKT tersebut, sesuai dengan instruksi dari Bupati pada hari ini.

“Kalau musim barat pantai ini memang dijadikan nelayan untuk menambat kapal mereka. Sebenarnya lokasi ini namanya bukan Pantai Gayam tetapi pantai Pantai Kik Dul,” tukasnya saat dikonfirmasi harian ini.

Menanggapi tuntutan warga nelayan, Bupati Belitung Sahani Saleh (Sanem) meminta agar pihak-pihak terkait untuk menghentikan aktivitas penimbunan laut atau reklamasi di Pantai Gayam, Desa Aik Sagak.

Bahkan Sanem memerintahkan kepada pihak kepolisian untuk melakukan police line sementara aktivitas reklamasi di pantai yang menjadi tempat berlabuh perahu nelayan tersebut.

Pasalnya, ia mengakui belum ada izin untuk melakukan aktivitas penimbunan (reklamasi) di lokasi pantai yang berada Jalan Patimura itu. “Batas tanah mereka sampai di sini (sebelum hutan bakau,red). Termasuk seluruh hotel yang ada di kawasan Jalan Pattimura dan Air Sagak,” pungkasnya. (rez/kin)

Related Search

banner 468x60
Rate this article!
Tags:
author

Author: