banner 728x90

Marquee Player Istimewa, tapi Tak Boleh Diistimewakan

Kompetisi sepakbola tertinggi tanah air, Liga 1 resmi bergulir. Diawali dengan laga Barito Putera melawan Mitra Kukar, Sabtu 14 April 2017. Tapi pusat perhatian justru tertuju pada laga Persib yang menghadapi Arema di Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). Bisa dimaklumi. Sebab pertandingan ini menjadi seremoni pembukaan Liga Indonesia setelah vakum dua tahun.

Partai Persib melawan Arema memang menarik. Kedua tim yang punya basis pendukung besar itu merupakan klub elite tanah air. Keduanya selalu bersaing menjadi yang terbaik.

Semakin seru. Masyarakat Indonesia tidak hanya ingin melihat perseteruan kedua tim untuk memenangkan pertandingan. Kehadiran dua pemain bintang di Persib, Michael Essien dan Carlton Cole mambut pencinta sepakbola penasaran. Sehebat apa kedua pemain yang punya nama besar tersebut bermain di Indonesia. Essien memang langsung bermain sejak awal, sementara Cole baru turun di babak kedua, tapi sama-sama belum memberi kontribusi maksimal kepada Persib.

Kehadiran pemain kelas dunia (marquee player) diharapkan kembali menggairahkan sepakbola Indonesia. Maklum sejak dibekukan Federation Internationale de Football Association (FIFA) atau Federasi Sepakbola Internasional, persepakbolaan Indonesia mengalami penurunan greget. Makanya, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) sebagai otoritas tertinggi sepakbola di tanah air mengambil kebijakan untuk mempercepat gelora sepakbola. Istilah marquee player pun ”diluncurkan’’. Meski sebenarnya, PSSI sendiri belum memiliki standar baku pemain yang bisa dikategorikan sebagai marquee player. Perbedaan standar selalu terungkap dari pengurus PSSI. Ada yang menyebut pemain yang pernah tampil di piala dunia, ada yang juga pendapat yang menyatakan, pemain yang tampil di tiga edisi piala dunia terakhir.

Marquee player seperti diistimewakan. Sebab kehadirannya tidak masuk dalam kuota pemain asing yang boleh dimiliki suatu klub Liga 1. Sebelumnya PSSI menetapkan setiap klub hanya boleh mengontrak tiga pemain asing, dua non Asia dan satu Asia. Dengan kategori marquee player, klub boleh menambah satu pemain asing lagi, dari Asia atau luar Asia.

Itu kebijakan yang bisa diterima, dengan tujuan membangkitkan gairah sepakbola di tanah air. Tapi soal pelanggaran aturan, tentu tidak ada toleransi. Wibawa negara harus ditegakkan. Peraturan negara Indonesia berlaku bagi siapa saja yang berada di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), termasuk pemain berkategori marquee player.

Bisa jadi karena keistimewaannya, sejumlah marquee player ternyata sudah diturunkan pada pertandingan pertama, Sabtu lalu, meski belum mengantongi seluruh dokumen yang diwajibkan. Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) mengungkap, pemain kelas dunia yang baru bermain di Indonesia belum ada yang mengantongi Kartu Izin Tinggal Terbatas (Kitas). Termasuk Machael Essien dan Carlton Cole. Padahal BOPI sudah menyalakan ”lampu merah’’ beberapa hari sebelum liga dimulai, ‘’Bagi pemain asing yang belum ada Kitas tidak boleh diturunkan’’. Ternyata larangan itu dilanggar. Kitas merupakan izin yang dikeluarkan keimigrasian untuk orang asing yang akan tinggal di Indonesia dalam waktu terbatas.

Orang asing yang menjalani aktivitas profesional di Indonesia tanpa mengantongi izin dari negara, merupakan bentuk kejahatan serius dan harus ditindak. Sanksinya mulai dari kurungan badan maksimal 5 tahun hingga deportasi. Begitu juga dengan pihak yang mempekerjakannya, diancam denda Rp500 juta.

Sebab itu, negara tidak boleh diam. Tidak boleh membiarkan pelanggaran berlarut dengan alasan apapun. Marquee player memang punya keistimewaan, tapi tidak boleh diistimewakan dalam aturan negara.***

Related Search

Tags:
author

Author: