banner 728x90

MAINAN TRADISIONAL DI TENGAH MODERNISASI

banner 468x60

Oleh : Tian Nirwana
PNS di Sub. Bag. Protokol Setda Kab. Belitung

Indonesia kaya dengan sejarah dan budaya. Selain beragam suku bangsa, adat istiadat, bahasa dan kesenian tradisional, Indonesia juga kaya dengan permainan tradisionalnya, antara lain Galasin/Gobak Sodor, Tak Kadal, Engklek, Enggrang, Congklak dan Petak Umpat.

banner 300x250

PERMAINAN tradisional bahkan diketahui telah ada sejak jaman kerajaan dengan adanya jabatan hempul atau ahli permainan. Menurut peneliti mainan rakyat, Mohamad Zaini Alif, Indonesia memiliki lebih dari 2.500 permainan, 890 diantaranya sudah diketahui cara bermainnya. Mainan sendiri adalah sesuatu yang dimainkan dan tidak berakhir dengan kalah atau menang. Sedangkan permainan mengandung aturan, hukuman dan orientasi menang dan kalah. Salah satu ciri khas permainan tradisional adalah bermain di luar bersama teman-teman. Permainan tradisional membantu mengajarkan anak untuk mengenal dirinya sendiri. Permainan tradisional juga mengedepankan nilai-nilai kebersamaan, keceriaan, dan kesenangan.

Klotokan/otok-otok, salah satu mainan tradisional yang terbuat dari bambu
Permainan tradisional masih dimainkan masyarakat Indonesia hingga tahun 1990-an hingga teknologi gadget seperti Sega, Nintendo dan Tamagochi mengalihkan perhatian masyarakat terhadap permainan tradisional dan berkembangnya jaringan internet yang memudahkan setiap orang untuk mengakses apapun seperti sekarang ini. Penggunaan smartphone oleh generasi alpha sekarang ini juga membuat permainan tradisional menjadi jarang dimainkan masyarakat khususnya oleh anak-anak. Bahkan banyak anak yang lahir dari generasi tersebut yang hanya memainkan permainan tradisional ketika perayaan 17 Agustus atau belum pernah sama sekali.

Mohamad Zaini Alif mengatakan bahwa 40 persen dari 2.500 permainan tradisional di Indonesia terancam punah karena jarang dimainkan bahkan ada yang sudah hilang. Bahan permainan yang tidak ada sampai tidak adanya teman bermain atau orang yang memainkannya menjadi salah satu faktor permainan tradisional menjadi jarang dimainkan hingga cenderung hilang. Sementara psikolog Annelia Saei Sani mengatakan bahwa dari data pada tahun 2013 diketahui 70 persen anak usia 11-12 tahun adalah pengguna smartphone. Sedangkan 90 persennya adalah usia 14 tahun.

Bahkan, dalam dua tahun terakhir ini, 56 persen anak usia 10-13 tahun dan 25 persen anak usia 2-5 tahun sudah memiliki ponsel. Anak-anak di usia balita sudah mengenal simbol di dalam game terlebih dahulu sebelum mereka mengenal huruf, mereka sudah mengenal gadget dan bisa mengoperasikannya sendiri.

Hal utama yang membuat gadget berbahaya untuk anak-anak, menurut psikolog anak, Astrid, adalah konten dan waktu penggunaan gadget. Meskipun permainan yang dimainkan pada gadget sudah benar, belum tentu iklan yang muncul di dalamnya juga benar untuk anak-anak. Selain itu penggunaan gadget dalam waktu lama hingga berjam-jam juga membuat waktu mereka menjadi berkurang untuk hal-hal lainnya seperti menjadi lupa mengerjakan pekerjaan rumah, fisik kurang bergerak, kurang berinteraksi dengan orang-orang sekitar, kurang beristirahat dan juga membuat anak kurang mengekspresikan dirinya sendiri.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghindari dampak buruk gadget. Menurut psikolg Anna Surti Ariani, S.Psi, M.Psi, penggunaan gadget dapat dimulai dengan membatasi durasi waktu penggunaan gadget. Untuk anak-anak usia 2-6 tahun pemakaian gadget maksimal satu jam dan 2 jam (per hari) untuk anak usia 6 tahun ke atas. Selain membatasi durasi waktu, penggunaan gadget juga harus memperhatikan jenis konten yang sesuai dengan usia anak. Kegiatan anak selain menggunakan gadget juga diimbangi dengan kegiatan lain yang tidak menggunakan gadget. Dan, yang tidak kalah pentingnya adalah ketika sedang menggunakan gadget, anak harus berada di dekat orang tua.

Agar anak tetap menyukai permainan tradisional di tengah-tengah permainan modern dewasa ini selain orang tua selalu berupaya membatasi gadget adalah dengan turut berperan serta terhadap permainan tradisional. Orang tua dapat mengarahkan anak dalam memilih permainan yang sesuai dengan usia anak. Atau, dengan mengenalkan permainan tradisional ke anak dan ikut bermain bersamanya, baik memainkannya secara langsung atau melalui gadget/smartphone. Kita bisa browsing mencari permainan tradisional melalui mobile app misalnya. Beberapa permainan tradisional yang ada di Google Play Store dan bisa diakses melalui Android antara lain: Balap Karung (AGD Games), Engrang Master (NED Studio), Galasin : Game Gobak Sodor (APYI Studio), Dolanan/Petak Umpet (FlipBox Studio), dan Dakon/Congklak (Amegoo Pixel).

Mainan dan permainan tradisional hendaknya dijaga dan dilestarikan agar tidak punah. Permainan tradisional sebagai warisan budaya Indonesia yang sudah ada sejak jaman dahulu turut mencerminkan kekayaan Indonesia di mata dunia. Kesadaran yang kuat untuk melestarikan budaya Indonesia termasuk permainan tradisional membantu memperkuat akar budaya itu sendiri agar tidak hilang oleh jaman.(Dari berbagai sumber).***

Related Search

banner 468x60
Tags:
author

Author: