banner 728x90

Manager Pabrik PT. Foresta Bungkam

*Sungai Desa Kembiri Positif Tercemar Limbah Pabrik Sawit
*Nelayan Kembiri Minta  Ganti Rugi, Rp. 36 Juta Per Orang

foto A HL. Pertemuan di BLHD Belitung

Suasana pertemuan perwakilan nelayan dan pihak perusahaan perkebunan Kelapa Sawit PT Foresta Dwikaryi, yang difasilitasi BLHD Belitung, Rabu (11/5)

TANJUNGPANDAN-Manager Pabrik Kelapa Sawit PT. Foresta Dwikarya Rudi Prawoto, memilih bungkam menanggapi dugaan limbah sawit yang masuk sungai dan laut Desa Kembiri Kecamatan Membalong, Kabupaten Belitung.
Saat ingin diwawancarai sejumlah wartawan usai melakukan pertemuan dengan nelayan di BLHD Belitung Rabu (11/1) kemarin, ia tidak mau berkomentar apapun karena takut salah bicara.
Bahkan, beberapa kali wartawan mencoba meminta tanggapan, Rudi terus menghindar. Ia tidak peduli dengan keberadaan jurnalis yang ingin meminta komentarnya, agar berita berimbang
“Maaf saya tidak bisa komentar, nanti takut salah bicara,” kata Rudi sembari melangkah pergi meninggalkan kerumunan wartawan.
Sebelumnya puluhan nelayan Desa Kembiri Membalong, mendatangi BLHD Belitung. Mereka menyampaikan tuntutan agar PT. Foresta bertanggung jawab, atas pencemaran aliran sungai dan perairan laut Desa Kembiri.
Aspirasi nelayan kemudian ditampung dalam sebuah pertemuan yang difasilitasi pihak BLHD Belitung. Pertemuan dihadiri perwakilan perusahaan Kelapa Sawit PT. Foresta, Pemerintah Kecamatan Membalong, Pemerintah Desa Kembiri dan perwakilan nelayan.
Dalam pertemuan tersebut, disampaikan pencemaran limbah pabrik sawit ke sungai dan laut Desa Kembiri telah “mematikan” mata pencaharian masyarakat nelayan pesisir. Sudah hampir enam bulan nelayan enggan melaut lantaran hasil tangkapan mereka turun drastis.
Bukti pencemaran limbah itu dapat diliat dari banyaknya ikan-ikan di sekitar muara Sungai Desa Kembiri yang mati. Lantas, diperkuat lagi hasil uji lab BLHD Belitung yang menyatakan air sungai positif tercemar limbah sawit perusahaan tersebut.
Sekretaris Desa Kembiri Zuhari mengatakan, beberapa waktu lalu warga Desa Kembiri bersama petugas dari BLHD pernah mengambil sample itu. Dari tiga titik lokasi yang berbeda, hasilnya tempat nelayan mencari ikan dan udang positif tercemar. Kadar lemak pencemaran tingginya mencapai sekitar tujuh ribuan.

“Kami kemarin musim hujan ngambil sample. Itu bersama BLHD hujan-hujanan kami,” kata Zuhari, kepada Belitong Ekspres.

Hasil sample ini berbeda dengan sample yang dibawa oleh perusahaan. Menurut Zuhari perusahaan memberi tahu bahwa tidak ada pencemaran. “Mungkin mereka mengambil sampel musim panas. Kan, kalau musim panas mengendap dia. Musim hujan baru meluap,” jelasnya.

Sementara instalasi pengelolaan air (IPAL) perusahaan baru-baru sekarang ini diperbaiki. Sebelumnya kata dia, hanya datar rata dengan tanah, sehingga sangat wajar jika limbah meluap saat musim hujan.
Sulaiman, salah satu perwakilan nelayan mengaku sejak sungai dan laut tercemar limbah sawit kini mereka sangat sulit untuk mendapat sekilo ikan atau udang dalam sehari.
“Luapannya (limbah) sampai ke laut. Jadi kalau pencemaran ini tidak segera diselesaikan, bukan hanya warga Kembiri saja yang kena. Tapi, juga Desa Tanjung Rusa, Dendang, karena alirannya ke sana,” kata Sulaiman.
Oleh karena itu, para nelayan menuntut pihak perusahaan untuk mengganti rugi sebesar Rp.36 juta per orang nelayan. Ganti rugi ini sebagai kompensasi karena sudah berbulan-bulan mereka kesulitan melaut. Perhitungan itu, berdasarkan melaut selama 20 hari dikalikan hasil enam bulan.
Selain meminta ganti rugi, nelayan juga mendesak pihak perusahaan bertanggung jawab untuk memulihkan pencemaran air sungai Desa Kembiri. Jangan sampai masalah pencemaran limbah sawit berlarut-larut tanpa ada penyelesaian yang jelas.
Kepala BLHD Belitung Ubadillah membenarkan bahwa sungai di Desa Kembiri, Kecamatan Membalong, positif tercemar limbah sawit. Sungai positif tercemar limbah sawit berdasarkan hasil uji lab sample air yang dilakukan BLHD sekitar sebulan lalu.
“Pada saat kita periksa memang terjadi pencemaran itu. Pada saat kita turun memang kadar lemaknya tinggi, mencapai tujuh ribuan,” kata pria akrab Ubai ini.

Pengambilan sample ada di tiga titik lokasi. Tepatnya di muara, tengah, dan pangkal. Ia berharap ada jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah itu. Salah satunya dengan memediasi pihak nelayan dan nelayan, agar tidak ada pihak yang dirugikn.
“Kita mencoba, tugas kita mendorong bagaimana agar ada perhatian. Perusahaan kan mengevaluasi, kita bukan melihat besar kecilnya. Tapi ada perhatiannya,” kata Ubai menanggapi permintaan ganti rugi nelayan.
Menurutnya, BLHD Belitung juga telah melayangkan teguran secara tertulis kepada pihak perusahaan agar melakukan perbaikan penampungan limbah pabrik sawit. Perbaikan agar nantinya pencemaran limbah sawit di sungai Desa Kembiri terjadi lagi.
“Pencemaran ini bukan unsur kesengajaan dari pihak perusahaan, tapi karena curah hujan yang tinggi, sehingga limbah sawit meluap. Tapi informasinya, sudah diperbaiki mereka. Jadi, nanti kita akan uji lab lagi, apakah masih terjadi pencemaran atau tidak,” papar Ubai.
Ubai kembali mengatakan, semua tuntutan para nelayan dalam pertemuan tersebut akan ditampung dan diselesaikan dengan upaya mediasi. Pihak perusahaan kata dia, saat ini belum bisa memenuhi tuntutan nelayan karena masih menunggu dari manajemen perusahaan di Jakarta.
“Kita ingin menyelesaikan masalah ini dengan musyawarah, dengan baik-baik. Nanti kita akan lakukan mediasi antara nelayan dan pihak perusahaan,” tandasnya. (yud/ade)

Related Search

Rate this article!
Tags:
author

Author: