banner 728x90

Menpar Arief Tunggu Aksi 100 Hari Pejabat Baru

menpar

 JAKARTA – Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya meminta para pejabat baru eselon III dan IV kementeriannya yang baru dilantik di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona Jakarta, Rabu (30/11) menerapkan Wonderful Indonesia Way (WIN-Way)). Arief memang getol membangun corporate culture di Kemenpar dengan istilah 3S atau solid, speed dan smart.

“Saya serius akan pantau dalam 100 Hari,” kata Arief.

Acara pelantikan kali ini cukup istimewa. Three in one alias tiga jadi satu.

Pertama, melantik pejabat eselon III dan IV. Lalu melantik Badan Otoritas Toba (BOT) pimpinan Ari Prasetyo yang akan mengelola kawasan Danau Toba di Sumatera Utara sebagai satu dari 10 Bali Baru.

Ketiga, melantik pengurus Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) periode 2016-2021 yang dipimpin Didien Djunaedi. Namun, pesan utamanya sama, yakni menekankan kembali pentingnya menjalankan WIN-Way atau Wonderful Indonesia Way.

Agar solid, bersatu padu dan kompak, maka harus menciptakan common enemy atau musuh bersama. “Kita sudah tetapkan, common enemy kita bersama. Musuh emosionalnya, Malaysia. Musuh profesional kita Thailand. Kalahkan mereka hingga betul-betul capaian kita mengalahkan mereka. Wisman Malaysia sudah di angka 25 juta, sedang Thailand 30 juta. Devisa kita setengah dari Malaysia dan seperempat Thailand. Seorang pemimpin tidak akan lelah sebelum targetnya tercapai,” kata Arief.

S yang kedua adala

h speed. Arief melihat selama ini kelambanan menjadi kelemahan yang paling mendasar dalam kinerja PNS. Lambat, lelet, dan banyak membuat aturan main yang justru menjerat-jerat program Kemenpar sendiri. Era digital saat ini, bukan yang besar memakan yang kecil, tetapi yang cepat memakan yang lemah.

“Singapura misalnya. Pada 2015, negeri sekecil itu bisa menarik kunjungan 15,2 juta wisatawan asing, hampir tiga kali lipat dari penduduknya, dan meraup USD 17,7 miliar  devisa dari sektor pariwisata pada 2014. Yang cepat menyalip yang lelet, bukan yang besar menginjak yang kecil,” papar alumnus Institut Teknologi Bandung itu.

Seorang pemimpin juga harus memberi contoh bekerja dengan cara yang Smart. Yakni harus pintar-pintar membuat bukit-bukit kemenangan atau quick win.

Memilih program 100 hari kerja  juga harus pintar agar dampaknya besar dan capaiannya tinggi. “Utamakan yang utama!” pintanya.

Sedangkan jurus smart dari Arief adalah berinovasi. Persaingan tak lagi dimenangkan dengan cara business as usual. Yang dikejar justru harus dengan cara yang tidak biasa.

“Berinovasi berarti kita menciptakan sesuatu yang sama sekali beda. Kata Prof. Chan Kim, penulis buku hebat Blue Ocean Strategy mengatakan kalau kita bisa menciptakan sesuatu yang sama sekali beda, maka kita bisa dengan mudah menghindari persaingan dan persaingan menjadi tidak relevan lagi. Atau dalam ungkapan bijak SunTzu, kita bisa memenangkan peperangan tanpa peperangan,” kata  Menpar.

Mantan Dirut PT Telkom ini juga menyebut promosi di Kemenpar kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Yakni menggunakan konsep 3C. Pertama, character dengan bobot 50 persen. Character itu menyangkut integritas atau kejujuran. Ini sangat penting dan jangan bermain-main.

Kedua competency. Seorang pejabat harus kompeten, paham akan persoalan yang bakal dihadapi, dan tahu bagaimana harus menyelesaikannya. Ingat pelajaran IFA atau imagine, focus dan action.

Imagine berarti punya mimpi besar dan bisa mewujudkan impiannya dalam kenyataan. “Maka, pemimpin yang hebat itu harus berawal dari akhir. Mau dibawa ke mana dan dibuat apa dulu, baru ditemukan cara menuju ke sana,” kata menteri asli kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur itu.

Fokus berarti mengerjakan yang utama dulu. Alokasikan seluruh waktu, tenaga, perhatian, budget dan sumber daya untuk menuntaskan pekerjaan yang utama terlebih dahulu.

Sedangkan action berarti terus berupaya mewujudkan mimpi agar tidak berhenti di konsep, tetapi sampai menjadi kenyataan.

C yang ketiga adalah collaboration. Bisa bekerja sama dengan pihak mana pun untuk mencapai tujuan utama Kemenpar. Yakni, menuju target 20 juta wisman di tahun 2019. Lalu di-breakdown setiap tahunnya, harus mencapai target di angka berapa banyak.

“Di sinilah perlu Indonesia Incorporation. Spirit bersama untuk Merah Putih, untuk Indonesia, maka harus bisa bersatu,” ujarnya.

WIN-Way sudah ditetapkan sebagai budaya kerja  di Kemenpar. Menpar menyebut WIN-Way sama dengan yang dilakukan IBM melalui IBM-Way, GE-Way di General Electrics, ataupun Telkom-Way di Telkom sebagai sebuah budaya kerja yang diciptakan untuk memenangkan persaingan.

“Kalau semuanya solid, speed, smart, dan bisa menjalin kerja sama yang padu dengan academician, business, government, community dan media, maka kemenangan itu hanya tinggal menunggu waktu,’’ katanya.

Sejumlah tips tadi langsung ‘membakar’ semangat GIPI. Ketua GIPI periode 2016 2021 Didien Junaedy mengaku sepakat dengan Menpar. Menurutnya, pemasaran pariwisata, pengembangan destinasi, dan percepatan peningkatan kuantitas dan kualitas sumber daya manusia (SDM)  harus dikejar dalam upaya majunya pariwisata Indonesia.

“Semuanya ini merupakan program kerja utama GIPI yang harus dicapai, serta fokus pada 10 destinasi prioritas yang ditetapkan pemerintah,” kata Didien.

Didien  mengatakan, sebagai implentasi dari program tersebut GIPI akan mengarahkan anggotanya dari kalangan asosiasi pariwisata seperti PHRI dan ASITA agar turut aktif mengembangkan dan menjual 10 destinasi prioritas tersebut, baik itu pembangunan hotel maupun penjualan paket-paket tour.

“Kami juga akan menggelar fam trip ke sejumlah destinasi tersebut, yang diikuti semua unsur pentahelix  anggota GIPI dengan ouput yang berbeda-beda. Seperti jurnalis akan menulis tentang destinasi tersebut, biro perjalanan akan membuat paket tour, dan pihak perhotelan akan menawarkan ke investor,” jelas Didien.

Hadir dalam pelantikan pejabat baru itu semua deputi Kemenpar, Ketua Tim Pokja 10 Top Destinasi Hiramsyah Sambudy Thaib, Ketua PHRI Haryadi Sukamdani, Ketua ASITA Asnawi Bahar, Ketua Tim Percepatan Wisata Halal Riyanto Sofyan, Ketua Tim Percepatan Ecotourism David Makes, Pemilik Hotel Rhadana Kuta Bali Rainier Daulay dan sejumlah pengurus industri dan asosiasi yang bergerak di sector pariwisata.(jpnn)

Related Search

author

Author: