banner 728x90

Mendidik Anak Dengan Kasih Sayang

banner 468x60

Oleh: Sadely Ilyas*
Pemerhati Pendidikan, tinggal di Tanjungpandan.

MENDIDIK dan memberi tuntunan kepada anak-anak merupakan sebaik-baiknya hadiah, dan perhiasan paling indah yang diberikan oleh orang tua, yaitu dengan nilai yang jauh lebih baik dari pada dunia dan isinya. Anak adalah mutiara bagi kehidupan orang tua di dunia. Sebab, di kalangan umat manusia (termasuk kaum Muslim di negeri kita), ketika kita bersilaturahim dengan sahabat, atau kawan dan kerabat apa yang ditanya setelah sekian lama tak bertemu. Yang terlontar adalah kalimat: sudah punya anak, atau cucu berapa? Ini artinya, anak merupakan generasi yang sangat penting untuk meluruskan silsilah orang tua.

banner 300x250

Namun demikian, yang kita tidak habis pikir, sampai hari ini, kita masih mendengar dan membaca dari mass media berbagai kasus tentang pelecehan dan kekerasan terhadap anak, baik itu dilakukan oleh guru, paman, bahkan oleh orang tuanya sendiri. Bentuknya beragam, mulai dari membentak, memukul, menelantarkan, hingga menyebabkan anak disakiti dan dibunuh. Bahkan yang paling keji adalah pembunuhan anak yang pelakunya adalah ibu kandungnya sendiri. Dosa apa gerangan negeri kita, dengan adanya fenomena semacam ini? Darah dagingnya sendiri disakiti, dan kemudian dibunuh secara keji.

Tidak ada pembenaran sama sekali, dan dengan argument apa pun, yang membolehkan kekerasan pada anak. Sehingga wajar bilamana pelaku kekersan mendapat hukuman berat sesuai aturan hukum yang berlaku di negeri ini.

Dalam agama Islam para orang tua diajarkan agar selalu mengayomi anak. “Muliakanlah anak-anakmu dan didiklah mereka dengan baik”, begitu Nabi Muhammad Saw bersabda. Kita ingat bagaimana Lukman Al-Hakim mendidik anak-anaknya agar menjadi manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT sehingga ‘tindakan (baca: tuntunan) yang baik terhadap anak-anaknya’ direkam Allah SWT dalam Kitab Suci Al-Qur’an, surat Lukman sebagai contoh kehidupan.

Orang tua sejatinya memberikan perlindungan penuh terhadap anak dari gangguan, ini malahan orang tua sendiri yang menjadi ancaman terhadap keberadaan anak. Agama Islam memberikan perhatian besar dalam masalah ini.

Kekerasan baik secara fisik atau non-fisik, kepada anak-anak sangat dilarang. Sebaliknya orang dewasa, terlebih orang tua menjadi contoh dan teladan terbaik bagi anak-anaknya. Orang tua juga wajib menanamkan perilaku ‘akhlaqul karima’ dan budi pekerti luhur sehingga anak menjadi pribadi yang takwa. Rasulullah Saw. telah memberikan teladan tentang kasih sayang kepada anak-anak. bahkan Nabi akhir zaman itu dijuluki sebagai “Bapak para anak yatim.”

Banyak kisah yang menguraikan besarnya Rasulullah Saw. kepada anak-anak. Sebagai contoh, suatu ketika Nabi Muhammad Saw harus memendekan bacaan sholat ketika mendengar anak menangis di dalam masjid yang di bawa oleh ibunya sholat berjamaah, sebagaimana sabdanya, “Sesungguhnya bila aku sedang sholat dan bermaksud memperpanjangnya, lalu aku dengar suara tangisan anak, maka terpaksa aku mempercepat sholatku karena aku menyadari bahwa ibunya pasti terganggu oleh tangisan anaknya itu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah Saw. juga pernah mengangkat anak yang jatuh di dekatnya ketika beliau sedang khotbah. Rasulullah pun selalu menghibur dan menggembirakan hati anak-anak. Bila datang seseorang membawa bingkisan berupa buah-buahan untuk beliau, maka yang pertama diberinya adalah anak-anak kecil yang kebetulan ada di majelis itu.

Salah seorang sahabat, Jabir bin Samurah, mengatakan, bahwa Rasulullah Saw. suka mengusap kepala anak-anak. Suatu ketika, dirinya pernah berjamaah bersama Rasulullah pada sholat Dzuhur. Seusai sholat, Rasulullah ke luar ke tempat keluarga Jabir, dia pun keluar mengikuti dari belakang. Tatkala sampai di rumahnya, Jabir terkagum-kagum menyaksikan Rasulullah Saw tampak menciumi anak-anak Jabir, dan mengusap kedua pipi mereka satu persatu.

Menyayangi anak adalah perintah agama, begitu juga Islam banyak mengajarkan kasih sayang kepada siapa saja; yang tua menyayangi yang muda, yang muda hormat kepada yang lebih tua. Hormat itu bukan saja kepada yang seiman (seagama), tetapi terhadap orang yang berbeda agama, yang disebut toleransi umat beragama.

Rasulullah Saw. telah mencontohkan bagaimana cara menyayangi anak, seperti membelai, menciuminya, bersikap lemah lembut dan belas kasihan, serta menahan maraj dan memaafkan anak-anak. Saking menghormati anak, Rasulullah Saw. memiliki cara tersendiri untuk memuliakan anak yaitu memanggil anak dengan “gelar” sebagai penghormatan. Menurut cerita, semasa kecilnya Anas r.a sering memetik sayur yang rasanya kecut dan agak masam, sedangkan sesuatu yang berasa kecut disebut hamiz. Dan sayur masam yang dipetik oleh Anas itu disebut ‘hamzah’, karena rasanya yang kecut. Karenanya, Rasulullah Saw. menjuluki Anas dengan sebutan sayuran yang biasa dia petik, yaitu Abu Hamzah. Selanjutnya Anas a.s. mengatakan, “Rasulullah telah menjulukiku dengan sebutan sayur yang dahulu sering kupetik” (HR at-Tirmizi). Ini membuktikan kedekatan Rasulullah Saw. dengan anak-anak di lingkungan tetangganya.

Orang tua sejatinya menyayangi anak, agar nanti tumbuh rasa kasih sayang itu pada diri anak. Allah akan mencabut sifat belas kasih apabila orang tidak menyayangi anak. Allah SWT mencintai kelembutan serta membenci kekerasan. “Tiada kuasa aku (menolong kamu) jika Allah telah mencabut sifat belas kasih dari hatimu” (HR Bukhari).

Islam menekankan agar umatnya saling berkasih sayang; kepada diri sendiri, kepada suami/istri, anak-anak, orang tua, dan sesama. Kasih sayang juga ditunjukkan kepada makhluk ciptaan Allah yang lain.

Saling menyayangi antara orang tua dengan anak-anak adalah agar mereka menjadi generasi sholeh dan solehah. Begitu halnya anak-anak hendaknya menyayangi orang tuanya sehingga terwujud keluarga sakinah, yang senantiasa diliputi kebahagiaan lahir batin.

Bagaimana menumbuhkan rasa dan sifat kasih sayang? Allah SWT memiliki sifat ar-Rahman (Maha Pengasih) dan ar-Rahim (Maha Penyayang). Bahkan Nabi Muhammad Saw. diutus untuk menebar rahmat dan ajaran Islam sendiri sebagai ‘rahmatan lil’alamin’ (rahmat bagi semesta alam). “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah” (QS Al-Ahzab: 21).

Sifat rahmat ada di dalam hati. Bila ia berkembang dengan subur maka seluruh anggota badan akan menunjukkan sikap terpuji. Bagaimana menyuburkan sifat rahmah dalam diri? Menurut para ulama tabi’in perbanyak zikir kepada Allah, mengkaji isi Al-Qur’an, karena ia menghidupkan hati manusia.

Bila tuntunan ini dihayati, kekerasan pada anak tentu tidak akan sering terjadi. Setiap orang tua wajib memberi rasa cinta yang tulus kepada anak-naknya, begitu juga para pendidik di sekolah-sekolah. Dengan begitu insya Allah dalam hati mereka akan terpatri, selalu teringat akan kasih sayang yang pernah mereka rasakan dari orang tuanya ketika masih kecil dan dari guru ketika mengenyam pendidikan di sekolah. Wallahu A’lam (*)

Related Search

banner 468x60
Rate this article!
Tags:
author

Author: