banner 728x90

LPPOM MUI Jawab Keresahan Masyarakat, Tidak Ada Unsur Babi

Suasana saat konfersi Pers LPPOM MUI di Restauran Pandan House Senin (28/8) kemarin

//Tapi, Mie Atep & Ratu Rasa Belum Bersertifikasi Halal

TANJUNGPANDAN – LPPOM MUI Provinsi Bangka Belitung (Babel), akhirnya menjawab keresahan masyarakat terkait isu adanya kandungan Babi (B1) dalam produk makanan di RM Mie Atep dan Ratu Rasa, Kota Tanjungpandan.

Direktur LPPOM MUI Provinsi Babel Nardi Pratomo saat menggelar konferensi pers di Pandan House Restaurant, Senin (20/8) kemarin menyatakan, dua RM ini tidak ada penggunaan bahan haram itu dalam pembuatan makanan yang disajikan.

Ketika LPPOM MUI melakukan audit pada April 2018 lalu, hanya mendapati sosis Babi yang disimpan di lemari es RM Mie Atep. Sedangkan di RM Ratu Rasa, juga tidak ada unsur B1. Tetapi di dapurnya ditemukan Ang Cium (sejenis Arak) untuk produksi makanan.

Nardi Pratomo menjelaskan, awalnya ada sebanyak 66 RM mengajukan sertifikasi halal yang dipelopori oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Belitung. Waktu mereka melakukan verifikasi di dua tempat tersebut tidak lolos sertifikasi Halal. Sebab, ditemukan sosis Babi dalam lemari pendingin RM Mie Atep dan Arak di RM Ratu Rasa.

Hingga akhirnya, LPPOM MUI Babel melakukan pembinaan dengan memberikan memo audit. Seperti pengecekan tempat pembuatan makanan hingga kebersihannya. Namun setelah diberikan memo audit, saat kunjungan Dinas Koperasi dan UMKM Belitung masih ditemukan hal serupa.

“Setelah ditemukan adanya sosis itu, kita langsung melakukan kajian. Dan MUI Bangka Belitung memutuskan untuk menghentikan verifikasi terhadap Mie Atep,” terang Nardi Pratomo.

Hal yang sama juga dilakukan di RM Ratu Rasa. Saat melakukan audit, tidak ditemukan adanya unsur B1. Hanya saja pembuatan (penyajian) makanan yang identik dengan sea food ini menggunakan arak. Saran perbaikan atas temuan itu, tidak ditanggapi pihak RM Ratu Rasa.

“Hasilnya, MUI Babel tidak melalukan verifikasi. Dan pihak RM Sari Ratu menyatakan berhenti untuk melanjutkan verifikasi halal,” kata Direktur LPPOM MUI Provinsi Babel.

Mengenai maraknya isu yang beredar dua RM itu menggunakan minyak hingga otak Babi, Nardi Pratomo menghimbau kepada masyarakat untuk tidak terpancing dengan adanya kabar tersebut.

“Saya meminta kepada masyarakat agar tetap tenang. Berikan kesempatan kepada Mie Atep dan RM Ratu Rasa untuk memenuhi standar kehalalan yang ditetapkan oleh LPPOM MUI Babel,” pungkasnya.

Sementara itu, Kasat Intelkam Polres Belitung AKP Anton Sinaga mengatakan dirinya mengapresiasi adanya pertemuan ini sehingga masyarakat tidak simpang siur mendengar informasi yang beredar.

“Adanya pemberitaan ini sangat viral sehingga mengganggu kondusifitas di lingkungan masyarakat. Saya menghimbau kepada seluruh masyarakat Belitung agar tetap tenang, jangan mudah terpercaya dengan adanya isu-isu,” katanya.

AKP Anton juga meminta kepada masyarakat, jika ada oknum-oknum yang berusaha menyebar adanya kabar hoax, segera laporkan ke pihak kepolisian. Maka, jajarannya akan melakukan tindakan tegas.

Untuk mengantisipasi berita ini semakin berkembang dan menjadi isu panas. Rencana besok pagi (hari ini,red) Polres Belitung, akan menggelar petemuan dengan tokoh adat, tokoh masyarakat dan agama untuk melakukan pembahasan.

“Kita akan lakukan pertemuan di Mapolres Belitung. Masalah ini harus secepatnya diselesaikan. Sehingga tidak menjadi polemik di lingkungan masyarakat,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah, Tenaga Kerja dan Perdagangan Kabupaten Belitung Azhar, membantah kalau pihaknya melakukan sidak ke RM Mie Atep dan RM Ratu Rasa terkait isu yang beredar di masyarakat.

“Kami maupun Disperindag Provinsi tidak melakukan sidak ke rumah makan tersebut. Kami hanya melakukan pembinaan karena mereka (RM Mie Atep) mau mengajukan sertifikasi halal secara mandiri,” ujarnya Senin (20/8) kemarin saat melakukan Konferensi pers kepada awak media.

Kata Azhar, pihaknya tidak berwenang untuk melakukan sidak. Sebab hal itu ranahnya ada di MUI dan LPPOM MUI Babel. Pihaknya hanya menyarankan agar Rumah Makan Mie Atep dilakukan perbaikan mulai dari interior, cara penyajian, peralatan maupun karyawan. “Kami hanya memberikan pembinaan dan saran. Hal ini terkait program berupa sertifikasi halal bagi pelaku usaha,” jelasnya. (kin/rez)

Related Search

Tags:
author

Author: