banner 728x90

Ketika Ramadhan Berakhir

banner 468x60

Oleh :  Heriyanto Helmi,S.H.I.
Wakil Kepala SMP Negeri 4 Gantung

Hati bercampur sedih, semua terasa sirna. Itulah secuil gambaran suasana batin ketika berpisah dengan sang kekasih, kegundahan hati yang tidak sanggup dilukiskan dengan kata-kata.

banner 300x250

BEGITU pula rasanya ketika Ramadhan berakhir, bulan yang penuh berkah akan pamit meninggalkan kita semua, belum ada jaminan bahwa kita akan kembali bertemu pada tahun yang akan datang. Sungguh malang nasib diri, Ramadhan usai tetapi pundi amal yang bertebaran dalam Ramadhan tidak maksimal diperoleh. Begitu besarnya hikmah Ramadhan, sehingga Rasulullah saw menggabarkan bahwa andai ummat manusia benar benar memahami kelebihan Ramadhan, sungguh mereka menginginkan Ramadhan sepanjang tahun.

Seorang Abu Muhammad al-Labban yang selama Ramadhan tidak pernah tidur sedetik pun. “Al-Labban pernah mendapati bulan Ramadhan pada 427 H di Baghdad, beliau shalat tarawih bersama orang-orang dalam setiap malamnya selama sebulan penuh. Dan beliau jika sudah selesai shalat, maka senantiasa beliau shalat hingga waktu Shubuh. Jika sudah shalat Shubuh, maka beliau melanjutkannya dengan membuka majlis bersama sahabat-sahabatnya. Beliau pernah berkata, “Aku tidak pernah meletakkan pinggangku untuk tidur selama sebulan ini baik siang atau pun malam.” Demikian kisah yang disebutkan Imam Az-Dhahabi. Tidak sedikit pun kesempatan yang disiasiakan mereka dalam Ramadhan.

Bagaimana dengan kita? Melihat perkembangan masyarakat dalam Ramadhan, kita patut berbangga, berbagai macam ragam amalan kebajikan bertebaran, baik bersifat kesalihan pribadi maupun kesalihan sosial, kepedulian dan berbagi adalah sebuah keniscayaan dalam ramadhan, banyak digelar buka bersama dengan menyantuni anak yatim dan fakir miskin. Baik itu dilakukan oleh pejabatan negara, orang kaya hingga artis.

Peduli dan berbagi
Peduli dan berbagi adalah perintah Allah, bahkan dalam sebuah hadist Rasulullah menyatakan bahwa pertolongan Allah akan selalu datang, selama hamba-hamba masih saling membantu dan menolong Saudara-sauadaranya. Menumbuhkan kepedulian sosial adalah salah satu spirit yang diharapkan muncul dari pribadi yang menjalankan ibadah puasa, merasakan tidak enaknya menahan lapar, sehingga melahirkan kepedulian untuk membantu mereka yang setiap harinya harus menahan lapar. Semoga amalan kebajikan ini mendapat nilai dari Allah SWT, namun perlu diingat dan dicatat bahwa fakir miskin dan anak yatim tidak hanya hidup dalam bulan Ramadhan, mereka juga membutuhkan uluran tangan pada sebelas bulan lainnya. Ketika Ramadhan berlalu, apakah kepedulian dan keinginan berbagi masih tetap hadir dalam qalbu pejabatan negara, orang kaya dan artis, sehingga tradisi yang dilakukan dalam Ramadhan juga akan menjadi kebiasaan di bulan-bulan selain Ramadhan. Masih banyak saudara kita yang hidup di bawah garis kemiskinan, masih banyak saudara kita yang nasibnya malang, banyak saudara kita yang harus berjuang demi sesuap nasi, bahkan nyawa mereka menjadi taruhannya.

Oleh sebab itu, pejabat negara yang dalam Ramadhan begitu dermawan, semestinya memiliki program yang massif dalam rangka mengurangi beban orang yang tak mampu, terutama mewujudkan program program yang pro pemberantasan angka kemiskinan. Orang kaya yang dermawan, sejatinya tetap langgeng dalam ingatan bahwa harta yang dititipkan Allah ada hak orang lain disana, ada hak fakir miskin, hak anak yatim dan hak hak lain yang diperintahkan dalam Agama, untuk apa kita menjadi jutawan kalau sekeliling kita kelaparan, tiada arti rumah megah dan mobil mewah, jika jiran kita hidup dalam penderitaan. Oleh sebab itu, meski Ramadhan akan segera berlalu, kebaikan kita jangan pernah berlalu, kebaikan yang kita kerjakan jangan bersifat temporer, ia selalu ada dalam hidup kita. Menjelang Ramadhan usai, Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata “Aduhai, andai aku tahu siapakah gerangan yang diterima amalannya agar aku dapat memberi ucapan selamat kepadanya, dan siapakah gerangan yang ditolak amalannya agar aku dapat “melayatnya”. Ucapan yang sama juga terucap dari mulut Abdullah bin Mas’ud, “Siapakah gerangan di antara kita yang diterima amalannya untuk kita beri ucapan selamat, dan siapakah gerangan di antara kita yang ditolak amalannya untuk kita “layati”. Wahai orang yang diterima amalannya, berbahagialah engkau. Wahai orang yang ditolak amalannya, keperkasaan Allah adalah musibah bagimu.”

Ulama terdahulu menangis tersedu-sedu meninggalkan Ramadhan, mereka menangis karena khawatir tidak maqbul-nya amalan dalam Ramadhan, serta takut Allah tidak memberikan kesempatan untuk Ramadhan yang akan datang. Maqbul tidaknya amalan dalam Ramadhan akan terlihat ketika Ramadhan berlalu, tantangan besar justru datang usai Ramadhan, tantangan dalam mempertahankan amalan yang telah dibiasakan dalam Ramadhan. Mempertahankan amalan yang telah dibiasakan dalam Ramadhan tentu bukanlah hal mudah, apalagi dengan tantangan dan rintangan yang selalu menghadang di depan, melanggengkan dan melestarikan kebaikan pasti menuai persoalan. Berpijak pada petuah Saidina Ali bin Abi Thalib, apakah kita semua termasuk orang yang harus diberikan ucapan selamat, atau termasuk golongan yang harus dilayat? Menjawab ini, pribadi kita pasti menyadarinya, dimana posisi kita sebenarnya. Namun, indikator lain yang menunjukkan seseorang diterima ibadah dalam Ramadhan pasti ia akan menjadi pribadi yang lebih saleh di luar Ramadhan, kebajikan yang dilakukannya dalam Ramadhan akan tetap terpelihara, begitu pula dengan kemaksiatan yang ditinggalkannya, akan selalu dijauhinya walau di luar Ramadhan.

Oleh sebab itu, bersedihlah ketika ditinggal Ramadhan, ditinggalkan oleh bulan yang penuh kelebihan, bulan yang penuh dengan rahmat dan keampunan. Ramadhan berlalu, Idul Fitri di depan mata, apa yang harus kita lakukan menyambut Idul Fitri, apakah kita harus meluapkan kegembiraan dengan datangnya hari kemenangan? Ibnu Rajab Al Hanbali dalam Lathaif Al Ma’arif menceritakan bahwa Wahb bin al-Ward melihat suatu kelompok manusia tertawa riang di Hari Raya, beliau mengatakan, “Jika mereka termasuk orang yang diterima ibadah puasanya, pantaskah tertawa itu sebagai wujud rasa syukurnya? Jika mereka termasuk orang yang ditolak ibadah puasanya, pantaskah tertawa itu sebagai wujud rasa takut mereka. Di sisi lain, siapa hati yang tidak akan gembira ketika waktu berbuka puasa telah tiba (Idul Fitri), apalagi dengan menghayati segala halang rintang ketika berpuasa. Namun, janganlah kebahagian kita itu menyebabkan kita lupa diri, lupa bahwa kita termasuk dalam golongan yang mana, diterima ibadah puasa kita atau sebaliknya. Apalagi Rasulullah mengingatkan bahwa Iblis akan melancarkan serangan besar-besaran dalam rangka mengotori kefitrahan yang telah diraih manusia dengan berpuasa dalam Ramadhan. Mari merenung seraya berdoa, semoga kita termasuk orang-orang yang diterima amalan dalam Ramadhan, semoga pula kebaikan kita akan selalu terjaga dan terpelihara hingga maut menjemput kita. Allahumma ij-al shiyamana wa shalatana, shiyaman wa shalatan maqbula.” Amin.

Related Search

banner 468x60
Rate this article!
Ketika Ramadhan Berakhir,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: