banner 728x90

Kepsek SD 37 Ngaku Tak Bisa Tidur, Laras Dirujuk ke RSUD

Kepala Dinkes Babel drg. Mulyono Menjenguk Laras yang Sedang Mendapatkan Perawatan di RSUD Depati Hamzah, Pangkalpinang.

// Dari 200 Murid, 30 Divaksin, 1 Ada Masalah?
// Mulyono: Imunisasi Tetap Lanjut

LARAS (10) Siswi SD negeri 37 Pangkalpinang yang diduga sakit akibat dari dampak suntik IMR, Kamis (30/8/2018) akhirnya dirujuk ke RSUD Depati Hamzah, Pangkalpinang.

Ini merupakan upaya penanganan yang dilakukan Dinas Kesehatan Kota Pangkalpinang setelah mendapatkan laporan ada pasien yang menderita sakit setelah IMR.

HAL ini dilakukan guna mencari tahu sebab sakit yang diderita pelajar bernama lengkap Nur Fauziah Larasati ini.

Ketika ditemui, Kepala Pengendalian penyakit (P2) Dinkes Pangkalpinang Bustomi mengatakan ini merupakan inisiatif dari Dinkes Kota Pangkalpinang. Sehingga bisa dipastikan gejala apa yang dirasakan oleh Laras.

“Kita inisiatif untuk membawa ke rumah sakit untuk memastikan apa yang dialami adik Laras,” kata Bustomi.

Dijelaskannya, sebelum melakukan penyuntikan tetap dilakukan pemeriksaan kesehatan terlebih dahulu dan ini dilakukan oleh tim dokter.

“Bagi siswa yang mau diimunisasi, kita lakukan screening dulu sebelum melakukan penyuntikan, dan ini ditanya satu-satu siswa mereka sehat tidak, ada batuk, pilek dan kita tanya,” katanya.

Pihaknya pun meminta kepada masyarakat, khusus kota Pangkalpinang untuk tetap tenang dan tidak khawatir. Karena pihaknya tetap akan melakukan pengawasan terhadap anak-anak yang sudah diimunisasi. “Masyarakat tidak perlu panik, kita juga minta guru untuk memantau perkembangan muridnya di sekolah. Kalau ada apa-apa segera laporkan ke puskesmas terdekat,” ujarnya.

Sementara itu, Abdul Halim (43) orang tua Laras mengaku lega setelah anaknya mendapatkan penanganan yang cepat dari pihak dinas kesehatan baik provinsi maupun Kota Pangkalpinang.

”Lah lega dari tadi pagi banyak yang datang dan memberikan perhatiannya. Saya juga merasa terbantu tadi Kepala Dinas Kesehatan Provinsi tanggungjawab dan bilang akan bantu sampai clear,” ujarnya.

Namun Abdul Halim belum bisa memastikan apa sakit yang diderita oleh anaknya tersebut.

Menurutnya, pihak rumah sakit akan melakukan serangkaian pemeriksaan kesehatan guna memastikan sakit yang diderita anaknya.

“Tenanglah meskipun belum tahu apa sakitnya, karena masih dilakukan pemeriksaan apakah ini karena vaksin Rubella atau bukan karena hasilnya belum ada, baru diambil sampel darah dan akan diperiksa,” tuturnya.

Ia pun berharap anaknya cepat segera pulih dan kembali melanjutkan sekolahnya. “Ya semoga aja anak saya bisa cepat sembuh, karena sebelum disuntik anak ini sehat aja,” harapnya.

Tak Bisa Tidur

Sementara itu, Kepala Sekolah Dasar (SD) Negeri 37 Pangkalpinang, Suswani, SPd angkat bicara terkait sakit yang menimpa salah seorang muridnya, Laras (10) yang diduga berasal usai melakukan suntik IMR. Ia mengaku tidak bisa tidur saat diberitahukan oleh rekannya bahwa ada sebuah berita yang beredar di media sosial memberitakan soal sekolahnya.

“Itu saya dapat kabar sudah malam, saat saya buka (hp) memang betul (sekolah saya). sampai tidak bisa tidur, jadi saya putuskan pagi harus segera ke rumah keluarga murid tersebut,” ujarnya, Kamis (30/8/2018) ketika ditemui di ruang kerjanya.

Dijelaskannya, pelaksanaan IMR ini tidak ada paksaan, malahan penyuntikan ini sendiri sudah dilakukan dua Minggu lalu. “Saya mau klarifikasi, kenyataanya suntik itu kita lakukan pada Sabtu (18/8/2019), bukan Sabtu kemarin (25/8/2018). Jadi sudah lama kita lakukan,” jelasnya.

Dikatakan Suswani, jumlah siswa yang ikut lebih sedikit dibandingkan jumlah siswa yang ada di sekolah. Hampir rata-rata orang tua murid melarang anaknya ikut imunisasi karena dikhawatirkan akan menimbulkan dampak negatif.

“Jumlah siswa kita sekitar 200 an, tapi yang ikut hanya sekitar 30 an siswa saja. Orang tua yang tidak mengijinkan ada surat keterangannya,” jelas Suswani.

Belum Tentu KIPI

Di sisi lain, Communication For Development (C4D) Specialist United Nations Children’s Fund (UNICEF), Rizky Ika Syafitri mengaku belum bisa menyampaikan apa yang menjadi penyebab sakit yang di derita oleh Laras (10) seorang siswi SD 37 Pangkalpinang.

“Kita disini yang utama melindungi anaknya, yang penting si anak ini sudah dalam penanganan pihak dokter,” ujarnya Kamis (30/8/2019) saat ditemui di RSUD Depati Hamzah, Pangkalpinang.

Dia meyakini vaksin IMR aman untuk digunakan anak-anak. Apalagi telah mendapatkan kelulusan standar dari WHO. Dan pada tahun lalu, dari 35 juta anak di pulau Jawa yang diimunisasi, sedikit sekali yang terkena KIPI

“Vaksin ini sudah banyak digunakan di negara lain. Tahun lalu juga dari banyak anak yang diimunisasi sedikit sekali yang terkena KIPI ini. Jadi belum tentu anak yang sakit pasca imunisasi itu masuk pada KIPI,” katanya.

Pihaknya meminta masyarakat khususnya Bangka untuk menghormati kerja dari tim Komite Daerah KIPI untuk melakukan investigasi.

“Jadi kita hargai dulu ni Komda KIPI untuk melakukan investigasi secara independen, nah nanti kalau sudah ada hasilnya baru bisa kita sampaikan. mari kita tunggu sama-sama,” tukasnya.

Imunisasi Tetap Lanjut

Vaksin Campak dan Rubella (MR) yang digunakan di program imunisasi MR dipastikan aman dan proses imunisasi massal MR di Provinsi Bangka Belitung akan terus berlangsung karena Indonesia telah menghadapi situasi darurat Campak dan Rubella.

Hal ini ditegaskan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bangka Belitung Drg Mulyono usai menjenguk Laras yang sedang dirawat di Rumah Sakit Amir Hamzah.

“Yang pertama kami menyampaikan rasa simpati yang mendalam Kepada adik Laras. Semoga adik Laras diberikan kesembuhan dan dapat kembali sekolah. Yang kedua kami menaruh perhatian yang sangat serius terhadap kejadian ini. Saat ini Komda KIPI sedang melakukan investigasi secara independen untuk menilai apakah benar sakitnya Adik Laras terkait dengan imunisasi MR atau karena sebab lain yang tidak berhubungan dengan imunisasi MR. Kami minta semua pihak untuk menghargai proses investigasi ini agar mendapatkan fakta yang benar demi kepentingan Adik Laras dan anak-anak lain di Bangka Belitung,” ujarnya.

Dijelaskannya, saat ini Indonesia menghadapi situasi darurat Campak dan Rubella. Jika imunisasi MR tidak dilakukan dapat terjadi wabah. Untuk itu ia meminta masyarakat jangan ragu untuk mengajak anak mengikuti imunisasi MR. Apalagi Fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) juga menyatakan bahwa imunisasi MR dibolehkan atau Mubah.

Pemerintah Provisi Bangka Belitung saat ini sedang menggalakkan program imunisasi nasional MR tahap kedua yang menyasar sekitar 370 ribu ana-anak di provinsi ini. Vaksin ini berfungsi untuk melindungi anak dari penyakit mematikan campak dan rubella. Sifatnya sebagai bentuk pencegahan, karena saat ini belum ditemukan obat untuk kedua penyakit tersebut.

Kampanye Imunisasi Campak Rubella (MR) Fase 2 adalah lanjutan dari kampanye MR tahun lalu yang menyasar 35 juta anak di enam provinsi di pulau Jawa. Fase 1 sukses setelah 35 juta anak di Jawa mendapat vaksin MR. Di akhir Fase 2 diharapkan akan ada total sekitar 70 juta anak yang mendapatkan vaksin MR, sehingga seluruh anak dan masyarakat akan terlindung dari penularan Campak dan Rubella.

Dr Mulyono menyatakan bawah menurut data dan statistik imunisasi MR tahun lalu, proporsi kejadian kasus KIPI itu amat sangat sangat rendah.

“Perlu dicatat bahwa kasus KIPI sangat jarang terjadi. Tahun lalu dari 35 juta anak yang menerima imunisasi MR di Pulau Jawa, dari 225 kasus yang diduga KIPI, hanya 18 yang dinyatakan KIPI, sisanya coincidence atau tdak terkait imunisasi MR,” ujarnya.

“Jangan membuat kesimpulan yang belum tentu benar,” ingatnya.

Selain itu vaksin MR yang digunakan pemerintah saat ini bisa dipastikan aman dan telah memenuhi standard pre-kwalifikasi internasional dari WHO.

“Saya bisa sampaikan bahwa vaksin MR yg digunakan itu aman dan sudah memenuhi standar prequalifikasi WHO. Vaksin ini digunakan di lebih 143 negara di Dunia,” tambahnya.

Berdasarkan data yang dipublikasi Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2015, Indonesia termasuk 10 negara dengan jumlah kasus campak terbesar di dunia. Kementerian Kesehatan RI mencatat jumlah kasus Campak dan Rubella yang ada di Indonesia sangat banyak dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Adapun jumlah total kasus suspek Campak-Rubella yang dilaporkan antara tahun 2014 s.d Juli 2018 tercatat sebanyak 57.056 kasus (8.964 positif Campak dan 5.737 positifRubella).

Tahun 2014 tercatat 12.943 kasus suspek Campak-Rubella (2.241 positif Campak dan 906 positif Rubella); Tahun 2015 tercatat 13.890 kasus suspek Campak-Rubella (1.194 positif Campak dan 1.474 positif Rubella); Tahun 2016 tercatat 12.730 kasus suspek Campak-Rubella (2.949 positif Campak dan 1.341 positif Rubella); Tahun 2017 tercatat 15.104 kasus suspek Campak-Rubella (2.197 positf Campak dan 1.284 positif Rubella); dan s.d Juli 2018 tercatat 2.389 kasus suspek Campak-Rubella (383 positif Campak dan 732 positif Rubella).

Campak merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dan sangat mudah menular (ditularkan melalui batuk dan bersin). Gejala penyakit Campak adalah demam tinggi, bercak kemerahan pada kulit (rash) disertai dengan batuk dan/atau pilek dan/atau konjungtivitis yang dapat berujung pada komplikasi berupa pneumonia, diare, meningitis dan bahkan dapat menyebabkan kematian.

Ketika seseorang terkena Campak, 90% orang yang berinteraksi erat dengan penderita dapat tertular jika mereka belum memiliki kekebalan terhadap Campak. Kekebalan terbentuk jika telah diimunisasi atau pernah terinfeksi virus campak sebelumnya.

Komplikasi dari campak yang dapat menyebabkan kematian adalah Pneumonia (radang Paru) dan ensefalitis (radang otak).

Sementara itu, Rubella adalah penyakit akut dan ringan yang sering menginfeksi anak dan dewasa muda yang rentan dengan gejala yang tidak spesifik (tidak jelas) dan juga mudah menular.

Infeksi Rubella pada ibu hamil dapat menyebabkan keguguran atau kecacatan permanen pada bayi yang dilahirkan atau dikenal dengan Congenital Rubella Syndrome (CRS) yang bisa berupa ketulian, gangguan penglihatan bahkan kebutaan, hingga kelainan jantung, bahkan otaknya bisa mengecil.

Dinkes Jangan Lempar Batu Sembunyi Tangan!

Anggota DPRD Kota Pangkalpinang, Rio Setiady kembali bersuara terkait Vaksin Measles dan Rubella (MR). Terlebih, adanya kabar seorang siswa SD di Pangkalpinang yang mengeluhkan rasa nyeri dan timbul ruam-ruam merah di sekujur tubuhnya pasca disuntik vaksin tersebut.

Menurut Rio, dengan adanya kejadian ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pangkalpinang harus mengambil sikap tegas terkait kelanjutan program pemerintah tersebut. Jangan sampai ada korban lagi yang lebih fatal akibat vaksin yang mengandung babi dan organ manusia itu.

“Sangat miris kita, ini lah yang kita khawatirkan selama ini. Kalau sudah begini siapa yang harus bertanggungjawab? Kepala Puskesmas? Dinkes harus bersuara, jangan lempar batu sembunyi tangan,” tegas Rio kepada Babel Pos, Kamis (30/8).

Lanjut Rio, program pemberian vaksin MR ini sudah menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat termasuk di Kota Pangkalpinang. Bahkan, pihak MUI juga sudah menyatakan bahwa vaksin ini haram. Namun sayangnya, pihak dinkes hingga kini terkesan tutup mata dan tetap melanjutkan program tersebut.

“Kalau kondisinya seperti ini, dinkes ini nyebar vaksin atau penyakit. Jelas ini sudah ada korban dari vaksin MR, tapi sayangnya pihak dinkes masih mau melakukan investigasi terhadap penyakit yang diderita siswa SD tersebut, ” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinkes, Pengendalian Penduduk dan KB Kota Pangkalpinang, dr Ristum Alamsyah ketika dikonfirmasi harian ini akhirnya juga buka suara. Dia mengaku sudah melihat secara langsung kondisi Nur Fauziah Larasati (9) siswi kelas 3 SD Negeri 37 Kota Pangkalpinang yang tidak bisa berjalan yang diduga pasca mendapatkan vaksin Measles Rubella (MR) di sekolahnya pada Sabtu (25/8) lalu.

“Kita sudah lihat pasiennya (Laras) dan memang benar kondisinya seperti itu setelah diberikan suntik vaksin. Tapi, kondisinya sudah mulai membaik, ” ujar Ristum.

Namun, ketika disinggung apakah program ini tetap dilanjutkan atau tidak lantaran sudah ada korban, secara tegas Ristum menuturkan bahwa pihaknya tetap akan melanjutkannya. Sebab, katanya, ini sudah merupakan program pemerintah.

“Ini kan program pemerintah dan masyarakat sudah diberikan kesempatan, boleh iya boleh nggak. Jadi, ya kita tetap melanjutkannya terutama bagi yang mau, karena sampai saat ini belum ada intruksi dari Kemenkes ataupun Dinkes provinsi terkait program ini ditunda atau dihentikan,” katanya.

Dalam program ini, dikatakan Ristum, tidak ada unsur paksaan. Bagi orang tua yang tidak mau menurutnya itu adalah hak dan pilihan masyarakat.

“Kan masyarakat sudah tahu semua baik manfaat maupun mudharatnya. Jadi intinya, setelah saya melihat kasus ini ibaratnya keluhan tambahan bahwa akibat vaksin ini bisa menimbulkan panas dan pegal-pegal, tapi ini tidak terjadi ke semua orang, karena setiap orang hasilnya berbeda-beda. Si Laras ini kan sudah saya tes kondisi kesehatannya, insyaAllah nggak apa-apa,” terangnya.

Akan tetapi, saat disinggung terkait munculnya surat pernyataan yang diberikan pihak puskesmas melalui sekolah yang terkesan memaksakan, secara tegas Ristum membantahnya. Dinkes, katanya, tidak pernah mengeluarkan surat pernyataan tersebut, yang mana di dalamnya ada unsur paksaan karena tertulis orang tua siap dituntut secara hukum jika terjadi sesuatu terhadap anaknya ketika menolak diberikan vaksin.

“Jadi saya tegaskan surat pernyataan paksaan itu tidak ada, ini kan kebijakan yang belum distop oleh pihak provinsi. Dan perlu diketahui, kami tidak punya kewenangan untuk itu baik menolak ataupun menundanya,” tegasnya.

Untuk itu, pihaknya pun menyerahkan sepenuhnya kepada masyarakat. Dia menyakini bahwa saat ini masyarakat Pangkalpinang sudah cerdas.

“Jadi ya terserah masyarakat, apalagi MUI sudah memperbolehkannya meski dinyatakan haram, ya dari pada nanti terkena campak, kena meningitis, meninggal pasien nanti,” tandas Ristum sembari mengaku bahwa hingga kini pihaknya belum menemukan pasien yang terkena virus rubella di Pangkalpinang. (pas/mg01)

Related Search

Tags:
author

Author: