banner 728x90

Kisah Guru Garis Depan, Berharap dapat Jodoh agar Betah

banner 468x60

Menjadi Guru Garis Depan (GGD) dipilih sebagai jalan bagi sebagian alumni program Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T), agar bisa diangkat menjadi PNS.

Mesya Mohammad – Jakarta

banner 300x250

SUASANA Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Selasa (12/9) pagi sangat ramai. Ramai dengan bapak ibu guru muda yang berpakaian putih hitam. Mereka berasal dari beragam suku, agama, dan RAS.

Hari itu adalah momen penting mereka karena akan diberangkatkan ke tempat tugas masing-masing. Yakni ke daerah yang sebagian tidak ada jaringan listrik, komunikasi, dan sulit dijangkau.

Adalah Petrus Purumbawa dan Pabera Tanambewa, dua guru asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang ikut dilepas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy bertugas ke wilayah 3T.

Petrus bertugas di SMPN Satap Patamawai, Kabupaten Sumba Timur. Sedangkan Pabera SMPN Satap Praimahala, Kabupaten Sumba Tengah.

Keduanya baru saja lulus dari program SM3T dan langsung diangkat CPNS. Mereka lebih beruntung dibanding kawan-kawannya yang lain harus menunggu beberapa tahun baru diangkat CPNS lantaran adanya kebijakan moratorium.

Tahun 2016, Kemendikbud merekrut 7.000 GGD, tapi yang dinyatakan lolos hanya 6.296 orang. Dari jumlah itu yang sudah mengantongi SK CPNS sebanyak 5.987 orang.

Baik Petrus maupun Pabera punya alasan berbeda mau menjadi GGD di wilayah terpencil.

Di usia mereka yang baru 24 tahun, harus berhadapan dengan minimnya fasilitas di tempat pengabdian.

“Saya sebenarnya tinggal di kota. Kenapa saya pilih Patamawai karena pengin tahu bagaimana anak-anak di sana mendapatkan pendidikan,” kata Petrus yang dikontrak 15 tahun oleh Pemkab Sumba Timur.

Keseriusannya mengabdi di wilayah 3T dibuktikan dengan melakukan survei. Di wilayah tempat tugasnya, penerangan hanya memakai lampu pijar.

Ada juga yang menggunakan lampu emergency dengan sumber energi matahari. Saat siang, masyarakatnya mengisi batre lampu dengan energi panas matahati.

Yang sulit bila musim hujan, sehingga warga menggunakan lampu pijar dan lampu tempel. Untuk akses komunikasi, Petrus mengatakan, harus naik ke atas bukit yang jaraknya beberapa kilo dari rumah warga.

Itu sebabnya, Petrus berencana untuk berkomunikasi dengan orangtuanya sepekan sekali. Kesulitan lain yang bakal dihadapi Petrus adalah mendapatkan air bersih.

“Air di Patamawai sangat sulit. Harus berjalan lima kilo untuk mendapatkan air bersih, jadi tiap hari bawa jerigen menampung air,” terangnya.

Tidak sampai di situ, untuk menuju lokasi sekolah, Petrus bakal menggunakan truck kayu. Truck ini tidak hanya menampung manusia tapi juga hewan peliharaan seperti kambing, ayam, dan sapi.

Namun semangat Petrus menjadi pengajar di Patamali karena melihat semangat anak-anak. Walaupun rumahnya jauh dari sekolah, mereka sangat bersemangat mendapatkan pendidikan.

“Daerah tempat saya mengabdi masih sangat sepi. Rumah penduduknya jauh–jauh. Kalau hujan tambah susah lagi karena mesti seberang sungai,” ucapnya sambil tersenyum.

Kondisi Petrus ini sama seperti lokasi pengabdian Pabera di Praimahala. Bedanya, Petrus kelihatan lebih siap, sedang Pabera menjalaninya karena menganggap program ini jalan untuk bisa diangkat menjadi PNS.

Sejatinya dia ingin mengajar di lokasi non 3T. Apadaya peluang itu sangat kecil sehingga pilihan terakhir GGD.

Pabera dikontrak 20 tahun oleh Pemkab Sumba Tengah. Di wajahnya tampak ada beban berat yang dipikulnya.

“Untung saya masih bujangan, jadi sudah siaplah menghadapi risikonya,” ucapnya.

Pabera bertekad memajukan pendidikan di Sumba Tengah. Apalagi sebagai GGD, dia akan mendapatkan gaji serta tunjangan lebih besar dibanding guru di daerah non 3T.

“Belum mengajar saya sudah mendapatkan gaji CPNS. Mudah-mudahan saya bisa kuat di sana,” harapnya.

Dia pun berandai-andai bila suatu saat mendapatkan jodoh di Praimahala, dirinya akan menetap dan tidak pindah ke daerah lain.

Lain Petrus dan Pabera, lain pula kisah Arriza Surya Pratiwi. GGD lulusan SM3T angkatan pertama ini ditempatkan di SDN Padasuka 4 Pandeglang, Banten. Oleh Pemkab Pandeglang, Arriza dikontrak 10 tahun.

Mestinya, Arriza tinggal di lokasi terpencil tersebut. Namun, dia memilih tinggal di pinggiran karena anaknya masih bayi. Itu sebabnya perempuan berjilbab ini harus berangkat usai salat Subuh.

“Saya harus melewati hutan, bukit, dan sungai. Untuk ke sekolah saya harus menempuh perjalanan sekitar 30 sampai 45 menit. Sebenarnya kalau tinggal dekat sekolah saya nggak perlu jalan jauh, tapi kasihan bayi saya. Makanya saya cari tempat tinggal dekat puskesmas dan akses transportasi,” paparnya. (esy/jpnn)

Related Search

banner 468x60
Tags:
author

Author: