banner 728x90

Kaum Intelektual di Persimpangan

oleh : saifuddin al mughniy
OGIE Institute Research and Political Development. Direktur Eksekutif Lembaga Kaji Isu-Isu Strategis (LKiS).
Anggota Forum Dosen Indonesia. Pendiri Roemah Literasi Titik Koma Indonesia. Pendiri Aufklarung School
Belitung. Dan Peneliti Maping Sosial di Belitung

belitongekspres.co.id, Peran dan posisi intelektual selalu menukik kepertanyaan siapakah intelektual. Meski sulit membedakan intelektual dan bukan intelektual, beragam defenisi berkenaan dengan intelektual secara garis besar dikelompokkan menjadi dua:

Pertama, pandangan yang menginterpretasikan intelektual dalam kerangka karakteristik-karakteristik khas, seperti seseorang yang baginya berpikir sebagai kerja sekaligus bermain atau mereka yang tidak pernah puas dengan bebagai hal sebagaimna adanya.

Kedua; definisi yang mengaitkan istilah intelektual dengan suatu struktur dan fungsi sosial tertentu atau melihat peran dan posisi intelektual dalam masyarakat serta kaitan antara pengetahuan dan kekuasaan. Berkenaan dengan posisi intelektual dalam masyarakat terdapat tiga pendekatan yang melihat intelektual sebagai kelas dalam masyarakat:

Pertama, pendekatan yang menempatkan intelektual sebagai kelas pada dirinya sendiri. Pendekatan ini meletakkan intelektual berposisi diatas awan lalu disebut benda–isme yang merujuk dari pandangan Julien Benda sebagai penghianatan kaum cendikiawan disebabkan antinomy antara kekuasaan dan kebenaran. Mencari kebenaran adalah pekerjaan kaum intelektual.

Menurut pandangan ini para intelektual yang bekerja dipemerintah atau perusahaan bisnis telah menghianati kebenaran karena ingin mendapatkan kekuasaan, popularitas, jabatan dan uang.

Kedua, pendekatan yang menganggap kaum intelektual merupakan bagian dari kelas itu sendiri yang berakar dari pemikiran Antonio Gramsci bahwa semua orang adalah intelektual namun tidak semua punya fungsi intelektual dalam masyarakat. Gramsci membagi beberapa tipologi intelektual:

a. Intelektual tradisional, yakni intelektual yang menyebarkan ide dan fungsi sebagai mediator antara masa rakyat dengan kelas atasnya. Termasuk kelas sosial lainnya.

b. Intelektual organik, yakni kelompok intelektual dengan badan penelitian dan studinya yang berusaha memberi refleksi atas keadaan namun terbatas untuk kepentingan kelompoknya sendiri.

c. Intelektual kritis, yakni intelektual yang mampu melepaskan diri dari hegemoni penguasa, elite kuasa, yang sedang memerintah dan mampu memberikan pendidikan alternatif untuk proses pemerdekaan.

d. Intelektual universal, yakni tipe intelektual yang berusaha memperjuankan proses peradaban dan sruktur budaya yang memperjuangkan pemanusiawian dan humanisme serta dihormatinya harkat manusia pada level masyarakat yang ada.

Ketiga, pendekatan yang melihat intelektual secara potensial bukan bagian dari kelas manapun tetapi sebagai orang bebas, ”free-floating” merujuk pada pemikiran Karl Mannheim dalam Ideologi dan Utopia—intelektual menyingkap secara total pandangan dunia dan sruktur sosial politik untuk memberikan saling pengertian di antara kelas–kelas yang ada dimasyarakat. Intelektual merupakan penjaga nilai keseluruhan yang ada dimasyarakat.

Namun menurut Pierre Bourdieu berbagai pendekatan intelektual selama ini gagal mencakup pandangan dimana intelektual itu diperbincangkan dan membentuk dunia intelektual secara keseluruhan.

Bourdieu mengajukan pandangan bahwa intelektual merupakan kawan keperjalanan (fellow travelers) bagi kelas yang tertindas. Menjadi intelektual hasil dari suatu pola hubungan relations

. Seseorang menjadi intelektual disatu sisi berdasarkan konsepsi diri dan pandangan terhadap orang lain (subjektif) dan disisi lain seluruh subjektifitasnya di tentukan oleh dan mendapatkan pengaruh dari posisi seseorang dalam ranah social (social field) tidak bisa dihilangkan begitu saja.

Bagi Bourdieu, intelektual menanggung kepentingan universal yakni mempertahankan kebenaran dan keberpihakan pada yang tertindas dengan alasan sebagai berikut:

Pertama, Intelektual merupakan fraksi subordinat, terdominasi dari kelas dominan (dominated fraction of dominant class) dengan demikian intelektual mempunyai solidaritas dengan kelas lain yang terdominasi terutama dominasi dalam kerangka kepentingan ekonomi.

Kedua, Intelektual secara tradisional mempunyai tanggung jawab moral dan sosial. Ketiga, Intelektual mempunyai otoritas untuk melakukan refleksi atas realitas yang dihadapi.

Paling utama bagi intelektual menurut Bourdieu adalah mempertahankan otonomi sebagai intelektual, yakni merdeka dalam berkarya, menyuarakan kepentingan kelompok yang terpingirkan oleh kuasa ekonomi dan politik.

Hal itu harus dilakukan karena kekuasaan ekonomi dan politik telah menghancurkan tatanan dunia sosial dan meluluhlantahkan otonomi intelektual. Kekuasaan politik dan ekonomi melalui penguasa yang berlebihan terhadap aktifitas intelektual bahkan mematikan setiap gerak hingga mekanisme sensor atas karya intelektual dan penetrasi uang telah menjadikan intelektual mengabaikan panggilan utama sebagai intelektual.

Jejak Intelektualisme Bicara intelektual sering membicarakan istilah intelegensia. Istilah intelegensia pertama kali berkembang di dataran Eropa Timur abad 19 setelah Polandia terpisah dari Prusia (Jerman sesudah tahun 1871), di Rusia dan Austria (di Austria–Hongaria sesudah tahun 1867).

Intelegensia sejak awal sebuah strata sosial masa kekuasaan Peter The Great di Polandia dan Rusia lalu menemukan bentuknya tahun 1960–an saat kepemimpinan Tsar Rusia mengirim pelajar (Kaum Muskovi) ke Barat (Eropa Barat) untuk menguasai dasar-dasar kebudayaan barat (teknik dan sains).

Hal serupa terjadi di Polandia. Strata intelegensia Polandia sebagai perumus dan artikulator identitas kolektif beriring dengan tugas–tugas membagun bangsa Polandia dan menghapus kekaisaran untuk membawa bangsa menuju ke masa depan lebih sejahtera.

Seperti di Rusia, strata intelegensia di Polandia membentuk sebuah stratum yang berdiri sendiri dengan mengandaikan adanya sebuah identitas kolektif dari karakteristik psikologis, perilaku, gaya hidup, status sosial, sistem nilai, dan panggilan historis bersama.

Istilah intelegensia mempunyai nuansa berbeda di Jerman—dalam bahasa jerman dikenal istilah intelligenz. istilah ini dalam formulasi Karl Mannheim adalah sebagai berikut:“didalam setiap masyarakat terdapat kelompokkelompok sosial yang memiliki tugas khusus untuk menafsirkan dunia bagi masyarakat tersebut, kita menyebut kelompok–kelompok ini para intelegensia.

Tidak hanya membawa sebuah bangsa menuju kemasa depan yang sejahtera, istilah intelegensia di Jerman bermakna lebih luas lagi. Strata ini bisa mengklaim untuk menginterpretasikan dunia dan memonopoli kebenaran serta memimpin dalam perihal moral, pendidikan dan penafsiran akan dunia beserta realitas yang mengikutinya.

Sementara inteligensia mempunyai sejarah dan genealogi sendiri demikian juga dengan istilah intelektual sebagai kata benda yang menunjuk pada orang yang secara tipikal memiliki pendidikan dan dengan kemampuan intelektualnya melibatkan diri dalam kerja kebudayaan yang dianggap penting oleh orang tersebut. Istilah ini digunakan di Inggris awal abad 19 dan sering dimaknai pejoratif.

Istilah intelektual, sebelum dipakai secara luas di Prancis diperkenalkan pertama kali oleh Georges Clemenceau tahun 1898 dengan istilah “les intellectuels” Serangan Julian Benda hasil karyanya la trahisondes Clers—penghianatan kaum cendikiawan—tahun 1927 memuat celaan Benda terhadap intelektual yang beraktifitas untuk mencapai tujuan–tujuan praktis.

Berdasarkan paparan diatas, setidaknya dapat ditarik perbedaan antara intelektual dan inteligensia. Inteligensia merupakan strata sosial yang mempunyai respon kolektif dari identitas kolektif mereka.

Strata ini mempunyai ingatan kolektif bersama sedang intelektual fungsi sosialnya dan respon tersebut tidak menyuarakan tradisi dan kepentingan dari kelas tertentu. Perbincangan tentang intelektual juga tidak bisa dilepaskan dari pertanyaan tentang kepentingan dan perang intelektual dalam masyarakat. Pertanyaan ini membelah jawaban dalam dua kubu yakni :

Kubu pertama berpijak pada pendekatan Julien Benda terhadap pertanyaan mengapa kaum intelektual yang seharusnya menyibukan diri dengan penelitian yang minim kepentingan mau terlibat dengan urusan politik negara terutama dengan pemerintah yang merupakan representasi status–quo dan mengapa pemerintah atau intitusi di luar akademis memerlukan keahlian para intelektual, adalah dengan mengatakan bahwa terhadap antinomi antara kekuasaan dan kebenaran, dimana mencari kebenaran adalah pekerjaan kaum intelektual.

Jadi, menurut pandangan Benda, para intelektual yang bekerja dipemerintah atau perusahaan bisnis dipandang telah berselingkuh dari kebenaran karena mereka ingin mendapatkan kekuasaan,popularitas, jabatan dan uang.

Kubu kedua bersendi pada pemikiran Antonio Gramsci kerap disebut oleh para penganut perspektif Marx, bahwa semua orang adalah intelektual namun tidak semua orang mempunyai fungsi intelektual dalam masyarakat.

Dalam kerangka ini, kelompok intelektual adalah salah satu dari kelas sosial yang ada: mereka menggunakan pengetahuannya untuk mempromosikan kepentingan dan kekuasaan kelas intelektual. Di sini antinomi normatif antara pengetahuan dan kekuasaan telah ditinggalkan diganti dengan pengetahuan sebagai bentuk kekuasaan yang dimiliki kaum intelektual.

Dari argumen kelas di atas membuka perdebatan mengenai apa yang membuat pengetahuan berubah menjadi kekuasaan. Dalam hubungan ini, setidaknya ada tiga mekanisme penting yang terlibat dalam proses pengalihan pengetahuan menjadi kekuasaan.

Pertama, adalah mekanisme penutupan (closure): mereka memiliki pengetahuan memperoleh kekuasaan dengan membatasi akses kepengetahuan yang dimiliki. Monopoli pengetahuan memberikan kekuasaan bagi pemilik pengetahuan.

Tetapi hanya membatasi akses kepengetahuan saja tidak cukup untuk mengubah pengetahuan menjadi kekuasaan. Karenanya pengetahuan begitu amat di butuhkan dalam kekuasaan begitu pula sebaliknya.

Berjaraknya pengetahuan dengan kekuasaan tentu akan melahirkan rezim tanpa logika. Dan akan terjadi pelacuran intelektual di kubangan kekuasaan. Maka kebenaran pun terkubur karena egosentrisme yang berselingkuh dengan kekuasaan. []

Related Search

Rate this article!
Tags:
author

Author: