banner 728x90

Ini Cara Bhabinkamtibmas Alihkan Generasi Muda Dari Perilaku Negatif

Bhabinkamtibmas Desa Baru, Brigadir Medes P Ariansyah sedang mengajari para pemuda Desa Baru membuat kerajinan tangan dari limbah tulang ikan.

MANGGAR – Perilaku negatif yang dilakukan generasi muda sebenarnya bentuk aktualisasi pencarian jati diri.

Pada dasarnya keinginan untuk mendapat pengakuan menjadi penyebab utama pemicu perilaku negatif yang paling mudah mereka tampilkan.

Hal tersebut diungkapkan Bhabinkamtibmas Desa Baru Kecamatan Manggar, Brigpol Medes P Ariansyah saat melatih pemuda Desa Baru untuk membuat kerajinan berbahan dasar tulang ikan, Senin (26/11) kemarin.

“Kita menjadikan ini (kerajinan) sebagai cara kami lebih mendekatkan diri dengan pemuda. Fokus kami bukan pada pemuda yang sudah dianggap baik seperti remaja masjid. Kami fokus pada pemuda yang biasanya nongkrong di jalan, sering minum atau ribut berkelahi karena saya berpendapat mereka meminta perhatian orang lain,” ujar Medes.

Menurut Medes, aktifitas negatif pemuda dapat diarahkan pada kegiatan positif yang berguna sebagai modal hidup mereka. “Bukan mereka nakal, tapi ingin menunjukkan bahwa mereka ada. Kedepannya dengan kedekatan kami, mereka akan terhindarkan dari hal-hal negatif. Kami latih mereka agar kedepan bisa menjadi modal melakukan kegiatan-kegiatan produktif,” sebut Medes.

Beberapa kerajinan tangan yang diajarkan merupakan pemanfaatan limbah. Seperti tulang ikan, botol plastik bekas minuman hingga limbah kayu. Khusus tulang ikan misalnya, dapat dibuat menjadi berbagai bentuk objek setelah melalui proses kreatifitas.

“Awalnya Desa Baru ini, dari Kabupaten juga dibuat sebagai tempat pengolahan ikan. Dari limbah ikan ini, kita berfikir bagaimana agar jangan cuma daging ikan saja yang dikelola tapi juga tulang dan kulit ikan. Dari sanalah inisiatif kita muncul apa yang bisa bermanfaat,” jelasnya.

Bagi Medes, pelatihan yang diberikan kepada tiap-tiap elemen masyarakat dapat diarahkan sesuai potensi limbah di daerah masing-masing.

“Beberapa kali pelatihan sudah kita buat untuk memanfaatkan limbah ikan terutama tulang ikan. Selain itu, kita mengajak ibu-ibu mengelola barang bekas untuk dijadikan kerajinan tangan. Hasilnya cukup memuaskan, dengan dihasilkannya beberapa produk dan pemasarannya melalui Bumdes,” kata Medes.

Meski demikian, Medes mengakui produk kerajinan hasil limbah belum banyak diketahui pengunjung secara luas. Kehadiran galeri yang dikelola Bumdes masih sangat minim kunjungan.

“Kendala saat ini adalah kurangnya wisatawan yang datang melihat ke Bumdes sehingga pemasaran produk kerajinan tangan yang dihasilkan masyarakat belum maksimal,” ulas Medes.

Saat Belitong Ekspres mengunjungi workshop pelatihan kerajinan tangan berbahan dasar limbah di Desa Baru, sejumlah pemuda sedang serius membuat kerajinan dari tulang ikan.

Pada sisi lainnya, para ibu-ibu juga sedang membuat kerajinan tangan berupa tas berbahan dasar plastik. Serta pembuatan meja kursi dari bahan kayu yang selama ini tidak termanfaatkan. (msi)

Related Search

author

Author: