banner 728x90

Mengapa Mahasiswa Kita Enggan Menulis?

banner 468x60

Oleh: SADELY ILYAS*
Pemerhati pendidikan, pensiunan Guru, tinggal di Tanjungpandan

PRODUKTIVITAS mahasiswa dalam karya tulis, sering dikeluhkan oleh petinggi universitas atau perguruan tinggi, di mana mereka kuliah. Karena disinyalir, kegagalan mahasiswa meraih gelar kesarjanaan salah satunya adalah faktor skripsi berupa karya tulis ilmiah.

banner 300x250

HAL ini wajar terjadi, karena lembaga pendidikan tempat mereka menimba ilmu sejak dari sekolah dasar sampai ketingkat menengah sangat minus dengan kebiasaan membaca dan menulis. Sehingga produktivitas mahasiswa dalam karya tulis ilmiah menjadi ‘penghambat’ dalam persyaratan meraih gelar akademis tersebut.

Kehidupan mahasiswa sejatinya memiliki keterkaitan dengan produktivitas dalam tulis-menulis. Hal inilah, yang menjadi pertimbangan kebijaksanaan Mendikbud mengeluarkan surat edaran No: 152/R/T/2012 yang isinya mewajibkan mahasiswa dari semua jenjang untuk membuat karya tulis (ilmiah), dan karya tersebut harus dipublikasikan di dalam (majalah) – jurnal ilmiah atau surat kabar sebagai syarat kelulusan, disamping kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan di perguruan tinggi.

Dengan adanya kebijakan ini, mahasiswa didorong agar aktif dalam melakukan penelitian berdasarkan bidang ilmunya. Namun, dibalik tujuan yang mulia itu masih ada sedikit ganjalan yang berpotensi menggagalkan program ini, yang salah satu adalah ketersediaan jurnal ilmiah di setiap perguruan tinggi khsususnya yang juga masih dikatakan minim. Padahal, karya tulis ilmiah ini juga memiliki fungsi lain, yaitu sebagai representasi dari salah satu Tridarma Perguruan Tinggi berupa penelitian.

Di Negeri Laskar Pelangi ini ada 3 perguruan tinggi (Akademi Manegemen Belitung, Akademi Keperawatan, dan Sekolah Tinggi Darma Ghanesa), sementara dari dua surat kabar dan beberapa tabloid yang terbit di Tanjungpandan dan Manggar, sulit ditemukan tulisan mahasiswa kita. Di kalangan para pelajar di tingkat sekolah menengah pun demikian. Beberapa pakar pendidikan bahkan menyalahkan sekolah, karena tidak mampu memberikan kemampuan menulis bagi siswanya sehingga ketika telah menjadi mahasiswa mereka kesulitan membuat karya tulis ilmiah.

Sastrawan Taufik Ismail pernah berucap, bahwa “soal baca-tulis, di dunia pendidikan Indonesia sangat tertinggal. Sejak Indonesia merdeka, tradisi dua kegiatan penting itu tak tampak. Penyebabnya, kurikulum dan pengajaran bahasa dan sastra di sekolah kurang memberikan perhatian yang besar pada aktivitas baca-tulis”, ujarnya pada pembukaan Lomba Menulis Cerita tingkat SMA di Bogor, medio 2014 yang lalu.

Di sekolah guru memang sangat minim memberikan kemampuan menulis. Manurut Nana Jiwayana (2012), guru jarang sekali memberi siswa keleluasaan dalam berkreativitas, khususnya dalam menulis. Dalam proses belajar-mengajar malah yang diutamakan guru sering memberi mereka ceramah. Budaya menulis begitu minim kita berikan, sebaliknya budaya lisan (mendengarkan) selalu kita praktikan. Menurut pengajar Bahasa Indonesia ini, karena kebiasaan ini, siswa menjadi terbiasa sebagai objek yang hanya bisa mengekor; menjadi siswa yang pasif, otak dan kemampuannya untuk menulis (karya ilmiah, dan popular) menjadi tidak terasah.

Dalam dunia yang serba informasi sekarang, guru mesti mengubah kebiasaan mengajar kita yang tidak mengasah kemampuan siswa untuk menulis. Guru harus menjadikan siswa sebagai “subjek hidup” dan membimbingnya menjadi siswa kreatif dan mampu menuangkan pikiran/ide/gagasan ilmiahnya ke dalam bentuk tulisan; apakah itu tulisan ilmiah, popular, atau sastra.

Begitu pula terhadap siswa di suatu sekolah. Untuk menulis, bukanlah pekerjaan yang susah, jika seorang pelajar ingin memulainya. Jika di sekolah, dibiasakan menulis, tentu ketika di kampus ketika dihadapkan pada kewajiban membuat karya tulis sebagai syarat kelulusan, mungkin mahasiswa tidak akan sulit atau tidak dipandang sebagai penghambat untuk kelulusan mereka meraih gelar akademis.

Bagi seorang mahasiswa, jadikan menulis sebagai suatu kebiasaan. Setelah menjadi kebiasaan prioritaskan sebagai kebutuhan. Itulah kunci sukses menjadi seorang penulis, baik menulis sastra, karya ilmiah, dan lain-lain. Begitu ungkap Dr. Jamal Ma’mur Asmani, MA dalam suatu seminar kepenulisan beberapa waktu yang lalu. Penulis adalah seorang yang independen, tidak mau diintervensi oleh pihak luar, karena ia menulis dengan hati dan pikiran, mengekspresikan apa yang ada dalam sanubari dan pikirannya. Karena itu, ketika seseorang ingin menuliskan ide/gagasannya melalui media, apakah itu majalah, surat kabar, atau buku sekurang-kurangnya ada 5 syarat yang mesti dijalani:

  1. Rajin dan kuat bacaannya; Menulis pada, akikatnya adalah mengeluarkan isi pikiran, kalau isi kepala kosong maka tulisannya juga kosong, kalau sedikit juga sedikit, kalau banyak, juga banyak. Membaca buku, koran, majalah, mengikuti informasi di website (internet), membaca perilaku politisi, menonton secara seksama acara dialog dan berita di TV, adalah kegiatan yang harus dilakukan oleh penulis. Dari sinilah inspirasi datang. Cara menghindari kejenuhan membaca adalah: jadikan buku sebagai makanan, kalau makanan biasa adalah konsumsi jasmani, maka buku adalah makanan rohani, kalau tidak membaca rohani menjadi kering, tidak kaya ilmu, dan miskin inspirasi.
  2. Jadikan menulis sebagai kebutuhan; Motivasinya jangan materi, tapi kepuasan rohani, wahana ekspresi diri, dan sarana berdakwah.
  3. Semangat pantang menyerah; Tidak menggantungkan kesuksesan dari dimuatnya sebuah tulisan di koran, majalah, tapi proses yang terus dijalani; apa artinya dimuat sekali, lalu selesai, lebih baik tidak dimuat 500 kali, tapi terus berlatih, suatu saat ketika dimuat, banyak (penerbit) yang tertarik, karena Anda sudah lama berproses. Asmani menuturkan, dalam sebuah seminar Prof. Dr. Jalaludin Rakhmat (mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah – Jakarta) bercerita, di Barat pernah ada orang yang terus-menerus membuat artikel dan mengirimkannya ke berbagai media massa. Sayangnya, ribuan artikel yang ia buat, tak satu pun yang dimuat.

    Namun ia terus berkarya seakan tidak pernah mempedulikan apakah artikelnya diterbitkan atau tidak.
    Suatu hari ia mengirimkan artikelnya yang ke-1501 (sebut saja begitu), tak disangka artikelnya itu terbit di media ternama. Banyak orang yang memuji artikelnya, wajah baru tapi gaya penulisannya menarik dan padat. Akhirnya banyak media lain yang mengharapkan artikelnya. Ribuan artikel yang pernah dikembalikan oleh berbagai media massa, direvisi dan diketik ulang untuk dikirim kembali, ternyata hampir semuanya diterbitkan. Andaikan ia berhenti di artikel yang ke-1500, tentu ceritanya lain.

  4. Fokus pada spesialisasi ilmu yang dimiliki; Di tengah lautan spesialisasi saat ini, media pasti lebih memilih tulisan yang lebih mendalam kajiannya, baik keluasan literatur, ketajaman analisis, nuansa perbandingan, konklusi, dan tawaran solusinya. Dengan menekuni bidang kita (agama, sosial, budaya, sastra, politik, hukum, pendidikan), di samping kita akan menjadi pakar di bidang ini, tulisan kita juga semakin berbobot.
  5. Memahami visi media. Setiap Surat Kabar yang terbit, tentu membawa visi media yang berbeda. Begitu juga majalah; misi dan visi majalah yang satu akan berbeda dengan majalah yang lain.
    Syarat yang paling prinsip ketika ingin menjadi penulis adalah kemauan untuk menulis, kemudian terus berlatih menulis. Ini dibuktikan oleh para penulis senior seperti Arswendo Atmowiloto, Goenawan Muhammad, Mohammad Sobari, Andreas Harefa; mereka menekuni sendiri dunia tulis-menulis, tanpa sekolah untuk itu. “Berlatih, sembari melihat, memetik sendiri ilmu menulis usai membaca karya tulis orang lain”, begitu ungkap mereka. Dari kepiawaian para penulis ini, tidak seorang pun yang dititisi darah menulis dari orang tua.

Untuk menjadi penulis, semestinya seorang mahasiswa memiliki minat dan kemauan dulu. Jika kemauan sudah ada tinggal melatih diri, disamping sering membaca tulisan-tulisan orang lain. Menurut seorang penulis senior, kemampuan berhabasa Indonesia yang baik dan benar, pandai menggunakan sarana menulis, rajin dan tekun membaca, kemudian melatih diri untuk berbagai tulisan, adalah modal pertama seorang penulis. Siapapun dapat menjadi penulis, yang menghasilkan karya tulis ilmiah, apalagi ilmiah popular untuk konsumsi surat kabar/majalah asalkan ia mau berlatih secara serius. Mari kita bangun tradisi menulis di kalangan mahasiswa kita “urang Belitong”. Wallahu A’lam (*)

 

Related Search

banner 468x60
Tags:
author

Author: