banner 728x90

Januari-Maret, 11.500 H Sawah di Babel Panen

PANGKALPINANG – Dinas Pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) mengungkapkan dari 22 ribu hektare lahan sawah di Babel, 11.500 hektar lahan sawah diantaranya diprediksikan baru akan panen pada Januari-Maret mendatang.

“Tahun ini, Januari-Maret kita akan panen 11.500 hektare lahan sawah. Untuk lahan baru yang dicetak rata-rata bisa panen 2 hingga 3 ton, sedangkan lahan yang sudah jadi bisa diatas 6 ton seperti Rias, Bangka Selatan dan juga di Belitung Timur. Sementara, yang ditanam di lokasi eks tambang di Bangka, panen sekitar 3,8 ton. Mudah-mudahan akan menambah pasokan beras untuk provinsi kita kedepannya. Dengan hasilnya, semoga petani kita makin suka dengan sawah karena prospeknya bagus,” ujar Kepala Dinas Pertanian Provinsi Babel, Toni Batu Bara disambangi Babel Pos di Kantornya, Senin (8/1).

Dengan areal sawah mencapai 22 ribu hektare, Ia berkeyakinan jika semuanya tertanam dan ditunjang sarana dan prasarana memadai, maka Babel akan swasembada beras.

“Sementara, kita punya 22 ribu hekatre tapi tidak semua tertanami karena ada ada sekitar 20 persen bisa tanam dua kali, yang lain belum, karena irigasi harus bagus. Tapi kalau 22 ribu hektare lahan sawah ditanam semua, juga kalau bisa ditanam dua kali setahun, kita bisa swasembada. Untuk swasembada kita perlu 140 ton beras, kalau bisa 4 ton per hektar kalikan saja kita bisa swasembada.

Intinya, bagaimana kita menuju kearah sana, kita bekerjasama dengan kementerian PU, bagaimana irigasi primer dan sekunder, air disawah ditampung di irigasi dulu baru dibuang kelaut,” jelas Toni.
Mengenai program cetak sawah, ungkap dia, sudah rampung dilakukan oleh dua institusi TNI, baik di Bangka maupun Belitung.

“Semua sudah selesai, kelanjutannya kita akan langsung tanam, tanamnya tidak sempurna karena kita tidak mengharuskan rapi, yang penting ditanami dulu untuk menambah luas tanam sawah di Babel. 2018 tidak ada lagi (cetak sawah) kita tinggal lakukan review, identifikasi. Kedepan ada kegiatan pengelolaan lahan marjinal, atau lahan yang selama ini tidak termanfaatkan kita perkirakan diatas 5000 hektar,” beber Toni.

“Dengan pemanfaatan lahan marjinal yang belum dimanfaatkan, bisa kita kelola kita harapkan petani kita terbantu. Kita harap petani jangan malas mengelola lahannya,” sambungnya.
Menurut Toni, apabila petani lokal serius mengolah lahan sawah yang tersedia, maka dapat memberikan pendapatan lebih bagi keluarganya.

“Untuk masyarakat di pedesaan sehingga mereka tidak lagi berbondong-bondong pergi ke kota, cari kerja di kota.

Memang untuk sawah baru kerjanya setengah mati, berkeringat darah. Otomatis harga jual selama ini kurang terasa, kendala harga beras negara kita dibatasi, bagaimana beras medium ada di masyarakat harga Rp9 ribu. Kalau petani lokal ini Rp7.300 diserahkan bulog, tapi lebih bagus petani olah sendiri, jual sendiri. Memang sawah kita tidak banyak tapi kan kualitasnya bagus,” tukasnya. (fiz)

Related Search

Tags:
author

Author: