banner 728x90

Mendambakan Damai dari Jakarta

banner 468x60

Pesta demokrasi pilkada serentak 2017 baru saja usai. Pilkada DKI Jakarta adalah muara dari ketegangan elektoral yang membuat polarisasi masyarakat ini. Dalam hitung cepat (quick count), semua lembaga survei memenangkan pasangan Anies-Sandi atas Basuki Ahok-Djarot. Indo Barometer misalnya menghitung 58,50 untuk Anies-Sandi dan 41,50 untuk Ahok-Djarot. Lembaga survei lain, Populi Center juga dimenangkan Anies-Sandi dengan perbandingan 58,20 persen-41,80 persen. Adapun Charta Politica, Anies-Sandi 57,72 persen, berbanding 42,28 persen untuk Ahok-Djarot.

banner 300x250

Hampir tidak mungkin kemenangan Anies-Sandi akan berubah. Dengan demikian, DKI Jakarta nyaris dipastikan akan memiliki pemimpin baru. Sebenarnya, DKI Jakarta hampir sama dengan provinsi lain yang mengikuti pilkada serentak. Hanya saja, dengan sistem yang agak berbeda, maka pilkada DKI Jakarta memiliki nuansa lain.

Salah satu yang mencolok adalah soal suara kemenangan yang harus dicapai sebesar 50 persen plus satu. Kondisi ini berbeda dengan pilkada lainnya yang tak menargetkan jumlah persentase tertentu. Peraih suara terbanyak otomatis jadi kepala daerah.

Kondisi khusus di daerah khusus ini tentu menyebabkan pilkada DKI Jakarta jadi berbeda. Makanya, muncul wacana pilkada DKI rasa pilpres. Ini pun masih ditambah dengan berbagai wacana, perang opini, hingga ketegangan yang sangat keras sebelum pilkada ini dimulai.

Bahkan beberapa hari menjelang pilkada putaran kedua ini, terjadi ketegangan yang berpotensi menimbulkan konflik horizontal. Terjadi ledakan “bom” di sebuah mobil pada pengajian. Masyarakat pun bergolak. Umat mulai marah, namun kemudian bisa menahan diri atas provokasi ini.

Belakangan, polisi menganggap itu bukan bom, melainkan molotov biasa. Tapi ketegangan dan isu yang beredar di media sosial makin melebar. Terjadi juga pengepungan terhadap rumah ketua ormas Islam oleh sekelompok massa. Belum lagi, ketegangan yang terjadi akibat pembagian uang, sembako, dan fasilitas lainnya yang dilakukan tim sukses salah satu calon. Informasi, video, dan rekamannya pun beredar di dunia maya dengan sangat massif.

Sepertinya memang sebagian anggota tim pasangan calon benar-benar menganggap pilkada DKI Jakarta ini sebagai “perang besar” yang harus dimenangkan. Bagaimanapun caranya. Semua sumber daya, sumber dana, dan seluruh potensi dikerahkan. Hanya saja, tentu tidak mudah mengubah suara rakyat apalagi dalam waktu singkat. Beberapa analis bahkan menganggap kampanye, debat, juga money politic yang dilakukan kandidat di sepekan terakhir, tak akan mempengaruhi elektabilitas. Suara rakyat sudah terkunci. Tak terpengaruh isu, uang, sembako, penggiringan opini, bahkan sikap tak netral perangkat penguasa.

Kini, rakyat Jakarta sudah menentukan pilihan. Kendati masih harus ada keputusan resmi dari KPU DKI Jakarta, tapi akan sangat sulit mencari pemenang lain selain yang sudah “ditetapkan” lembaga survei. Bersyukur juga, pihak yang kalah, dalam hal ini petahana, Ahok tak lagi sengotot sebelumnya, dan mengakui kekalahannya. Partai-partai pendukungnya pun bisa menerima kekalahan.

Anies-Sandi dan partai pendukungnya pun menyatakan bahwa kemenangan ini adalah kemenangan rakyat Jakarta. Rencana awalnya setelah dilantik jadi gubernur nanti adalah kembali mempersatukan warga Jakarta yang sudah telanjur terkotak-kotak, terpolarisasi, pecah kongsi, dan lainnya. Jakarta harus kompak, damai, dan sejuk. Kedamaian Jakarta akan menandakan kedamaian Indonesia. Sebab, tak sedikit warga daerah lain yang lebih antusias pada pilkada DKI Jakarta dibanding pilkada di daerahnya sendiri. Dengan meredanya tensi di Jakarta, mudah-mudahan Indonesia bisa lebih sejuk dan damai. Semoga***

Related Search

banner 468x60
Rate this article!
Tags:
author

Author: