banner 728x90

Ironi Negeri dengan Kekayaan Alam Melimpah

banner 468x60

SEBENARNYA, kita sebagai warga negara Indonesia patut bersyukur telah diberikan negeri dengan kekayaan alam yang melimpah ruah. Bumi nusantara yang membentang dari Barat ke Timur dengan garis pantai terluas di dunia, beribu pulau dengan berbagai macam hasil buminya, telah menjadi incaran bangsa asing sejak dahulu kala. Bahkan, salah satu daerah di Indonesia bernama Barus yang terletak di Pesisir Barat Sumatera, telah tercatat dalam sejarah dunia dahulu kala sebagai negeri penghasil utama kamper atau yang lebih dikenal sebagai kapur barus. Bahan ini telah menjadi salah satu bahan pengawet mumi Firaun di negeri Mesir kuno. Belum lagi, gelar swarnadwipa atau negeri emas yang pernah disematkan ke Pulau Sumatera. Dan yang paling dicari bangsa lain menjajah nusantara ini, rempah-rempah, membuat bangsa mana saja akan ngiler.

banner 300x250

Itu dulu. Kini di negeri yang berlimpah kekayaan alam itu, penduduknya seperti ayam mati di lumbung padi. Segala sumber daya alam yang besar itu, nampaknya makin sulit untuk dinikmati. Entah ke mana perginya. Minyak bumi yang berlimpah dan bahkan sempat menjadi andalan negara dalam menghasilkan pendapatan yang utama serta pernah menjadi negara yang tergabung dalam negara pengekspor minyak, kini tinggal kenangan. Minyak bumi seperti BBM jenis premium yang katanya masih disubsidi negara, kini harus antre mendapatkannya. Bahkan beberapa waktu lalu sempat hilang.

Belum lagi kalau bicara gas. Indonesia yang kini masih menjadi negara yang memiliki cadangan gas terbesar di dunia ini, rakyatnya harus berkeliling menggotong tabung melon hanya untuk mencari gas subsidi yang juga hilang-hilang timbul dan harga yang merangkak naik. Sama juga halnya dengan listrik. Secara resmi sejak Juli, listrik masyarakat 900 KVA yang banyak dinikmati masyarakat kalangan menengah telah dihapuskan subsidinya. Maka terkejutlah para kaum setengah miskin itu saat membayar tagihan mereka. Belum lagi kalau bicara masalah sembako.

Baru-baru ini, berita aneh tapi nyata menghentak rasa ketidakpercayaan masyarakat. Garam langka dan harganya naik. Maka untuk memenuhi pasokan masyarakat, pemerintah terpaksa mengimpor garam dari negara lain. Wow, susah sekali dipercaya. Negara dengan pantai terpanjang di dunia, di negeri ini garamnya langka. Sepertinya laut di Indonesia tidak lagi asin. Mungkin lebih asin agaknya nasib penduduknya yang kini makin sering mendengar berita yang sukar dipercaya oleh akal sehat. Ke mana semua kekayaan alam negeri ini. Tidak bolehkan rakyat sedikit menikmatinya?

Di balik semua ini, tentu masyarakat akan mempertanyakan kinerja pemerintah. Apa sebenarnya tujuan negara ini dan akan dibawa ke mana negara ini yang makin hari terasa makin jauh dari rasa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Perekonomian yang dalam kenyataan makin susah, masyarakat menengah dan golongan bawah terpaksa harus berjuang lebih keras lagi menghadapi kehidupan yang makin sulit. Sementara itu, para elite dan pejabat selalu bertengkar dan sibuk memperjuangkan nafsu politik masing-masing. Utang negara makin menumpuk. Rakyat masih saja jadi jualan jika ada kepentingan. Sungguh ironis sekali.

Kini, masyarakat hanya bisa melihat dagelan baru tentang dana haji yang akan dipinjam pemerintah untuk pembiayaan proyek-proyek infrastruktur. Kegaduhan berlanjut kembali. Pro dan kontra berkecamuk. Umat Islam yang tak ingin dana haji digunakan untuk hal-hal di luar penyelenggaraan ibadah haji, memprotes keras. Suasana beriak kembali. Masyarakat kembali jenuh. Mereka bosan dengan segala pertengkaran yang pada akhirnya tidak juga membuat beban hidup mereka sedikit terbantu. Mereka hanya bisa berdoa dan mengurut dada. Sampai kapan kegaduhan dan ketidakadilan ini akan berakhir.***

Related Search

banner 468x60
Tags:
author

Author: