banner 728x90

Kemampuan Literasi Matematika

banner 468x60

Oleh: Ati Lasmanawati, M.Pd.
(Guru Matematika SMANegeri 1 Sungailiat)

PERMENDIKBUD Nomor 23 Tahun 2015 berupaya untuk menumbuhkan budi pekerti peserta didik melalui serangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan yang bertujuan untuk menumbuhkan kebiasaan yang baik dan membentuk generasi berkarakter positif, atau yang disebut dengan kegiatan pembiasaan. Membiasakan maupun memotivasi peserta didik untuk membaca dan menulis, guna menumbuhkan budi pekerti inilah yang menjadi salah satu tujuan dikembangkannya Gerakan Literasi Sekolah. Gerakan ini diharapkan dalam jangka panjang dapat menghasilkan para peserta didik yang memiliki kemampuan literasi yang tinggi.

banner 300x250

PROGRAM literasi juga mencakup upaya mengembangkan potensi kemanusiaan yang mencakup kecerdasan intelektual, emosi, bahasa, estetika, sosial, spiritual, dengan daya adaptasi terhadap perkembangan arus teknologi dan informasi. Kebutuhan literasi di era global ini menuntut pemerintah untuk menyediakan dan memfasilitasi sistem dan pelayanan pendidikan sesuai dengan UUD 1945, Pasal 31,  Ayat 3, “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang- undang.” Upaya ini sejalan dengan falsafah yang dinyatakan oleh Ki Hadjar Dewantara, bahwa pendidikan harus melibatkan semua komponen masyarakat (keluarga, pendidik profesional, pemerintah, dll.) dalam membina, menginspirasi/memberi contoh, memberi semangat, dan mendorong perkembangan anak (Wiedarti, 2016).

Gerakan literasi sekolah merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bersifat partisipatif dengan melibatkan warga sekolah, yaitu peserta didik, guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, pengawas sekolah, Komite Sekolah, orang tua/ wali murid peserta didik. Selain itu, adanya keterlibatan akademisi, penerbit, media massa, masyarakat (tokoh masyarakat yang dapat merepresentasikan keteladanan, dunia usaha, dll.), dan pemangku kepentingan di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Menurut Beers, dkk (2009) bahwa praktik-praktik yang baik dalam gerakan literasi sekolah menekankan pada prinsip-prinsip yang diantaranya; program literasi terintegrasi dengan kurikulum pembiasaan dan pembelajaran literasi di sekolah yang merupakan tanggung jawab semua guru di semua matapelajaran, sebab pembelajaran di matapelajaran apapun membutuhkan bahasa, terutama membaca dan menulis. Oleh karena itu, meningkatkan kemampuan literasi peserta didik perlu diberikan kepada semua matapelajaran, termasuk pada matapelajaran matematika, yaitu dengan meningkatkan kemampuan literasi matematika.

Istilah “Literasi” yang merupakan serapan dari kata dalam bahasa Inggris “literacy” memiliki arti“melek huruf” atau “kemampuan untuk membaca dan menulis”. Kata “literacy” sendiri berasal dari bahasa Latin “littera” (huruf). Sedangkan literasi matematika menurut PISA didefinisikan sebagai, “kemampuan seseorang untuk merumuskan, menerapkan, dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks, termasuk kemampuan melakukan penalaran secara matematis dan menggunakan konsep, prosedur, dan fakta untuk menggambarkan, menjelaskan atau memperkirakan fenomena/ kejadian, yang berkaitan dengan kegunaan atau fungsi matematika yang telah dipelajari oleh seorang peserta didik di sekolah”  (OECD, 2010).

Menurut Wardhani dan Rumiati (2011; dalam Suyitno, 2015: 3) bahwa literasi matematika diartikan sebagai, “kemampuan peserta didik untuk merumuskan, menerapkan, dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks, termasuk kemampuan melakukan penalaran secara matematis dan menggunakan konsep, prosedur, dan fakta untuk menggambarkan, menjelaskan, atau memperkirakan fenomena/ kejadian”. Kemampuan literasi matematika membantu seseorang untuk memahami peran atau kegunaan matematika di dalam kehidupan sehari-hari sekaligus menggunakannya untuk membuat keputusan-keputusan yang tepat sebagai warga negara yang membangun, peduli, dan berpikir. Kegunaan tersebut merupakan kemampuan yang sangat penting bagi seseorang untuk bertahan hidup di era informasi dan pengetahuan saat ini. Oleh karena itu, sebuah aspek penting dari kemampuan literasi matematika adalah keterlibatan dengan matematika, menggunakan, dan mengerjakan matematika dalam berbagai situasi. Metode dan representasi matematika yang digunakan peserta didik sangat tergantung pada situasi masalah yang disajikan, dan situasi yang digunakan adalah situasi yang terdekat dengan kehidupan mereka.

Pentingnya meningkatkan literasi matematika peserta didik, berkaitan dengan keterlibatan 7 (tujuh) kemampuan dasar yang harus dimiliki peserta didik (OECD, 2010: 18-19), yaitu:

  1. Communication, kemampuan untuk mengomunikasikan masalah;
  2. Mathematising, kemampuan untuk mengubah permasalahan dari dunia nyata ke bentuk matematika ataupun sebaliknya;
  3. Representation, kemampuan untuk menyajikan kembali suatu permasalahan matematika;
  4. Reasoning and Argument, kemampuan menalar dan memberi alasan;
  5. Devising Strategies for Solving Problems, kemampuan menggunakan strategi memecahkan masalah;
  6. Using Symbolic, Formal and Technical Language and Operation, kemampuan menggunaan bahasa simbol, bahasa formal dan bahasa teknis;
  7. Using Mathematics Tools, kemampuan menggunakan alat-alat matematika, misalnya dalam pengukuran.

Selain itu, mengapa penting bagi peserta didik meningkatkan kemampuan literasi matematika, karena  kemampuan literasi matematika yang merupakan salah satu komponen yang menentukan keberhasilan peserta didik dalam memecahkan soal-soal PISA (Programme for International Student Assessment), yaitu sebuah proyek dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang dirancang untuk mengevaluasi hasil pendidikan dalam hal kemampuan peserta didik yang berumur 15 tahun pada aspek membaca, matematika, dan sains. Menurut OECD (2013: 25), seorang pemecah masalah matematika yang aktif adalah seseorang yang mampu menggunakan matematikanya dalam memecahkan masalah kontekstual melalui beberapa tahapan seperti yang diuraikan PISA dalam model literasi matematis pada gambar di bawah ini.

Gambar di atas menunjukkan bahwa literasi matematis berangkat dari suatu masalah yang berasal dari dunia nyata. Permasalahan tersebut kemudian dikategorikan menjadi dua, yaitu kategori konten dan konteks. Berdasarkan penyelesaian dari permasalahan yang disajikan, peserta didik harus menerapkan tindakan dan gagasan matematika yang melibatkan kemampuan menggunakan konsep, pengetahuan dan keterampilan matematika. Hal ini sangat bergantung pada kemampuan yang disebut PISA sebagai kemampuan dasar matematika yaitu komunikasi, representasi, merancang strategi, matematisasi, penalaran dan argumentasi, menggunakan bahasa dan operasi simbolik, formal, dan teknis, dan menggunakan alat – alat matematika (OECD, 2010: 18-19).

Kemampuan berkomunikasi yang menjadi salah satu dasar dalam meningkatkan kemampuan literasi matematika, dapat mendukung belajar peserta didik atas konsep-konsep matematika yang baru saat mereka memainkan peran dalam suatu situasi, mengambil, menggunakan objek-objek, memberikan laporan dan penjelasan-penjelasan lisan, menggunakan diagram, menulis dan menggunakan simbol-simbol matematika. Menulis dalam matematika, dapat membantu peserta didik untuk menggabungkan pemikiran mereka karena menulis menuntut untuk merefleksi apa yang mereka kerjakan dan mengklarifikasi pikiran-pikiran mereka tentang gagasan-gagasan yang muncul di dalam pelajaran di kelas. Mereka akan menemukan bahwa membaca kembali catatan tentang pikiran-pikiran mereka sendiri adalah hal yang bermanfaat (Wahyudin, 2008: 529).

Pada saat peserta didik ditantang untuk berpikir dan bernalar tentang matematika serta untuk mengkomunikasikan hasil-hasil pemikiran mereka pada orang lain baik secara lisan maupun tulisan, mereka belajar untuk menjadi jelas dan meyakinkan. Menyimak penjelasan orang lain, memberi kesempatan para peserta didik untuk membangun pemahaman-pemahaman mereka sendiri.  Percakapan-percakapan dimana gagasan-gagasan matematis dieksplorasi dari berbagai presfektif membantu mereka yang ikut serta dalam percakapan itu untuk mempertajam pemikiran mereka dan membuat hubungan-hubungan. “Peserta didik yang terlibat dalam diskusi dimana mereka menjustifikasi pemecahan-pemecahan masalah, terutama saat dihadapkan pada ketidaksepakatan, maka peserta didik akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik saat mereka berusaha meyakinkan teman-teman mereka tentang sudut-sudut pandang yang berbeda” (Hatano dan Inagaki, 1990 dalam Wahyudin, 2008: 528).

Namun kenyataannya, capaian literasi matematika peserta didik Indonesia ternyata masih rendah. Hal ini berdasarkan hasil keikutsertaan Indonesia dalam beberapa studi komparatif internasional, seperti Trends in International Mathematics and Science Study (TIMMS) dan Programme for International Student Assessment (PISA). Hasil studi TIMSS pada tahun 2011 menunjukkan bahwa peserta didik Indonesia masih berada pada peringkat 38 dari 42 negara untuk bidang matematika (Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdikbud, 2013). Hasil yang relatif sama pada literasi matematika peserta didik juga dapat dilihat dalam laporan studi PISA. Pada tahun 2012, Indonesia menempati peringkat 64 dari 65 negara, dengan skor 375, sementara skor internasional adalah 494 (OECD, 2013: 19).

Salah satu yang menjadi penyebab rendahnya kemampuan literasi matetika peserta didik berdasarkan hasil penelitian Wardhani (2011: 2) adalah kurangnya ketersediaan perangkat pembelajaran yang dapat mendukung perkembangan kemampuan literasi matematis, diantaranya pemanfaatan media dan penggunaan instrumen penilaian. Media pembelajaran dan instrumen penilaian hasil belajar yang didesain oleh para guru matematika di Indonesia pada umumnya menyajikan instrumen penilaian hasil belajar yang substansinya kurang memfasilitasi peserta didik dalam mengembangkan kemampuan literasinya.

Menurut penelitian Mujulifah, dkk (2015: 10) bahwa hanya sedikit peserta didik yang mampu memecahkan suatu masalah dengan memahami masalah yang dihadapinya dan menggunakan penalarannya untuk menganalisis setiap informasi yang berguna dalam menyelesaikan masalah tersebut. Siswa belum terlatih dan belum terbiasa menyelesaikan soal-soal yang banyak memerlukan kemampuan pemahaman, penerapan dan penalaran. Selain itu, masih banyak ditemukan peserta didik yang kurang terlatihnya dalam mengkomunikasikan pemahaman, ide ataupun gagasan yang dimilikinya yang menunjukkan bahwa masih rendahnya kemampuan dalam literasi matematika.

Oleh karena itu, guru harus dapat mengupayakan peserta didik agar dapat meningkatkan kemampuan literasi matematika. Upaya yang dapat dilakukan adalah melalui peningkatan 7 (tujuh) kemampuan dasar matematika baik dalam berkomunikasi maupun kemampuan yang lain, dan dalam hal ini bantuan gurulah yang paling utama. Pembiasaan guru untuk memberikan berbagai latihan soal yang memuat kemampuan literasi matematika kepada peserta didik, yaitu bentuk-bentuk soal yang proses penyelesaiannya; 1) tidak rutin; 2) bersifat pemecahan masalah; 3) memerlukan daya penalaran yang tinggi (HOTS, higher order thinking skills) dari peserta didik; 4) solusi soalnya memerlukan dua rumus atau lebih; 5) memuat tafsiran pemanfaatan matematika dalam berbagai konteks; dan 6) mampu menumbuhkan ide kreatif peserta didik untuk menjelaskan alasan cara/ algoritma yang sudah dipilihnya, dapat terus dilakukan (Suyitno, 2015: 6). Sesuai dengan hasil penelitian Mahdiansyah dan Rahmawati (2014: 16) bahwa persepsi peserta didik yang baik terhadap metode mengajar yang diterapkan gurunya, dan guru yang sering memberikan latihan soal (PR) matematika kepada peserta didik, memiliki rerata skor matematika yang tinggi.***

Related Search

banner 468x60
Rate this article!
Tags:
author

Author: