banner 728x90

Member DSP Bisa Jadi Tersangka

banner 468x60

*Kejari Beltim Masih Tunggu SPDP Penyidik

SamsLi

Kasi Pidsus Kejari Beltim, Samsi Thalib.

MANGGAR – Kasus Arisan Online Destari Sulius Putri (DSP) yang sempat menghebohkan Pulau Belitung terus bergulir. Setelah Owner DSP Yaya dan suaminya Alfajar alias Aci ditetapkan sebagai tersangka dan siap disidangkan, kemungkinan bakal ada tersangka baru.

banner 300x250

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Belitung Timur (Kejari Beltim) Widagdo, SH melalui Kasi Pidsus Samsi Thalib membenarkan hal itu. Ia menegaskan member Arisan online DSP bisa juga terseret sebagai tersangka dalam kasus yang korbannya mencapai ribuan orang tersebut.

“Kami sudah ngasih petunjuk kepada penyidik untuk menindaklanjuti bahwa member pada kasus ini juga bisa jadi tersangka. Tapi saat ini penyidik belum juga mengirimkan Surat Pemberitahuan Dimulai Penyedikan (SPDP)-nya. Dan mengapa kami bisa mengatakan member ini bisa jadi tersangka, karena menurut kami sudah cukup alat buktinya,” tegas Samsi kepada Belitong Ekspres, Kamis (6/7) kemarin.

Samsi menambahkan bahwa yang merekrut nasabah langsung adalah Member. Kemudian member di sini memperoleh bonus. Semakin banyak Member mendapatkan nasabah, maka bonus itupun semakin besar didapatkan Member dari owner.

“Kemudian member lah yang menyetorkan uang tersebut kepada owner. Makanya menurut kami member punya potensi untuk menjadi tersangka,” ungkapnya.

Sebelumnya menurut penyidik, member memang tidak menjadi tersangka. Namun setelah dilakukan pengembangan penyidikan member tetap menyalahi aturan Perbankan. Samsi mengungkapkan pasalnya bukan hanya itu, akan tetapi pasal untuk kasus ini berlapis.

“Ada pasal 372, ada 378 dan di pasal inilah mereka (member) berpotensi untuk dijadikan tersangka. Dan itulah petunjuk dari pihak Kami yang kami lakukan selama ini,” terang Samsi.

Lebih lanjut dikatakan Samsi, jika tidak cukup waktu untuk melakukan penyidikan terhadap member ini, tentu tidak akan berpengaruh pada berkas yang sudah menyeret dua tersangka (owner,red) sebelumnya. Berkas member bisa berjalan sendirinya dengan waktu yang tidak menggangu penahanan owner itu.

Samsi kembali mengatakan, sejauh ini bisa dikatakan member sudah ada yang menikmati hasil bonus yang diberikan oleh tersangka, dan itu bisa dibuktikan nantinya.

“Sekali lagi inilah petunjuk kami bahwa member juga bisa dijadikan tersangka, sesuai dengan urutan dari member dulu yang mencari nasabah dan baru masuk ke owner. Karena tanpa ada member masyarakat (nasabah,red) ini tidak bisa langsung mendapatkan atau mengikuti arisan ini,” jelas Samsi.

“Dan tidaklah mungkin owner bisa mendapatkan ribuan nasabah jika tidak ada peran serta member, dan di situlah peran Member dan menguatkan Kami bahwa Member bisa dijakan tersangka,” sambung Samsi.

Pada proses persidangan nanti kata Samsi peranan member juga akan dimasukan, dan tidak bisa terlepas dari itu. Sebab, member sudah turut serta melakukan pidana yang sudah dilakukan oleh owner itu sendiri. Hingga kini pihak Kejari Beltim pun masih menunggu SPDP dari pihak penyidik.

Diketahui sebelumnya owner Destari Sulius Putri (DSP) alias Yaya dan Suaminya Alfajar alias Aci, sudah ditahan di lapas Cerucuk Tanjung Pandan dan masih menunggu proses persidangan untuk dilakukan penuntutan. Pihaknya juga sudah meminta berkas secara terpisah dengan Owner.

Untuk menangani kasus ini akan dibagi menjadi 2 tim Jaksa Penuntut Umum (JPU). Mereka adalah JPU Samsi Thalib yang juga menjabat sebagai Kasi Pidsus Kejari Beltim, untuk menangani Alfajar alias Aci. JPU untuk menangani Desti Sulius Putri alias Yaya, diserahkan ke Kasi Pidum Kejari Beltim, Amardi P Barus.

Pimpinan/Owner DSP yang ditetapkan sebagai tersangka  dijerat dengan tindak pidana Perbankan dan penipuan/tipu gelap, dan TPPU. Dan sebagai dimaksud dengan pasal 46 ayat (1) Jo pasal 16 UU RI Nomor 10 tahun 1998 tentang perubahan atas UU RI nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan. Ancaman hukuman sekurang kurangnya 5 tahun dan paling lama penjara 15 tahun serta denda sekurang kurangnya Rp.10 Miliar dan sebanyak banyaknya Rp.200 Miliar.

Menurut ahli dari saksi ahli Otoritas Jasa Keuangan (OJK), bahwa mereka yang sudah menghimpun dana dari masyarakat. Pada tindak pindana Perbankan ini berbunyi, barang siapa yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan tanpa izin usaha dari Pimpinan Bank Indonesia, adalah tindak pidana penipuan, dan disebut dengan Bank gelap. (feb)

Related Search

banner 468x60
Rate this article!
Tags:
author

Author: