banner 728x90

Menumbuhkan Budaya Literasi di Sekolah Oleh: Hj. Sri Budi Partini, S.Pd.

banner 468x60

“Budaya dibentuk karena suatu kebiasaan. Membudayakan membaca dan menulis harus ditanamkan sejak usia dini agar anak mengenal bahan bacaan dan menguasai dunia tulis-menulis. Melalui gerakan bersama dari seluruh elemen masyarakat, maka suatu saat gerakan literasi akan menunjukkan keberhasilan dalam menumbuhkan budaya membaca menulis yang pesat pada bangsa ini, sehingga kualitas sumber daya manusia Indonesia akan meningkat dan sejajar dengan negara maju di dunia”.

 

Budaya literasi dimaksudkan untuk melakukan kebiasaan berfikir yang diikuti oleh sebuah proses membaca, menulis yang pada akhirnya apa yang dilakukan dalam sebuah proses kegiatan tersebut akan menciptakan karya. Budaya dibentuk karena suatu kebiasaan. Membudayakan atau membiasakan untuk membaca, menulis itu perlu proses jika memang dalam suatu kelompok masyarakat kebiasaan tersebut memang belum ada atau belum terbentuk.
Secara kultural masyarakat kita belum mempunyai budaya literasi yang tinggi, hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) menyebut, budaya literasi masyarakat Indonesia pada tahun 2012 terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia. Indonesia menempati urutan ke 64 dari 65 negara tersebut. Data statistik UNESCO tahun 2012 menyebutkan indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. Oleh karena itu pendidikan berbasis budaya literasi merupakan salah satu aspek penting yang harus diterapkan di lembaga-lembaga sekolah guna memupuk minat dan bakat yang terpendam dalam diri mereka. Apalagi saat ini Indonesia masih menghadapi sindrom buta huruf yang kerapkali menjadi penghambat kemajuan pendidikan nasional sehingga dibutuhkannya strategi alternatif yang bisa dilakukan untuk menopang peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Kemajuan suatu bangsa tidak hanya bisa dibangun dengan bermodalkan kekayaan alam yang melimpah maupun pengelolaan tata negara yang mapan, melainkan berawal dari peradaban buku atau penguasaan literasi yang berkelanjutan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Penguasaan literasi dalam segala aspek kehidupan memang menjadi tulung punggung kemajuan peradaban suatu bangsa. Kita tidak mungkin menjadi bangsa yang besar, apabila hanya mengandalkan budaya oral yang mewarnai pembelajaran di hampir setiap lembaga pendidikan. Namun yang terjadi sekarang, budaya literasi sudah semakin ditinggalkan oleh generasi muda Indonesia. Ironi tingkat literasi kita yang semakin menurun, menunjukkan ketidakmampuan bangsa ini dalam mengelola sistem pendidikan yang mencerahkan dan memberdayakan bagi segenap anak bangsa yang potensial dan cerdas. Sudah saatnya, budaya literasi harus lebih ditanamkan sejak usia dini agar anak bisa mengenal bahan bacaan dan menguasai dunia tulis-menulis.
Sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan berperan sangat penting bagi pengembangan budaya literasi. Namun, secara umum kegiatan intelektual membaca dan menulis belum menjadi budaya di sekolah, yang notabene merupakan sebuah komunitas akademik, kegiatan membaca dan menulis di kalangan guru maupun siswa masih rendah.
Karena itu, Pemerintah melalui Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 menyadari pentingnya penumbuhan karakter peserta didik melalui kebijakan membaca selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai atau dikenal dengan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Gerakan Literasi Sekolah yang diadakan bertujuan untuk menumbuhkan minat baca tulis peserta didik, dan meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik, serta mengasah kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis, analitis, kreatif, dan inovatif. Peserta didik didorong untuk menunjukkan keterlibatan pikiran dan emosinya dengan proses membaca melalui kegiatan produktif secara lisan maupun tulisan. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik. Namun untuk menyukseskan rencana besar ini, tidak bisa instant dan bersifat temporary, dibutuhkan suatu pembiasaan yang harus terus menerus dilakukan sejak usia dini serta sinergitas seluruh elemen masyarakat.
Pendidikan berkualitas menjadi kebutuhan penting di era persaingan global yang kian kompetitif. Untuk menjadikan dunia pendidikan berkualitas, tentu sangat banyak faktor yang berkaitan dan saling mempengaruhi. Salah satu upaya meningkatkan budaya literasi (membaca dan menulis) di sekolah adalah dengan membuat Pojok literasi di kelas. Pojok Literasi atau Sudut Baca Kelas adalah suatu sudut atau tempat lain yang strategis di dalam kelas yang digunakan untuk menata buku atau sumber belajar lainnya dalam rangka meningkatkan minat baca dan belajar peserta didik melalui kegiatan membaca yang menyenangkan. Pembuatan Pojok Literasi atau Sudut baca kelas bertujuan untuk mengenalkan peserta didik kepada beragam sumber bacaan berupa buku cerita, hasil karya peserta didik dan guru, komik, koran, majalah anak, kliping, dan sumber belajar lainnya untuk dimanfaatkan sebagai media, sumber belajar, serta memberikan pengalaman membaca yang menyenangkan. Pojok Literasi juga merupakan upaya mendekatkan perpustakaan ke peserta didik demi mendukung keberhasilan proses pembelajaran. Siswa di minta untuk membuat dan menghias sendiri pojok literasi setiap kelasnya dari bahan-bahan yang sederhana, dengan demikian anak anak lebih bersemangat untuk menjalani kegiatan pojok literasi.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat dan mendisain Pojok Literasi, yakni (1) Buatlah pojok literasi/sudut baca semenarik mungkin yang dibuat dari bahan sederhana seperti bambu dan lainnya hingga memancing anak untuk gemar membaca; (2) Buatlah jadwal 15 menit sebelum belajar dimulai siswa diberitugas untuk membaca dan mencatat kesimpulan atau ringkasn cerita yang dibaca;buku bacaan yang dipajang pada pojok literasi/sudut baca harus beragam seperti bacaan mengenai dongeng, cerita rakyat, kisah nabi, komik, novel, cerpen, koran, majalah anak, kliping dan sumber belajar lainya; (3) Buatlah daftar buku seperti nama buku, nama pengarang dan penerbit yang tersedia di susdut baca; (4) Buatlah jurnal mulai dari nama siswa, hari dan tanggal mulai buku dibaca, judul buku yang dibaca, mulai dibaca dari halaman berapa dan sampai halaman berapa, kemudian jangan lupa paraf dari guru; (5) Berikan hadiah berupa pujian atau apa saja tergantung dari guru kepada siswa yang bacaannya paling banyak.
Menumbuhkan Budaya Literasi di lingkungan sekolah bukan pekerjaan gampang, tapi bukan berarti kita diam dan tidak melakukan apa-apa. Selain membuat pojok literasi, upaya menumbuhkan budaya literasi di sekolah bisa dikembangkan dengan berbagai kegiatan menarik yang bisa membuat guru dan siswa bisa terlibat langsung di dalamnya. Berikut cara-cara yang dapat ditempuh untuk menumbuhkan budaya literasi di lingkungan sekolah: (1) Mengikuti berbagai perlombaan. Sekolah secara aktif melibatkan guru/siswa mengadakan/mengikuti berbagai perlombaan (menulis artikel, menulis cerpen, menulis dan membaca puisi, berpidato dll) yang diadakan secara periodik baik oleh sekolah atau instansi lainnya; (2) Mengadakan pameran buku. Sekolah membuat program tahunan untuk memamerkan buku hasil karya guru, siswa atau dari penerbit lainnya; (3) Mengadakan kegiatan bedah buku. Sekolah membuat program bekerja sama dengan penulis buku untuk mengadakan kegiatan bedah buku; (4) Pengadaan buku bacaan yang bekualitas. Sekolah membuat program untuk membeli buku-buku yang dapat menginspirasi guru dan siswa; (5) Kunjungan ke pameran buku. Sekolah membuat program tahunan untuk mengajak siswa berkunjung ke pameran buku; (6) Kunjungan ke perpustakaan daerah. Sekolah membuat program agar para siswa bisa berkunjung ke perpustakaan daerah setempat; (7) Kunjungan ke penerbit buku terdekat. Sekolah membuat program agar para siswa dapat berkunjung ke salah satu penerbit buku terdekat dari sekolahnya; (8) Challenge. Sekolah membuat program tantangan membaca buku kepada guru dan siswa misalkan yang berhasil membaca 100 buku dalam setahun maka akan mendapatkan reward; (9) Writing contest dan penerbitan buku. Sekolah membuat lomba menulis buku bagi guru dan siswa, bagi para pemenang bukunya akan diterbitkan pihak sekolahnya; (10) Reading Award. Sekolah memberikan reward kepada siswa/guru yang rajin membaca di perpustakaan, pojok literasi kelas terbaik dan Guru/siswa yang berhasil menerbitkan buku.
Memang menumbuhkan budaya literasi di sekolah tidak mudah, mengingat canggihnya teknologi saat ini, ketertarikan anak-anak kepada media elektronik lebih besar daripada kepada buku, kemudian waktu anak lebih banyak dihabiskan di depan televisi dibandingkan untuk membaca. Kita tidak boleh terpuruk. Bangun budaya membaca dan menulis di sekolah. Sekolah seyogyanya mengambil peran penting menyiapakan generasi gemar membaca dan menulis. Melalui gerakan bersama dari seluruh elemen masyarakat, maka suatu saat gerakan literasi ini akan menunjukkan keberhasilan dalam menumbuhkan budaya membaca menulis yang pesat pada bangsa ini, sehingga kualitas sumber daya manusia Indonesia akan meningkat dan sejajar dengan negara maju di dunia. Menumbuhkan budaya literasi bukanlah urusan perorangan dan suatu lembaga, tetapi urusan kita semua. Mulailah dari sekarang.*

banner 300x250

*Hj.Sri Budi Partini, S.Pd lahir di Manggar Belitung Timur, 09 Mei 1962. Memulai karir pertama sebagai guru di salah satu SMP Negeri di Cianjur, kemudian setelah enam tahun bertugas di Cianjur, penulis pindah ke salah satu SMP Negeri di Kabupaten Bandung. Tahun 2015 penulis bergabung menjadi salah satu guru Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Gantung. Pendidikan terakhir penulis adalah S1 Pendidikan bahasa dan sastra di STKIP Siliwangi Bandung. Penulis juga aktif di forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran(MGMP) Belitung Timur. Penulis yang mempunyai hobi membaca ini bertempat tinggal di Dusun Padang 1 Rt.05 Rw.03 Kecamatan Manggar Kabupaten Belitung Timur 33511, bisa dihubungi melalui email: partinisribudi62@gmail.com

 

Related Search

banner 468x60
Tags:
author

Author: