banner 728x90

Kampanye Imunisasi MR, Media Diminta Beri Pencerahan

//Babel Baru Tercapai 15,3 Persen dari 350 Ribu Anak

PANGKALPINANG – Peran media massa diharapkan dapat membantu memberikan dan menyebarkan informasi yang benar terkait dengan pelaksanaan imunisasi Measles dan Rubella (Campak dan Rubella) di Kepulauan Bangka Belitung (Babel).

Hal ini seperti disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Babel, drg. Mulyono saat Workshop Kampanye Imunisasi MR bagi awak media massa yang dilaksanakan di Ruang Pertemuan Dinas Kesehatan Provinsi Babel, Selasa (28/8).

Wokshop diikuti Direktur LPOM MUI Nardi Pratomo, Sekum MUI Babel KH Ahmad Lutfi, Perwakilan tim komunikasi UNICEF Indonesia, Diskominfo Babel, Biro humas, dan sejumlah media massa.

Kepala Dinas Kesehatan, drg Mulyono Susanto mengatakan, kampanye MR dimulai sejak awal Agustus. Hingga saat ini baru 15,3 persen yang melakukan imunisasi MR dari sasaran 360 ribu anak di Babel.

“Ini masih jauh dari yang kita harapkan, harusnya sudah 95 persen. Kita perlu mengejar ketertinggalan ini dengan berbagai upaya, sehingga yang menjadi hambatan dan halangan bisa diselesaikan. Masyarakat Babel punya karakteristik tersendiri tidak bisa disamakan daerah lain. Saya rasa media kita sudah mengenal ini, maka saya harap dibantu teman media,” katanya.

Mulyono berharap melalui media massa yang ada di Bangka Belitung dapat menyampaikan informasi yang benar dan jelas sehingga kesimpang siuran pemberitaan yang selama ini terjadi dapat diluruskan dengan baik.

“Intinya yang menentukan masyarakat bukan kita, melalui teman media masyarakat harus diberi informasi yang benar,” ujarnya.

Menambahkan, Direktur LPOM MUI Babel, Nardi menuturkan, secara nasional maupun di Babel sudah masuk dalam kondisi darurat. Sehingga harus preventif melakukan pencegahan.

“Emang kondisinya mendesak, tidak ada pilihan lain. Karena setelah dicek di seluruh dunia belum ada vaksin halal. Membuat vaksin baru membutuhkan 10-15 tahun,” jelasnya.

Media massa, lanjut Nardi, dapat menyampaikan informasi kepada masyarakat untuk melakukan pemberian vaksin campak dan rubella kepada anak anak mereka. “Jika orang tua punya prinsip dan pandangan sendiri kita tidak boleh memaksakan. Tapi dengan pencerahan dari media massa. Insya Allah banyak yang melakukan imunisasi,” harapnya.

Sementara, Tim Komunikasi dari UNICEF Indonesia, Rizky Ika Syafitri menuturkan, berkaca dari kejadian wabah difteri tahun lalu, media massa berperan menghalau mitos seputar imunisasi.

“Keterlibatan media sangat membantu, tahun lalu kami bekerja sama dengan Jawa Pos Grup mereka punya jaringan dan cukup independen. Belajar dari wabah difteri tahun lalu, kejadiannya karena tidak punya riwayat imunisasi atau imunisasi belum lengkap.

Rizky menyampaikan melalui informasi yang di sebarkan melalui media massa yang telah mengetahui kebenaran informasi akan meningkatkan pemahaman masyarakat atas pelaksanaan imunisasi campak dan rubella yang saat ini digencarkan oleh pemerintah.

“Contoh ada media yang membuat headline ‘lumpuh setelah imunisasi’. Setelah dicek tidak ada hubungannya lumpuh dengan imunisasi. Jadi pengaruh media ini sangat besar untuk memberikan informasi yang benar,” katanya.

Menambahkan, anggota Tim Komunikasi UNICEF Indonesia lainnya, Tomi Saputra mengatakan sekitar 57 ribu anak di dunia terjangkit Campak dan Rubella. “Indonesia negara kedua di dunia yang mana campak sebanyak 5.700 kasus congenital rubella syndrom,” jelasnya.

Pada Workshop ini juga disampaikan testimoni oleh orangtua dari anak penderita campak rubella.
Para orangtua ini berharap masyarakat tidak tertular atau menularkan Rubella. Oleh karenanya, masyarakat diharapkan dapat mencegah Rubella dengan melakukan vaksin.(Fiz)

Related Search

Tags:
author

Author: