banner 728x90

Kesulitan Air Bersih Perlu AntisipasI

MANGGAR – Masalah kesulitan air bersih di wilayah Belitung Timur (Beltim) dinilai masih prematur untuk diperbincangkan. Namun sebagai antisipasi, perlu dipikirkan setiap kemungkinan terjadinya masalah kesulitan air terutama daerah pinggir laut.

Hal tersebut disampaikan sekretaris Forum Komunikasi Lingkungan Hidup (FKLH) Kabupaten Beltim, Ismed ketika dimintai pendapat.

“Beberapa waktu lalu, sejumlah elemen pernah membentuk forum yang didalamnya ada Pemerintah daerah termasuk kita (FKLH-red) juga dilibatkan untuk mendiskusikan ketersediaan air,” ungkap Ismed, Jumat (1/5) kemarin.

Kata Ismed, Kecamatan Manggar termasuk yang paling dikhawatirkan soal ketersediaan air bersih. Pasalnya, sebagai ibukota Kabupaten, Manggar berjarak cukup dekat dengan laut. Hal ini berpengaruh pada kualitas air sumur yang kebanyakan tidak layak konsumsi.

“Khusus Manggar, kita masih bergantung pada beberapa sumber air yang layak konsumsi. Seperti di Ban Motor, Mat Yasi, Gajah Mada dan Kabung Jaya (tempat pengambilan air bersih, red). Dalam artian PHnya masih bisa dikonsumsi,” terangnya.

Oleh karena itu, kata Ismed, Pemerintah daerah perlu memikirkan langkah konkret guna mempersiapkan kemungkinan kesulitan air bersih jauh-jauh hari.

“Pemerintah selayaknya memikirkan bagaimana menyediakan filter air, penyulingan dan lain-lain, agar PDAM benar-benar sebagai Perusahaan Air Minum bukan perusahaan air mandi,” harap Ismed.

Untuk itu, Ismed juga meminta sumber air baku yang ada secepatnya dijaga. Sebab, kesulitan air bisa saja mengancam apabila tiba-tiba terjadi kegiatan manusia yang berujung pencemaran.

Dihubungi terpisah, Direktur PDAM Beltim Asri Rahman mengatakan cadangan air baku khususnya yang dikelola PDAM relatif aman. Bahkan, memasuki musim kemarau dalam rentang 4 hingga 5 bulan, ketersediaan air baku masih cukup.

“Untuk cadangan air baku terutama musim penghujan seperti sekarang masih aman. Kemarau pun bisa 4 hingga 5 bulan tetap bertahan,” ujar Asri.

Asri mengatakan, PDAM memiliki 4 titik sumber air baku yang disalurkan kepada pelanggan PDAM. Yakni, Gantung, Kelapa Kampit dan Manggar 2 titik.

Selain itu, upaya yang dilakukan untuk menjaga sumber air baku adalah Peraturan Bupati tahun 2004 sebagai payung hukum. “Jadi ada tata kawasan, 200 meter (dari sumber air baku) tidak boleh melakukan aktifitas apapun. Mau buat rumah, berkebun atau apapun,” kata Asri.

Mengenai pengawasan, PDAM melibatkan pihak Desa yang menjadi lokasi sumber air baku. Harapannya, Desa dapat melakukan kontrol langsung terutama untuk tidak mengeluarkan izin apapun di sekitar sumber air baku.

“Desa yang mewanti-wanti, tidak akan memberikan izin pembuatan SKT atau pemanfaatan apapun di dekat sumber air baku,” tandasnya. (feb)

Related Search

Rate this article!
Tags:
author

Author: