banner 728x90

Kisah Makam Bukit Batu Lemo, Aroma Mistis Warisan Leluhur

banner 468x60

banner 300x250

Bulu kuduk terasa merinding saat pertama kali menjejakkan kaki di areal pekuburan bukit batu Lemo, Makale Utara, Tana Toraja, dua hari lalu. Patung-patung yang bersusun rapi di dinding batu persis di seberang persawahan, seakan menyapa, menatap langsung pengunjung yang datang.

Ken Girsang, Tana Toraja

Apalagi patung-patung itu terlihat mengenakan pakaian lengkap layaknya manusia dan tersusun secara berkelompok. Masing-masing kelompok seakan duduk di beranda rumah masing-masing. Sementara di atas tiap kelompok terdapat sebuah gua tertutup pintu berukuran sekitar 1,5 x 1 meter.

Masyarakat Toraja menyebut patung-patung kayu itu tau-tau. Dipahat sedemikian rupa, lengkap dengan simbol-simbol tertentu. Tau-tau merupakan penanda sebuah makam. Jika di ‘beranda’ depan terdapat lima tau-tau, berarti di dalam gua terdapat lima jenazah anggota satu keluarga.

Menurut informasi, tau-tau hanya diperuntukkan bagi kalangan bangsawan setelah memenuhi sejumlah persyaratan adat. Itulah sebabnya tidak semua gua yang terhampar di dinding bukit batu Lemo, terdapat tau-tau.

Beberapa gua bahkan terlihat terbuka tanpa pintu kayu atau bambu, sehingga pengunjung dapat melihat langsung peti-peti mati yang disusun dalam gua berukuran sekitar 3×5 meter.

Lemo merupakan salah satu pekuburan bukit batu tertua di Tana Toraja. Berjarak sekitar enam kilometer dari Makale, ibu kota Tana Toraja. Lemo artinya jeruk. Nama itu mengacu pada gua-gua tua yang menyerupai jeruk, lengkap dengan bintik-bintik rongga.

Lemo sudah dikenal sebagai salah satu situs budaya sejak 1970 lalu. Di area tersebut terdapat sekitar 70-an makam tua yang telah berusia ratusan tahun.

Ada sebuah keunikan lain dari cara masyarakat Toraja memperlakukan jenazah para anggota keluarganya. Selain ditempatkan di gua batu, jenazah-jenazah tersebut ternyata dikeluarkan setahun sekali.

Biasanya sekitar Agustus-September, namun untuk tanggal pastinya para tokoh adat yang akan menentukan kapan penyelenggaraan upacara Ma’nene dilaksanakan.

Prosesi akan dimulai dengan mengeluarkan jenazah dari tiap gua. Para anggota keluarga kemudian membuka pakaian yang melekat dan mulai membersihkan jenazah menggunakan kain bersih atau alat lain yang dinilai cukup baik.

Setelah itu jenazah dikenakan pakaian baru, diletakkan dalam peti, untuk kemudian dikembalikan pada gua-gua yang ada. Biasanya sebelum prosesi berakhir, ada saja masyarakat mengabadikan momentum dengan foto bersama masing-masing jenazah anggota keluarga.

Selama proses pembersihan, jenazah juga kabarnya tidak boleh tersentuh tanah. Karena itu biasanya dipangku. Sementara sebagian kaum lelaki membentuk lingkaran sembari menyanyikan lagu dan tarian.

Ritual Ma’nene merupakan warisan budaya yang telah turun menurun dilakoni masyarakat Toraja. Ma’nene dilakukan sebagai wujud penghormatan dan kecintaan terhadap para leluhur masyarakat Tana Toraja.

Budaya ini dipertahankan untuk mengingatkan masyarakat pentingnya makna keluarga. Tidak heran ikatan kekeluargaan di tengah masyarakat Toraja terjalin sangat kuat hingga saat ini. (*)

Related Search

banner 468x60
Tags:
author

Author: