banner 728x90

Keluarga Mukhdi Nilai Kasus Janggal

Konferensi pers yang digelar keluarga besar H Mukhdi di Wisma Aditya Kelurahan Pangkallalang, Sabtu (29/9) lalu.

*Bakal Melakukan Upaya Hukum

KASUS mendera H Mukhdi menuai tanda tanya dari pihak keluarga besarnya. Dalam konferensi pers di Wisma Aditya Kelurahan Pangkallalang Sabtu (29/9) lalu, mereka menyampaikan ganjalan terhadap kasus tersebut.

Bahkan pihak keluarga yang diwakili anak kandung tersangka Sri Harmonis kepada awak media mengatakan, kasus itu terkesan janggal dan dipaksakan. Pasalnya ayah kandungnya, tidak pernah melakukan kasus seperti yang dituduhkan.

“Ayah saya awalnya hanya dipanggil oleh Kepolisian, tapi ayah saya menolak karena bingung kasusnya apa. Lalu, datang surat panggilan kedua. Namun ayah kami tidak bisa datang karena dalam kondisi yang kurang sehat dan itu di tunjukan dengan surat keterangan sakit,” terangnya.

“Kemudian pada hari rabu dini hari sekitar pukul 01.15 WIB, ayah kami dijemput dan ditahan oleh pihak kepolisian,” imbuhnya. Menurutnya, seluk beluk tanah tersebut sangat tidak mungkin adanya tindakan penyerobotan lahan.

Apalagi sampai menghilangkan surat sertifikat lahan itu. Sebab, istri dari tersangka H Mukhdi sangat mengetahui silsilah atas lahan tanah tersebut.

“Tidak pernah ada jual beli tanah itu. Ada yang melaporkan atas nama Jefry tetapi kami tidak pernah bertemu orangnya. Dan kami tidak pernah melihat surat atau sertifikat dari yang dimiliki pelapor. Kami juga pengen lihat kalau surat itu memang ada,” tegas Sri.

Selain itu, keluarganya juga mempertanyakan atas tuduhan baru yang ditujukan kepada H Mukhdi, terkait penghilangan barang bukti berupa sertifikat tanah. Menurutnya, kasus yang menimpa ayahnya sangat terasa janggal dan dipaksakan.

“Sekarang malah dituduh dengan tuduhan baru, yaitu penghilangan barang bukti sertifikat tanah nomor 36. Padahal ayah saya tidak pernah melakukan itu. Kita akan telusuri surat tersebut ke Badan Pertanahan,” tukasnya.

Lebih lanjut, Ia juga mempertanyakan terkait upaya penangguhan penahanan yang diajukannya. Sebab, sampai saat ini belum mendapatkan tanggapan dari polisi. Padahal dari pihak keluarga siap menjadi penjamin atas penangguhan tersebut.

Oleh sebab itu, pihaknya akan melakukan upaya hukum lebih lanjut atas kasus yang menimpa ayahnya. Jangan sampai tidak ada kepastian hukum atas apa yang dialami oleh ayahnya saat ini.
“Kita akan lakukan upaya hukum terus berjuang. Kakak saya juga sudah melapor ke Kapolri dan kami akan membentuk tim untuk menyelesaikan persoalan ini,” pungkasnya.

Sementara itu Kapolres Belitung AKBP Yudhis Wibisana kembali menyatakan, kasus dugaan penyerobotan lahan tersebut merupakan kasus lama yang sudah ada, sebelum Ia menjabat sebagai Kapolres Belitung.

Kapolres juga membantah bila pihaknya melakukan intervensi terhadap notaris jual beli lahan tersebut. Sebab, notaris memiliki asosiasi tersendiri, jadi pihak kepolisian tidak dapat melakukan intervensi.

Sementara untuk permintaan surat penangguhan penahanan sudah masuk ke Polres Belitung. Namun, masih ada beberapa hal yang masih jadi pertimbangan. Selain itu, kasus ini juga masih akan dilakukan gelar perkara.

“Polres Belitung melakukan penahanan tersangka sesuai dengan prosedur dan alat bukti yang cukup, untuk penagguhan penahanan masih diperlukan pertimbangan. Kalau sudah naik kepenyidikan berarti sudah memiliki alat bukti,” katanya kepada wartawan, Sabtu (29/9) lalu. (rez)

Related Search

Rate this article!
Tags:
author

Author: